Lonjakan Harga Pangan Jelang Hari Raya: 15 Komoditas Mengalami Kenaikan di 20 Maret 2026
Menjelang perayaan hari besar keagamaan yang biasanya ditandai dengan peningkatan permintaan pangan, kondisi pasar pada Jumat, 20 Maret 2026, menunjukkan tren kenaikan harga yang signifikan pada sebagian besar bahan pangan pokok. Data terbaru menunjukkan bahwa 15 dari 16 komoditas yang dipantau mengalami kenaikan harga dibandingkan hari sebelumnya. Satu-satunya komoditas yang harganya relatif stabil adalah kedelai impor.
Meskipun tidak mengalami kenaikan, harga kedelai impor pada hari tersebut tercatat Rp 13.263 per kilogram. Angka ini telah melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp 12.000 per kilogram. Fenomena ini mengindikasikan adanya tekanan pada pasokan atau tingginya biaya produksi yang berdampak pada harga di tingkat konsumen.
Kenaikan harga yang paling mencolok secara harian terjadi pada komoditas cabai merah besar. Komoditas ini melonjak 1,9 persen, mencapai Rp 50.756 per kilogram. Harga ini juga berada di atas rentang HAP yang ditetapkan, yaitu antara Rp 37.000 hingga Rp 55.000 per kilogram. Tingginya harga cabai merah besar ini tentu akan membebani rumah tangga, terutama bagi mereka yang mengandalkan cabai sebagai bumbu utama dalam masakan sehari-hari.
Berikut adalah rincian lengkap bahan pangan yang mengalami kenaikan harga pada Jumat, 20 Maret 2026:
Kenaikan Harga Bahan Pangan Pokok
- Beras Medium: Mengalami kenaikan sebesar 0,12 persen, dengan harga mencapai Rp 13.694 per kilogram. Meskipun kenaikannya tergolong kecil, peningkatan harga beras selalu menjadi perhatian utama masyarakat.
- Beras Premium: Menyusul beras medium, harga beras premium juga sedikit terkerek naik sebesar 0,05 persen, menjadi Rp 15.353 per kilogram. Perbedaan harga antara medium dan premium tetap terjaga, namun kedua jenis beras ini menunjukkan tren kenaikan.
- Gula Pasir Curah: Komoditas gula pasir curah mencatat kenaikan harga sebesar 0,16 persen, dengan harga jual mencapai Rp 18.051 per kilogram. Kenaikan ini bisa berdampak pada industri makanan dan minuman yang menggunakan gula sebagai bahan baku utama.
- Minyak Goreng Sawit Kemasan Premium: Minyak goreng jenis ini mengalami kenaikan sangat tipis, yaitu 0,02 persen, sehingga harganya menjadi Rp 21.269 per liter.
- Minyak Goreng Sawit Curah: Harga minyak goreng curah juga mengalami kenaikan kecil sebesar 0,04 persen, menjadi Rp 18.913 per liter.
- Minyakita: Produk minyak goreng yang dikenal terjangkau ini juga tidak luput dari kenaikan, meskipun sangat kecil, yaitu 0,01 persen. Harganya tercatat Rp 15.877 per liter.
- Daging Sapi Paha Belakang: Harga daging sapi paha belakang mengalami kenaikan sebesar 0,32 persen, mencapai Rp 144.335 per kilogram. Kenaikan ini menambah beban pengeluaran rumah tangga untuk protein hewani.
- Daging Ayam: Komoditas protein hewani lain yang juga mengalami kenaikan adalah daging ayam. Harganya naik 1,26 persen, menjadi Rp 42.903 per kilogram.
- Telur Ayam: Telur ayam, sebagai sumber protein yang relatif terjangkau, juga terpantau naik 0,17 persen, dengan harga Rp 31.375 per kilogram.
- Tepung Terigu: Harga tepung terigu mengalami kenaikan tipis sebesar 0,10 persen, menjadi Rp 12.450 per kilogram.
- Cabai Merah Keriting: Selain cabai merah besar, cabai merah keriting juga mengalami kenaikan harga sebesar 1,55 persen, mencapai Rp 47.522 per kilogram.
- Cabai Rawit Merah: Komoditas cabai rawit merah mencatat kenaikan harga sebesar 0,69 persen, dengan harga Rp 84.409 per kilogram. Harga cabai rawit merah ini tergolong sangat tinggi, menunjukkan adanya kelangkaan atau masalah pasokan yang serius.
- Cabai Merah Besar: Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, komoditas ini mengalami kenaikan harga terbesar secara harian, yaitu 1,90 persen, menjadi Rp 50.756 per kilogram.
- Bawang Merah: Harga bawang merah naik sebesar 0,65 persen, dengan harga jual Rp 41.406 per kilogram.
- Bawang Putih Honan: Komoditas bawang putih honan juga mengalami kenaikan harga sebesar 0,44 persen, menjadi Rp 36.649 per kilogram.
Analisis dan Implikasi
Kenaikan harga yang terjadi secara serentak pada berbagai komoditas pangan ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya inflasi pangan, terutama menjelang perayaan hari besar yang biasanya diikuti dengan peningkatan konsumsi. Beberapa faktor yang mungkin berkontribusi terhadap kenaikan ini antara lain:
- Faktor Musiman: Peningkatan permintaan menjelang hari raya seringkali tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai, sehingga mendorong harga naik.
- Biaya Produksi: Kenaikan harga pada komoditas seperti kedelai impor bisa jadi dipengaruhi oleh biaya produksi yang meningkat, termasuk biaya logistik dan bahan baku.
- Kondisi Cuaca dan Iklim: Gangguan pada rantai pasok akibat faktor cuaca atau bencana alam di daerah produsen juga dapat memicu lonjakan harga, terutama untuk komoditas pertanian seperti cabai dan bawang.
- Distribusi dan Rantai Pasok: Efisiensi dalam rantai distribusi dari petani ke konsumen memainkan peran penting. Hambatan atau inefisiensi dalam proses ini dapat menyebabkan harga jual akhir menjadi lebih tinggi.
Pemerintah perlu segera melakukan intervensi untuk menstabilkan harga pangan, salah satunya melalui operasi pasar atau memastikan ketersediaan pasokan yang memadai. Pengawasan ketat terhadap praktik penimbunan atau spekulasi harga juga perlu ditingkatkan untuk melindungi konsumen dari lonjakan harga yang tidak wajar. Stabilitas harga pangan sangat krusial untuk menjaga daya beli masyarakat dan mencegah gejolak sosial.





