Lansia Korban Kebakaran Panti Damai: Dua Lansia Tanpa Keluarga, RSUD Manado Ungkap Kondisi

Nasib Para Lansia Pasca Kebakaran Panti Werdha Damai Manado: Perawatan, Trauma, dan Harapan Baru

Tragedi kebakaran yang melanda Panti Werdha Damai di Ranomuut, Manado, Sulawesi Utara, pada Minggu, 28 Desember 2025, meninggalkan duka mendalam dan pertanyaan tentang nasib para penghuninya. Insiden mengerikan ini tidak hanya merenggut nyawa puluhan lansia, tetapi juga meninggalkan luka fisik dan psikologis bagi mereka yang berhasil selamat. Hingga kini, sejumlah pasien masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Manado, berjuang memulihkan diri dari trauma dan luka yang diderita.

Kondisi Terkini Pasien di RSUD Manado

Dari total 16 pasien yang sempat menjalani perawatan di RSUD Manado pasca-kebakaran, sepuluh di antaranya masih membutuhkan penanganan medis lebih lanjut. Direktur RSUD Manado, dr. Hesky Lintang, menjelaskan bahwa para pasien diterima secara bertahap, dengan total 14 pasien pertama kali tiba, disusul dua pasien lainnya.

“Total pasien yang kami rawat ada 16 orang. Awalnya masuk 14, lalu masuk lagi dua,” ungkap dr. Hesky.

Dalam proses perawatan, satu pasien dengan riwayat penyakit jantung sempat dirujuk ke RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou. Namun, setelah mendapatkan perawatan intensif, pasien tersebut telah diizinkan pulang dan kembali berkumpul bersama keluarganya. Selain itu, empat pasien lainnya juga telah pulih dan dijemput oleh keluarga masing-masing.

Di antara sepuluh pasien yang masih dirawat, Ang Soei Lan menjadi salah satu yang mengalami luka bakar cukup parah, mencapai sekitar 40 persen dari luas tubuhnya. Meskipun demikian, kondisinya terus membaik berkat penanganan medis yang komprehensif. “Kalau yang lain sebenarnya kondisinya cukup baik, hanya terganggu pola tidurnya karena trauma,” tambah dr. Hesky, merujuk pada gangguan pola tidur yang umum dialami para korban akibat guncangan psikologis pasca-bencana.

Dua Lansia Tanpa Keluarga: Tanggung Jawab Siapa?

Fakta yang mengejutkan terungkap dari penuturan dr. Hesky, yaitu bahwa dua lansia yang kini menjalani perawatan di RSUD Manado ternyata tidak memiliki keluarga. Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai siapa yang akan bertanggung jawab atas perawatan lanjutan mereka. Pihak rumah sakit saat ini tengah berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mencari solusi terbaik bagi kedua lansia tersebut, memastikan mereka mendapatkan perawatan dan perlindungan yang layak pasca-trauma kebakaran.

Kisah Kevin Supit: Urus Jenazah Opa dengan Hati

Di tengah duka dan kepedihan pasca-kebakaran, muncul kisah haru dari Kevin Supit (24). Ia menjadi sosok yang berdiri teguh mengurus jenazah opa tirinya, Herry Lombogia (70), salah satu korban tewas dalam insiden tersebut. Kevin mendedikasikan waktunya untuk memastikan opa kesayangannya mendapatkan penghormatan terakhir, mulai dari identifikasi jenazah, persiapan peti mati, hingga penyelesaian administrasi rumah sakit.

Kevin mengungkapkan betapa dekatnya ia dengan sang opa yang telah membesarkannya sejak kecil. Kepergian Herry Lombogia terasa seperti kehilangan sosok orang tua sekaligus pelindung. “Saya dibesarkan opa,” ucap Kevin lirih, dengan mata berkaca-kaca. Ia tak mampu menahan air matanya saat menyampaikan pesan mendalam kepada masyarakat: “Kalau kalian masih punya orang tua, urus mereka. Jangan titipkan di panti, selama masih mampu.”

Alasan Kevin tak bisa mengurus opa secara langsung adalah karena ia hanya seorang pekerja kos yang tidak memiliki tempat tinggal memadai. Ia juga sempat terkejut mengetahui opanya ternyata berada di panti werdha, karena sebelumnya ia mengira sang opa hanya dirawat di rumah sakit akibat stroke. Kevin mengaku sempat kehilangan kontak dengan opanya, namun ia tetap rajin mengunjunginya di panti. Kabar duka justru ia terima melalui media sosial, yang memicu kepanikan dan upaya keras untuk mengidentifikasi jenazah opanya. Keberhasilan identifikasi berkat kalung yang dikenakan sang opa, yang dikenali Kevin, menjadi titik terang di tengah kegelapan.

