Kebakaran Landa Bekas Pabrik Sarung Tangan di Deli Serdang, Asap Tebal Kepul Hiasi Langit
Deli Serdang, Sumatera Utara – Sebuah insiden kebakaran hebat melanda area bekas pabrik sarung tangan di Desa Dalu XA, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, pada Minggu, 18 Januari 2026. Peristiwa ini sontak menimbulkan kepanikan dan kehebohan di kalangan warga dua desa bertetangga, yaitu Desa Dalu XA dan Desa Dalu XB, akibat gumpalan asap hitam pekat yang membubung tinggi hingga terlihat dari kejauhan.
Pabrik yang dulunya dikenal dengan nama perusahaan Mahakarya ini diketahui telah berhenti beroperasi lebih dari satu dekade lalu. Sejak ditutup, fasilitas pabrik tersebut dilaporkan hanya dijaga pada malam hari. Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan, namun berdasarkan keterangan beberapa warga, api diduga berasal dari tumpukan sampah bekas limbah perusahaan yang telah lama menumpuk dan sebagian tertutup rumput liar.
“Ada bekas ban alat berat juga makanya tebal kali asapnya. Tumpukan tumpukan limbah sampah yang terbakar itu,” ujar Rian, salah seorang warga yang menyaksikan kejadian tersebut.
Kondisi lokasi pabrik yang terbengkalai dan ditumbuhi semak belukar semakin menambah kerumitan dalam penanganan kebakaran. Berdasarkan pantauan di lokasi saat peristiwa terjadi, akses masuk ke dalam area pabrik sangat dibatasi. Pintu gerbang besi ditutup rapat, dan hanya orang-orang tertentu, termasuk warga sekitar yang memiliki akses terbatas, yang diizinkan masuk. Jarak dari gerbang utama menuju titik api diperkirakan mencapai 80 meter. Area pabrik tersebut tampak kumuh dan dipenuhi vegetasi liar.
Respons Cepat Petugas Pemadam Kebakaran
Meskipun lokasi kejadian cukup terpencil dan akses terbatas, tim pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran setempat menunjukkan respons yang sigap. Dua unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi sekitar pukul 08.40 WIB. Kurang dari 15 menit setelah kedatangan petugas, api yang sempat berkobar berhasil dijinakkan.
Kejadian kebakaran ini menarik perhatian ratusan warga yang berbondong-bondong mendatangi area depan pabrik. Rasa penasaran dan kekhawatiran mendorong mereka untuk menyaksikan langsung peristiwa tersebut, terutama karena asap hitam yang begitu tebal terlihat jelas dari kediaman mereka.
Dugaan Adanya Unsur Kesengajaan
Kepala Desa Dalu XA, Sugianto, membenarkan bahwa pabrik tersebut telah lama tutup, diperkirakan sekitar 15 tahun. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari penjaga pabrik, Sugianto menduga adanya unsur kesengajaan dalam peristiwa kebakaran ini.
“Ini di dalam perusahaan tapi sudah nggak ada penghuninya. Bangunan sudah habis semua. Ada tumpukan tumpukan (bekas limbah). Yang jaga juga gak tau kenapa bisa terbakar. Arus listrik juga gak ada, tempat semak semak, bambu bambu terus pohon liar. Nggak ada yang lain cuma busa busa banyak ini,” ungkap Sugianto.
Dugaan ini diperkuat oleh kondisi lokasi kebakaran yang merupakan area rimbun dan dipenuhi semak belukar, serta keberadaan tumpukan limbah yang mudah terbakar. Tidak adanya aliran listrik di area tersebut semakin memperkuat spekulasi bahwa api tidak berasal dari korsleting listrik.
Dampak dan Kondisi Lokasi
Kebakaran di bekas pabrik sarung tangan ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran warga akan dampak lingkungan dari asap yang dihasilkan, tetapi juga menyoroti kondisi aset-aset yang terbengkalai dan berpotensi menimbulkan bahaya. Tumpukan limbah yang menggunung, termasuk material seperti ban bekas alat berat dan busa, menjadi bukti nyata potensi risiko kebakaran yang dapat terjadi sewaktu-waktu di area tersebut.
Pihak berwenang diharapkan dapat melakukan investigasi lebih mendalam untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang. Selain itu, penataan ulang atau pembersihan area bekas pabrik yang terbengkalai juga perlu menjadi perhatian agar tidak menjadi sumber ancaman bagi keselamatan warga sekitar.
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan aset yang telah tidak terpakai, terutama yang berpotensi menimbulkan risiko lingkungan dan keselamatan.






