Libur Tahun Baru 2026: Pantai Kelapa Warna Lebak Sepi, Kunjungan Anjlok 70%

Pantai Kelapa Warna Lebak Sepi Pengunjung, Pengelola Keluhkan Penurunan Drastis

Memasuki hari ketiga libur Tahun Baru 2026, destinasi wisata Pantai Kelapa Warna yang terletak di Panyaungan, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, terpantau sepi pengunjung. Kondisi ini sangat kontras dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana periode libur akhir tahun biasanya menjadi puncak keramaian.

Pantai Kelapa Warna, yang berjarak sekitar 98,3 kilometer dari Alun-alun Rangkasbitung dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam 37 menit, menawarkan suasana yang masih asri. Ribuan pohon kelapa membentang di sepanjang pesisirnya, menciptakan pemandangan yang menyejukkan. Keunikan pantai ini juga diperkaya dengan berbagai spot foto estetis, termasuk ikon populer berupa miniatur Menara Eiffel yang sengaja dibuat oleh warga setempat untuk menarik minat wisatawan.

Namun, pantauan di lokasi pada Sabtu (3/1/2026) sore menunjukkan pemandangan yang berbeda. Hanya segelintir pengunjung yang terlihat menikmati keindahan pantai. Fasilitas tempat duduk yang disediakan untuk menikmati suasana pantai pun banyak yang kosong. Kendaraan roda dua maupun roda empat yang terparkir juga terhitung sedikit, menandakan minimnya kedatangan wisatawan.

Koharudin, selaku pengelola wisata Pantai Kelapa Warna, membenarkan kondisi sepinya pengunjung yang telah berlangsung sejak pertengahan Desember 2025, bertepatan dengan dimulainya libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Penurunan Jumlah Pengunjung yang Signifikan

Koharudin mengungkapkan kekhawatirannya terkait penurunan jumlah pengunjung yang drastis. “Pengunjung yang datang sekarang ini sepi, malah dari tanggal 25 Desember awal memasuki libur Nataru,” ujarnya dengan nada prihatin.

Ia merinci, total pengunjung yang tercatat di Pantai Kelapa Warna sejak tanggal 25 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026 hanya mencapai 570 orang. Angka ini sangat jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

  • Hari Pertama Tahun Baru 2026:
    • Jumlah wisatawan yang datang hanya 105 orang.
    • Koharudin membandingkan, “Kalau tahun lalu hari pertama itu membeludak, tapi tahun ini turun banget.”
  • Hari Sabtu (3 Januari 2026):
    • Jumlah pengunjung tercatat sebanyak 115 orang.
    • “Hari ini hanya 115 orang yang datang, padahal hari Sabtu masih suasana libur Nataru,” tambahnya.

Secara keseluruhan, Koharudin memperkirakan kunjungan wisatawan pada periode Nataru 2025/2026 mengalami penurunan sekitar 70 persen dibandingkan dengan periode Nataru 2024/2025. Penurunan ini berdampak langsung pada kebutuhan tenaga kerja. “Dulu kita rekrut tenaga kerja sampai 55 orang, sekarang cuma 10 orang,” keluhnya.

Faktor Penyebab Sepinya Pengunjung

Ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab utama menurunnya minat wisatawan untuk berkunjung ke Pantai Kelapa Warna. Koharudin menyebutkan beberapa kemungkinan, di antaranya:

  1. Cuaca Ekstrem:

    • Kabar mengenai cuaca ekstrem, termasuk isu tsunami, beredar di grup WhatsApp.
    • “Kita dapat di grup WhatsApp adanya cuaca yang sangat tinggi dan isu tsunami,” ungkapnya.
    • Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi calon wisatawan.
  2. Curah Hujan Tinggi:

    • Selain isu cuaca ekstrem, hujan yang terus-menerus juga diduga menjadi faktor penghambat.
    • “Tapi mungkin bisa juga faktornya karena hujan terus-menerus,” tambahnya.

Koharudin juga menambahkan bahwa kondisi sepi pengunjung ini tidak hanya dialami oleh Pantai Kelapa Warna, tetapi juga oleh hampir semua tempat wisata di wilayah Lebak Selatan. “Temen-temen penggiat wisata Lebak Selatan mejalani hal yang sama. Karena kami selalu update laporan terkini dari masing-masing destinasi wisata,” jelasnya.

Harapan untuk Dukungan Pemerintah

Menyikapi kondisi ini, Koharudin menyampaikan harapannya kepada pemerintah daerah agar lebih aktif dalam mempromosikan destinasi wisata yang ada di Kabupaten Lebak, khususnya di wilayah Lebak Selatan.

“Harapannya bisa lebih giat mempromosikan khususnya di Lebak Selatan,” pintanya.

Selain itu, ia juga memohon dukungan fasilitas dari pemerintah daerah. “Dan lainya, kami mohon support fasilitas yang ada di Kelapa Warna ini,” ucapnya. Koharudin menekankan bahwa meskipun pengelola wisata ini merupakan pelaku usaha kecil, mereka tetap membayar pajak. Namun, hingga kini belum pernah ada fasilitas yang diberikan oleh Pemerintah Daerah kepada mereka.

Kondisi ini juga berdampak pada jumlah petugas Balawista (petugas penyelamat pantai) di Pantai Kelapa Warna. “Ada dua orang, kalau dulu bisa lima sampai tujuh orang petugas Balawista di sini. Ya karena tadi itu sepi,” katanya, menjelaskan penurunan jumlah petugas seiring dengan sepinya pengunjung.

Dengan adanya dukungan promosi yang lebih baik dan perhatian terhadap fasilitas, diharapkan Pantai Kelapa Warna dan destinasi wisata lainnya di Lebak dapat kembali bangkit dan menarik lebih banyak pengunjung di masa mendatang.

Pos terkait