Empat Jenazah Teridentifikasi, Proses DNA Lanjutan

Polda Sulawesi Utara berhasil mengidentifikasi empat dari 16 jenazah korban kebakaran Panti Werdha Damai. Keempat korban yang telah teridentifikasi adalah:

  • Herry Lombogia (70) dari Kelurahan Winangun Satu, Kecamatan Malalayang, Manado.
  • Jansen Maringka (65) dari Kelurahan Ranotana, Kecamatan Sario.
  • Oli Klara Kemur (85) dari Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua.
  • Merry Baramuli Dengah (83) dari Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua.

Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Alamsyah P. Hasibuan, melalui Kabid Dokkes Kombes Pol Tasrif, menjelaskan bahwa identifikasi dilakukan dengan mencocokkan data ante mortem dari keluarga dan post mortem dari hasil penyelidikan. Jenazah keempat korban ini akan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Sementara itu, proses identifikasi 12 jenazah lainnya masih berlangsung, melibatkan pemeriksaan DNA yang diperkirakan memakan waktu dua minggu.

Lima Fakta Penting Kebakaran Panti Werdha Damai

Tragedi ini mengungkap sejumlah fakta penting yang patut menjadi perhatian:

  1. Dugaan Awal Sumber Api dan Ketiadaan Penjaga: Api diduga berasal dari bagian belakang bangunan dan menyebar dengan cepat. Kesaksian warga dan penghuni menyebutkan bahwa sistem keamanan panti dinilai buruk, jalur evakuasi terbatas, dan yang paling mengkhawatirkan, tidak ada penjaga malam pada saat kejadian, hanya dua juru masak. Panti tersebut juga dilaporkan tidak memiliki alat pemadam api ringan.
  2. Proses Evakuasi yang Dramatis: Para lansia yang terjebak diselamatkan dengan cara dioper melewati pagar dan dinding samping panti oleh relawan, warga, dan petugas pemadam kebakaran. Proses ini berlangsung dramatis, penuh kepanikan, dan tangis haru, di mana banyak lansia yang lemah harus dibopong keluar dari kepungan api dan asap pekat.
  3. Daftar Korban Selamat: Sebanyak 16 penghuni berhasil diselamatkan dan kini menjalani perawatan di RSUD Manado. Daftar nama mereka adalah sebagai berikut:
    • Ibu Olfa Sumual (76 tahun) – Ketua / Pengurus Panti Werda
    • Oma Rike Kaligis (73 tahun)
    • Oma Meiske Merke (60 tahun)
    • Opa Christian Yusuf (52 tahun)
    • Opa Petrus Fredy (83 tahun)
    • Oma Stien Walelenh (80 tahun)
    • Oma Chia Chin Hin (92 tahun)
    • Oma Olin Kopalit (61 tahun)
    • Opa Joppy Wahani (70 tahun)
    • Opa Paulus Kaonang (70 tahun)
    • Oma Jetty Kandou (86 tahun)
    • Oma Stien Gerungan (70 tahun)
    • Oma Yutindam (70 tahun)
    • Oma Kean She Poe (68 tahun)
    • Oma Rolin Rumeen (64 tahun)
    • Oma Lao Kim Hoa (73 tahun)
  4. Kesaksian Oma Rolin: Mujizat Keselamatan: Oma Rolin (64), yang mengalami stroke dan berjalan dengan tongkat, menceritakan pengalamannya selamat dari kobaran api sebagai sebuah mujizat. Ia mengaku tidak tahu dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk berjalan keluar kamar di tengah api dan asap. Meski selamat, ia berduka atas kehilangan teman dekatnya yang tidak berhasil tertolong.
  5. Ketukan Pintu Penyelamat Ci Hoa: Lao Kiem Hoa (73), atau Ci Hoa, selamat berkat ketukan keras di pintu kamarnya. Penjaga panti, Om Inyo, dengan panik memperingatkannya untuk segera keluar. Meski dalam kondisi renta dan hanya bisa berjalan menggunakan walker, Ci Hoa dibantu oleh Jhony, seorang penatua panti, yang menggendongnya keluar dari area berbahaya.

Tragedi ini menjadi pengingat yang sangat pahit akan pentingnya peningkatan sistem keselamatan, kesiapsiagaan, dan perhatian terhadap fasilitas sosial yang menaungi kelompok rentan. Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam merawat lansia, serta perlunya dukungan dari pemerintah dan masyarakat bagi mereka yang tidak memiliki keluarga.

Pos terkait