Ringkasan Berita: Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 8 Halaman 167
Soal dan kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 8 halaman 167 membahas tentang menemukan unsur-unsur dalam puisi berjudul “Pada Sebuah Kedai Kopi”. Dalam materi ini, siswa diminta untuk menganalisis berbagai elemen puisi seperti larik, bait, rima, imaji, diksi, dan gaya bahasa. Tujuan dari kunci jawaban ini adalah sebagai referensi dan panduan belajar bagi siswa agar dapat memahami materi dengan lebih baik.
Kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 8 halaman 167 Kurikulum Merdeka dirancang untuk membantu siswa membandingkan jawaban mereka dengan jawaban yang benar. Hal ini bertujuan agar kesalahan dapat diperbaiki dan pemahaman terhadap materi semakin meningkat. Latihan tersebut terdapat dalam buku Bahasa Indonesia kelas 8 yang diterbitkan oleh Kemendikbudristek pada tahun 2021, dalam Bab 5 yang berjudul “Menciptakan Puisi”.
Bahasa Indonesia Kelas 8 Halaman 167
Sekarang cermatilah puisi “Pada Sebuah Kedai Kopi” dan temukanlah unsur-unsur puisi tersebut.
Pada Sebuah Kedai Kopi
Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas siang
Ketika engkau datang dengan kantong belanjaan
Bermerek toko sepatu terkenal
Kau meminta maaf karena sudah datang terlambat
Katamu kau punya urusan penting tidak bisa ditunda
Aku melihat merek di kantong belanjaanmu
Kau membeli sepatu, itu lebih penting bagimu
Aku duduk di kedai kopi ini sejak pukul sembilan
Sejak semalam aku berpikir tentang kau dan aku
Aku teman masa kecilmu
Dulu kita sering bermain bersama
Sepanjang hari mengerjakan apa saja
Tapi sekarang semua berbeda
Kau lebih suka berbicara hal yang dulu
tak pernah ada
Aku tidak tahu,
Apakah aku masih sahabatmu
Pertemuan kita tidak lebih penting dari sepatumu
Jawaban:
Larik (Baris)
Contoh: “Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas siang” adalah larik pertama.Bait
Bait adalah kesatuan beberapa larik. Puisi ini ditulis dalam satu kesatuan utuh (satu bait panjang), namun secara makna bisa dikelompokkan.
Contoh: Kelompok larik 1–8 membahas tentang kejadian di kedai kopi saat si “kau” datang membawa belanjaan.Rima (Persajakan)
Rima adalah persamaan bunyi. Karena ini puisi kontemporer, rimanya tidak beraturan (bebas).
Contoh (Rima tak sempurna): > “Aku teman masa kecilmu”Imaji (Citraan)
Imaji membantu pembaca seolah melihat, mendengar, atau merasakan apa yang diceritakan.
Imaji Penglihatan: “Kantong belanjaan bermerek toko sepatu terkenal”. (Pembaca seolah-olah melihat kantong belanjaan tersebut).Diksi (Pilihan Kata)
Penyair memilih kata-kata yang lugas untuk membangun suasana kecewa yang “dingin”.
Contoh: Kata “Urusan penting”. Penulis memilih kata ini untuk dikontraskan dengan kata “sepatu”. Ini menunjukkan bahwa bagi si “kau”, belanja sepatu dianggap sebagai urusan penting, padahal bagi si “aku”, itu hanyalah alasan.Majas atau Gaya Bahasa
Gaya bahasa digunakan untuk memperdaham makna dan memberikan efek emosional.
Majas Ironi (Sindiran): > “Kau membeli sepatu, itu lebih penting bagimu”





