Jemaat GMS Manado Alami Gejala Keracunan Makanan

Wabah Keracunan Makanan Guncang Jemaat GMS Manado: Gejala Seragam, Kondisi Membaik

Manado, Sulawesi Utara – Serangan dugaan keracunan makanan menggemparkan jemaat Gereja Mawar Sharon (GMS) Manado. Peristiwa yang terjadi pada Jumat, 16 Januari 2025, sore, ini diduga menyebabkan puluhan jemaat mengalami gejala yang identik, menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Sedikitnya 94 orang dilaporkan terdampak dalam kegiatan Prayer Conference yang diselenggarakan oleh gereja yang berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi, Bahu, Kota Manado.

Para korban segera dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan di Manado untuk mendapatkan penanganan medis. Rumah sakit yang merawat para jemaat tersebut antara lain RSUP Kandou, RS Pancaran Kasih, RSUD Provinsi Sulawesi Utara (ODSK), dan RS Siloam.

Gejala Seragam: Sakit Kepala, Pusing, Hingga Muntah

Menurut penuturan Direktur RS GMIM Pancaran Kasih Manado, dr. Maria Koagow, M.Kes., para korban menunjukkan gejala klinis yang sangat serupa. “Mereka semua mengaku mengalami sakit kepala hebat, pusing, mual, dan muntah-muntah,” ujar dr. Maria kepada awak media pada Minggu, 18 Januari 2026. Gejala-gejala ini menjadi indikator kuat adanya keracunan makanan yang meluas di kalangan jemaat yang hadir.

Dr. Maria Koagow memastikan bahwa kondisi belasan korban yang masih menjalani perawatan intensif kini berangsur membaik. Ia merinci bahwa pada saat kejadian, sebanyak 44 orang dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) RS Pancaran Kasih. Namun, setelah pemeriksaan awal, hanya 14 orang yang memerlukan rawat inap. Sebagian besar korban lainnya diizinkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis dan dinyatakan cukup stabil.

“Sebagian besar minta pulang. Setelah diperiksa, diberi obat, boleh pulang,” jelas dr. Maria. Ia menambahkan bahwa 14 pasien yang dirawat inap ditempatkan di beberapa ruangan berbeda di Paviliun Ribka, Ester, Sara, dan Filipi. “Mungkin hari ini sudah ada yang pulang,” tambahnya dengan nada optimis.

Kisah Pasien: Dari Dugaan Asam Lambung hingga Kenyataan Keracunan

Suasana di Paviliun Ester RS Pancaran Kasih pada Sabtu, 17 Januari petang, terlihat tenang. Lorong-lorong paviliun yang dilapisi keramik putih memancarkan kesan sejuk. Di salah satu ruang perawatan terbuka, terdapat dua tempat tidur yang terisi pasien. Salah satunya adalah AV, yang akrab disapa Avil.

Ini adalah hari kedua Avil dirawat setelah mengalami gejala keracunan pada hari sebelumnya. Di tempat tidur sebelahnya, seorang mahasiswi Fakultas Teknik Unsrat tengah menjalani infus, ditemani ibunya. Wajahnya tampak pucat dan matanya menunjukkan kelelahan, namun ia bersyukur kondisinya membaik dan berharap segera dapat pulang.

Avil menceritakan bahwa ia dan jemaat lainnya mengikuti Prayer Conference sejak Jumat pagi. Musibah ini terjadi setelah makan siang yang agak terlambat, sekitar pukul satu siang. Panitia kegiatan telah menyediakan konsumsi berupa “nasi kotak” dengan pilihan menu nasi daging sapi dan nasi dengan lauk tuna, sayur kacang panjang, serta tahu tempe.

Setelah menyantap hidangan, acara dilanjutkan. Tak lama kemudian, Avil mulai merasakan ada yang tidak beres pada tubuhnya. “Kepalanya pusing, terasa sakit,” tuturnya. Awalnya, ia menduga bahwa asam lambungnya kambuh, mengingat ia sedang dalam masa ritual doa dan puasa. Namun, dugaan itu segera sirna ketika sakit kepala semakin tak tertahankan.

“Saya kemudian muntah-muntah,” ungkap Avil. Ia kemudian menyadari bahwa teman-temannya di ruang konferensi juga mengalami gejala serupa. Suasana yang tadinya khidmat berubah menjadi gaduh karena banyak jemaat yang merasakan sakit. Keluhan pusing dan muntah-muntah melanda banyak peserta, sehingga mereka segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Penanganan Medis dan Investigasi Lanjutan

Kejadian ini sontak menimbulkan kepanikan dan perhatian serius dari pihak berwenang. Polresta Manado telah mengonfirmasi jumlah total korban dugaan keracunan makanan mencapai 94 orang. Pihak kepolisian dan dinas kesehatan setempat tengah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti keracunan ini, termasuk pemeriksaan sampel makanan yang dikonsumsi oleh para jemaat.

Pihak gereja GMS Manado sendiri menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden ini dan berjanji akan bekerja sama sepenuhnya dengan pihak berwenang untuk mengungkap akar permasalahan. Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan yang optimal hingga pulih sepenuhnya.

Dugaan keracunan makanan ini menjadi pengingat penting akan pentingnya kehati-hatian dalam penyajian makanan, terutama dalam acara yang melibatkan banyak orang. Inspeksi higienitas dan kualitas bahan makanan menjadi krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Komunitas GMS Manado berharap agar seluruh jemaat yang terdampak dapat segera pulih dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Pos terkait