Laba BREN Melonjak 2,2 T: Inilah Pendorongnya

Kinerja Cemerlang PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) di Tahun 2025: Laba Bersih Tumbuh Didorong Pendapatan dan Efisiensi

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), sebuah entitas yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu, mengumumkan kinerja keuangan yang impresif sepanjang tahun 2025. Perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 132,19 juta, yang setara dengan Rp 2,21 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 8,26% dibandingkan periode sebelumnya, di mana laba bersih yang dicapai adalah US$ 122,10 juta.

Peningkatan laba bersih ini tidak lepas dari dua faktor utama: kenaikan pendapatan dan keberhasilan dalam menekan biaya pendanaan. Sepanjang tahun 2025, BREN mencatatkan total pendapatan sebesar US$ 605,18 juta. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 596,82 juta, menunjukkan pertumbuhan pendapatan year on year (yoy) yang stabil.

Pendapatan BREN secara garis besar ditopang oleh beberapa lini bisnis utamanya. Kontribusi terbesar berasal dari penjualan listrik yang mencapai US$ 291,2 juta. Selain itu, penjualan uap turut menyumbang signifikan sebesar US$ 123,7 juta. Pendapatan dari sewa operasi juga menjadi sumber pendapatan penting dengan nilai US$ 147,8 juta, ditambah dengan pendapatan sewa pembiayaan sebesar US$ 42,3 juta.

Dari sisi kesehatan finansial, neraca keuangan perusahaan menunjukkan performa yang solid. Total aset BREN tercatat sebesar US$ 3,87 miliar. Sementara itu, perusahaan berhasil menekan total liabilitasnya menjadi US$ 2,98 miliar, mengindikasikan pengelolaan utang yang lebih efisien.

Ekspansi Panas Bumi yang Agresif dan Penguatan Kapasitas

CEO Barito Renewables, Hendra Soetjipto Tan, mengungkapkan bahwa tahun 2025 menjadi periode yang penuh pencapaian strategis bagi perusahaan. Salah satu tonggak penting adalah penyelesaian proyek retrofit di Salak. Proyek ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga memperkuat kapasitas energi panas bumi perusahaan melalui kontribusi dari Unit Binary Salak.

Meskipun diakui bahwa segmen pembangkit tenaga angin menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibandingkan tahun sebelumnya, Hendra menekankan bahwa aset panas bumi BREN tetap menjadi tulang punggung kinerja perusahaan. Produksi listrik dari sumber panas bumi yang stabil menjadi penopang utama dalam menghadapi dinamika pasar energi.

Lebih lanjut, Hendra menyoroti pentingnya disiplin dalam pengelolaan biaya dan optimalisasi utang. Upaya ini berhasil menurunkan beban bunga, yang secara langsung berdampak pada peningkatan margin keuntungan dan profitabilitas perusahaan. “Kami tetap fokus untuk melanjutkan proyek-proyek ekspansi serta memperkuat portofolio kami,” tegas Hendra, menegaskan komitmen BREN terhadap pertumbuhan berkelanjutan.

Kinerja Operasional dan Proyek Strategis

Efisiensi operasional BREN tercermin dari pencapaian EBITDA sebesar US$ 518 juta dengan margin EBITDA yang mengesankan, yaitu mencapai 85,6%. Angka ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya operasional secara efektif.

Proyek retrofit Salak yang berhasil diselesaikan pada kuartal III 2025 memberikan tambahan kapasitas baru sebesar 7,7 megawatt (MW). Kapasitas ini bahkan melampaui ekspektasi awal yang ditetapkan. Jika digabungkan dengan Unit Binary Salak, total kapasitas terpasang bruto pembangkit listrik panas bumi yang dikelola BREN pada akhir 2025 mencapai 910 MW. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 24 MW atau sekitar 2,7% secara tahunan.

Tidak berhenti di situ, BREN juga menunjukkan komitmennya dalam eksplorasi sumber daya baru. Perusahaan telah menyelesaikan pengeboran dua sumur eksplorasi di prospek Hamiding pada Desember 2025. Hasil eksplorasi ini mengkonfirmasi potensi sumber daya panas bumi yang signifikan, diperkirakan mencapai 55–60 MW. Langkah ini merupakan bagian dari strategi ekspansi panas bumi jangka panjang perusahaan.

Proyek Mendatang dan Target Kapasitas 1 GW

Selain penyelesaian proyek yang sudah berjalan, BREN juga terus menggarap proyek-proyek strategis lainnya. Proyek retrofit Wayang Windu telah selesai pada kuartal I 2026, yang diharapkan dapat lebih meningkatkan kinerja pembangkit listrik secara keseluruhan.

Ke depan, BREN akan melanjutkan pengembangan dua proyek penting: Salak Unit 7 dan Wayang Windu Unit 3. Kedua unit ini ditargetkan untuk mulai beroperasi secara komersial pada akhir tahun 2026. Dengan rampungnya kedua proyek ini, kapasitas energi panas bumi yang dikelola oleh BREN diproyeksikan akan melampaui angka 1 gigawatt (GW). Ekspansi ini menegaskan posisi BREN sebagai pemain kunci dalam industri energi terbarukan di Indonesia.

Pos terkait