Potensi Gempa Besar di Indonesia Akibat Aktivitas Megathrust
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan terkait adanya potensi gempa besar yang bisa terjadi akibat aktivitas megathrust di Indonesia. Tiga zona rawan utama yang disebutkan adalah Mentawai-Siberut, Selat Sunda-Banten, dan Sumba. Ketiga wilayah ini diketahui belum melepaskan energi tektonik selama ratusan tahun.
Ancaman ini menuntut kewaspadaan yang tinggi dari masyarakat dan pemerintah. Jika benar-benar terjadi, maka langkah-langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini untuk meminimalkan risiko bencana. Peringatan ini disampaikan oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam sebuah rapat di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Rabu (5/11). Informasi tersebut juga dikutip dari akun TikTok @kabarindonesia pada tanggal 12 November.
Menurut Faisal, posisi geografis Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng aktif dunia—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—menyebabkan negara ini menjadi salah satu kawasan paling rentan terhadap gempa. Selain itu, terdapat 13 segmen megathrust yang mengelilingi kepulauan nusantara, dengan sebagian di antaranya masih menyimpan energi tektonik yang belum dilepaskan.
“Negara kita berada di pertemuan tiga lempeng aktif dunia dengan 13 segmen megathrust yang sebagian belum melepaskan energi tektoniknya. Ini berarti potensi gempa besar masih mungkin terjadi kapan saja,” ujar Faisal, seperti yang dikutip dari laman resmi BMKG.
Dari belasan segmen megathrust tersebut, BMKG telah mengidentifikasi tiga zona yang paling berpotensi memicu gempa besar. Yaitu:
- Megathrust Mentawai–Siberut (Sumatera Barat)
- Megathrust Selat Sunda–Banten (antara Pulau Sumatera dan Jawa)
- Megathrust Sumba (Nusa Tenggara Timur)
Ketiga wilayah ini belum mengalami gempa besar selama ratusan tahun, sehingga energi tektonik di bawahnya terus terakumulasi. Faisal menjelaskan bahwa proses akumulasi energi ini tidak dapat diprediksi secara pasti kapan akan berakhir. Namun, jika energi tersebut dilepaskan secara tiba-tiba, potensi gempa besar hingga memicu tsunami sangat mungkin terjadi.
Megathrust merupakan zona pertemuan antar-lempeng tektonik yang berada di daerah subduksi, yaitu tempat satu lempeng bumi menyusup ke bawah lempeng lainnya. Lokasinya umumnya berada di dasar laut, membuat setiap aktivitas di dalamnya berpotensi memicu gempa besar dan tsunami dahsyat.
Sejarah mencatat bahwa gempa megathrust telah melahirkan bencana paling mematikan di dunia. Contohnya adalah Megathrust Sunda (Indonesia), yang memicu tsunami Aceh tahun 2004 dan menewaskan lebih dari 230 ribu jiwa. Di Amerika Selatan, Palung Peru–Chile menyebabkan gempa Chile 1960, yang menjadi gempa terdahsyat sepanjang sejarah dengan magnitudo 9,5. Sementara itu, Palung Nankai di Jepang memicu tsunami besar yang berulang dalam sejarah Jepang.
Zona megathrust dapat pecah berulang kali dalam selang waktu ratusan tahun, tergantung pada seberapa cepat energi tektonik di bawahnya menumpuk. Karena itu, meskipun terlihat tenang selama puluhan tahun, potensi ancaman tetap ada dan bahkan semakin besar seiring waktu.
Faisal juga mengungkapkan data aktivitas seismik terbaru dari BMKG. Sepanjang tahun 2025 saja, tercatat lebih dari 850 gempa bumi di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di bawah nusantara masih sangat aktif dan dinamis. “Kita harus terus waspada,” tegasnya.





