Lutesha: Mars, Tantangan, dan Pelangi

Lutesha Ungkap Tantangan Unik di Balik Perannya sebagai Astronot di “Pelangi di Mars”


Dunia perfilman Indonesia kembali menyajikan karya inovatif dengan hadirnya film “Pelangi di Mars”. Dalam film yang berlatar belakang masa depan ini, aktris Lutesha didapuk memerankan karakter seorang astronot, sebuah peran yang menghadirkan serangkaian tantangan baru baginya. Berbeda dengan proyek akting sebelumnya, Lutesha harus beradaptasi dengan penggunaan teknologi Extended Reality (XR) yang mendominasi proses syuting film ini.

Teknologi XR, yang menggabungkan dunia nyata dengan elemen virtual, menuntut para aktor untuk memiliki tingkat imajinasi yang lebih tinggi. Lutesha menjelaskan, “Sebagai aktor, ini cukup menantang, karena biasanya kita langsung berada di set (lokasi syuting), bisa berinteraksi langsung dengan properti, dengan latar belakangnya, bahkan dengan lawan main yang ada di sana.”

Namun, dalam produksi “Pelangi di Mars”, sebagian besar adegan direkam di dalam studio, dengan latar belakang yang diciptakan secara digital dan bergerak. Hal ini memaksa Lutesha dan para aktor lainnya untuk lebih mengandalkan imajinasi mereka. “Meskipun di belakang ada background yang bergerak, tetap saja untuk eye line (arah pandang mata) dan imajinasi, kita harus bekerja ekstra keras,” tuturnya.

Lutesha memberikan gambaran konkret mengenai tuntutan imajinasi tersebut. Ia harus membayangkan keberadaan objek-objek di sekitarnya yang tidak hadir secara fisik saat syuting. “Ya, kita harus membayangkan ada pesawat yang lewat dari situ ke situ, kita harus membayangkannya saja. Memang daya imajinasinya harus diasah,” ungkapnya, menekankan pentingnya melatih kemampuan visualisasi dalam situasi syuting yang tidak konvensional.

Kostum Astronot: Ujian Fisik dan Mental Lutesha

Selain tantangan teknis dalam penggunaan XR, Lutesha juga menghadapi kesulitan yang signifikan terkait kostum astronot yang harus dikenakannya. Kostum tersebut ternyata tidak hanya berat, tetapi juga sangat membatasi pergerakan, sebuah aspek yang krusial bagi seorang astronot yang harus bergerak lincah di lingkungan luar angkasa.

“Salah satu tantangan terberatnya adalah kostumnya,” aku Lutesha. “Jujur, kostumnya sangat ketat, berat, dan memiliki banyak detail kecil seperti pelindung siku, lutut, terutama helm. Helmnya pun dilengkapi dengan kipas angin di dalam agar tidak terasa pengap.”


Keterbatasan gerak dan rasa pengap yang ditimbulkan oleh kostum tersebut menjadi hambatan tersendiri. Lebih lanjut, Lutesha mengungkapkan bahwa suara lawan mainnya terkadang sulit terdengar saat ia mengenakan helm. “Jadi, ya, cukup sulit. Tantangannya ada di situ,” katanya, menggambarkan kompleksitas yang harus diatasi demi menghidupkan karakternya dengan meyakinkan.

“Pelangi di Mars”: Sebuah Kisah Harapan di Planet Merah

Film “Pelangi di Mars” tidak hanya mengandalkan teknologi dan penampilan para aktornya, tetapi juga menyajikan narasi yang kuat dan relevan. Selain Lutesha, film ini turut dibintangi oleh Keinaya Messi Gusti, Rio Dewanto, dan Livi Renata. “Pelangi di Mars” telah tayang di bioskop sejak 18 Maret 2026.


Berlatar belakang tahun 2100, film ini membawa penonton ke Planet Mars, tempat di mana seorang gadis berusia 12 tahun bernama Pelangi (diperankan oleh Keinaya Messi Gusti) menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh. Kehidupan Pelangi di Mars tidaklah mudah. Ia harus bertahan hidup di sana setelah ditinggalkan oleh ibunya, dengan ditemani oleh sekelompok robot.

Bersama para robot setianya, Pelangi memimpin sebuah misi krusial. Misi tersebut bertujuan untuk menemukan Zeolith Omega, sebuah mineral langka yang diyakini memiliki kemampuan luar biasa untuk memurnikan air. Penemuan Zeolith Omega menjadi harapan terakhir bagi kelangsungan hidup umat manusia di Bumi, yang mungkin menghadapi krisis air di masa depan. Film ini, dengan segala tantangannya, diharapkan dapat memberikan pengalaman sinematik yang tak terlupakan sekaligus pesan tentang ketahanan dan harapan.

Pos terkait