Bencana Banjir Bandang Hancurkan Masjid Bersejarah di Bireuen, Warga Cari Lokasi Baru yang Aman
Bencana banjir bandang yang melanda Desa Cot Meurak Blang, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, pada akhir Desember 2025 lalu, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat setempat. Masjid Jamik Al Mabrur, sebuah bangunan bersejarah yang telah berdiri puluhan tahun, dilaporkan hancur total akibat terjangan arus sungai yang dahsyat. Tak hanya masjid, meunasah yang berada dalam satu kawasan kompleks juga lenyap tanpa sisa, menyisakan puing-puing dan kepiluan bagi warga.
Kondisi Memilukan di Lokasi Kejadian
Pantauan di lokasi pada Senin, 29 Desember 2025, menggambarkan kondisi yang sangat memilukan. Bangunan masjid yang kokoh kini nyaris tak berbentuk. Yang tersisa hanyalah patahan beton, rangka bangunan yang berserakan, dan puing-puing yang tersebar di area bekas masjid. Area tersebut kini telah dipasangi garis polisi, menandakan betapa parahnya kerusakan yang terjadi. Pintu gerbang besi masjid, satu-satunya saksi bisu kekuatan bangunan, berhasil diamankan oleh warga dan kini tergeletak di pinggir jalan desa.
Salah satu elemen paling dramatis dari kehancuran ini adalah nasib kubah masjid, yang oleh warga setempat dijuluki “boh labu”. Kubah ikonik ini ditemukan terseret arus hingga sejauh kurang lebih 200 meter di aliran Sungai Krueng Batee Iliek. Jarak antara pondasi masjid yang semula kokoh berdiri dengan dasar sungai kini diperkirakan mencapai lebih dari tiga meter. Aliran sungai yang sebelumnya tenang kini melebar drastis, arusnya pun masih terlihat deras, seolah mengukuhkan kekuatannya yang menghancurkan segalanya.
Cerita Pilu dari Panitia Masjid
Badruddin, salah seorang panitia masjid, menceritakan kronologi kejadian dengan nada prihatin. Ia menjelaskan bahwa bangunan masjid yang telah berdiri puluhan tahun ini memiliki konstruksi permanen. Namun, kekuatan alam tampaknya tak terbendung ketika banjir besar melanda pada Rabu hingga Kamis, 26–27 Desember 2025.
“Bangunan masjid hanya tersisa sedikit di bagian barat, selebihnya habis dibawa banjir. Meunasah juga tidak ada lagi. Peralatan desa seperti belanga, piring, dan perlengkapan lainnya ikut hanyut,” ungkap Badruddin, menggambarkan betapa seluruh fasilitas yang ada ikut menjadi korban.
Sejak masjid hancur lebur, warga Desa Cot Meurak Blang terpaksa mengalihkan kegiatan ibadah mereka. Salat Jumat, yang merupakan momen penting bagi umat Islam, kini dilaksanakan di masjid yang berlokasi di kompleks dayah terdekat. Kondisi ini tentu saja menambah beban moril bagi masyarakat yang kehilangan pusat keagamaan dan kebersamaan mereka.
Harapan Baru di Lokasi Aman
Menghadapi kenyataan pahit ini, masyarakat Desa Cot Meurak Blang tidak tinggal diam. Setelah bermusyawarah, mereka memutuskan untuk membangun kembali masjid di lokasi yang berbeda, yang dianggap lebih aman dari ancaman banjir. Rencananya, masjid baru akan didirikan di seberang jalan atau di sebelah barat dari lokasi masjid lama.
“Tanah wakaf seluas 50 x 50 meter sudah tersedia,” ujar Badruddin, menunjukkan adanya persiapan awal untuk pembangunan. Namun, ia menekankan bahwa tantangan terbesar kini adalah bagaimana menggerakkan kembali semangat pembangunan. “Kami sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah maupun para dermawan,” katanya, menyuarakan harapan untuk dukungan dari berbagai pihak.
Badruddin juga menambahkan fakta yang mengejutkan mengenai perubahan lanskap akibat banjir. Sebelumnya, jarak antara masjid dengan sungai mencapai sekitar 300 meter. Namun, kini, lokasi bekas masjid lama telah berubah menjadi bagian dari alur sungai akibat tergerus oleh arus banjir yang sangat kuat.
Nilai Sejarah dan Budaya yang Terancam
Keuchik Mideun Jok, Faisal, menambahkan perspektif mengenai dampak banjir bandang yang terjadi sebulan sebelumnya. Banjir tersebut tidak hanya merusak masjid dan meunasah, tetapi juga merendam banyak fasilitas umum dan rumah warga dengan ketinggian lumpur rata-rata mencapai sekitar 80 sentimeter. Namun, Masjid dan meunasah Desa Cot Meurak Blang menjadi bangunan yang paling parah terdampak.
Faisal, yang juga merupakan tokoh masyarakat setempat, menekankan bahwa masjid tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Warga bahkan menyebutnya sebagai Masjid Tuha, yang berarti masjid tua, karena diyakini telah berdiri ratusan tahun dan menjadi pusat ibadah serta pendidikan bagi masyarakat selama bergenerasi.
“Masjid ini bukan sekadar bangunan. Ini sejarah, martabat, dan kenangan dari generasi ke generasi. Banyak ulama pernah mengajar di sana,” ungkap Faisal dengan penuh emosi, menggambarkan betapa berharganya warisan ini bagi komunitas mereka.
Tak jauh dari lokasi masjid, meunasah yang selama ini berfungsi sebagai tempat pengajian anak-anak dan musyawarah warga juga mengalami nasib serupa. Kerusakan parah dan hilangnya meunasah ini semakin menambah duka dan kehilangan bagi masyarakat Desa Cot Meurak Blang. Kini, harapan tertumpu pada upaya pembangunan kembali, dengan harapan dapat memulihkan tidak hanya bangunan fisik, tetapi juga semangat kebersamaan dan nilai-nilai sejarah yang telah tertanam selama ini.






