Kisah Nur Sahati: Patahkan Rantai Nikah Dini dan Kemiskinan Anak TKI dengan Pendidikan Tinggi

Inspirasi dari Perbatasan: Cita-cita Seorang Anak TKI di Magetan



Saat berbicara tentang masa depan, Suara Nur Sahati Sahara, adik kelas XI IPS SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan, Jawa Timur, terdengar begitu optimistis. Ia bercita-cita untuk kuliah di Universitas Hasanuddin (Unhas) Kota Makasar Sulawesi Selatan dengan jurusan Psikologi. Meski masih ada 1 tahun lagi untuk mewujudkan cita-citanya, ia tak mau berpangku tangan.

Selain rajin belajar, kegiatan ekstrakurikuler seperti English Club, menghafal Al Quran hingga berkuda juga ia ikuti. “Dari dulu saya ingin menjadi psikolog. Senang bisa memahami permasalahan orang lain dan membantu,” ujarnya di ruang tamu SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan, Minggu (25/1/2026).

Tak hanya ingin menjadi psikolog, pemilik nama Nur Sahati yang artinya cahaya satu hati juga memiliki rencana lain jika cita-cita kuliah di Unhas tak terwujud. Remaja 6 bersaudara tersebut ingin kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Jogja yang dengan jurusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

“Saya tidak ingin berhenti sekolah. Saya juga ingin mengajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar yang sulit diakses. Seperti guru-guru saya dulu,” imbuhnya.

Kehidupan di Tengah Lading Sawit

Sulitnya akses pendidikan bagi anak TKI menjadi cerita yang sangat dikenal oleh Sahara. Ia lahir pada tahun 2008 di Sabah, Malaysia, di sebuah kawasan perkebunan sawit. Orang tuanya bekerja sebagai tukang kayu yang membuat rumah bagi pekerja migran Indonesia di lading sawit tersebut.

Membantu perekonomian membuat kedua orang tua merantau sejak tahun 1998. Hingga kini kedua orang tua masih bekerja di Negara Bagian Sabah tersebut. “Orang tua masih bekerja di sana bersama 2 adik saya,” ucapnya.

Sahara tumbuh sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Satu kakaknya saat ini kuliah di Yogyakarta. Kakak kedua memilih bekerja di Balikpapan untuk meringankan beban ekonomi keluarga dan satu adiknya saat ini bersekolah di Jawa Tengah dengan fasilitas beasiswa dari program Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Program tersebut merupakan inisiatif pemerintah Indonesia bagi anak-anak WNI dari Sabah dan Sarawak yang ingin melanjutkan pendidikan di Tanah Air.

Pengalaman Bersekolah di CLC

Sahara mengaku menghabiskan masa kecil dan remajanya di Community Learning Center (CLC), sekolah formal bagi anak-anak TKI di Sabah. Dari kelas 3 SD hingga kelas 9, ia belajar di CLC yang berdiri jauh dari gambaran sekolah ideal. Jumlah guru sangat terbatas.

“Dulu saya hanya punya tiga guru. Mereka mengajar semua kelas, dari SD sampai kelas 9,” katanya. Salah satu guru yang memberikan inspirasi untuk tetap sekolah lebih tinggi di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan di tengah ladang sawit adalah Pak Adi Arkono. Ia merupakan seorang guru Indonesia yang mengabdi dengan sepenuh hati menanamkan pentingnya sekolah bagi mereka.

Perjuangan Keluarga dan Harapan Masa Depan

Di balik keteguhan Sahara, ada pesan keras dari ayahnya yang meski hanya lulusan SD, namun dia mendorong seluruh anaknya untuk bisa menggapai sekolah yang lebih tinggi. “Bapak saya pernah melarang kakak pertama saya berhenti sekolah karena demi membantu ekonomi keluarga. Bapak bilang, biar bapak saja yang kerja. Kalian fokus sekolah,” kenangnya haru.

Prinsip itu dipegang teguh oleh seluruh anak-anak dalam keluarga. Pendidikan menjadi satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan dan kerja kasar di lading sawit di Sabah Malaysia.

Program ADEM dan Kesempatan Pendidikan

Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 2018, Gebya melanjutkan perjuangan dengan mendampingi siswa ADEM Repatriasi di Jawa Timur. SMA IIS PSM Magetan, merupakan sekolah yang menjadi salah satu mitra penempatan siswa dari Sabah.

Di Jawa Timur saja, tercatat sekitar 90 siswa ADEM Repatriasi yang tersebar di belasan sekolah negeri dan swasta, termasuk Ngawi, Jember, Madiun, dan Magetan. Tak hanya Adem, anak TKI yang orang-orang tuanya bekerja di Sabah Malaysia juga bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi melalui program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK), di mana kuotanya terbatas hanya sekitar 100 orang.

Program ini memutus rantai pernikahan dini di lingkungan pekerja ladang sawit di Sabah. Anak-anak punya alasan yang kuat untuk menolak dinikahkan dan memilih sekolah. Dengan pendidikan, mereka memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.

Pos terkait