Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Gejolak Global
Di tengah memanasnya tensi geopolitik global akibat konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat, muncul berbagai opini dari sejumlah ekonom yang menyebutkan bahwa perekonomian Indonesia telah memasuki jurang resesi. Namun, klaim ini dibantah keras oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih kokoh dan mampu menjadi penyangga terhadap gejolak eksternal.
Resesi, yang secara umum didefinisikan sebagai penurunan tajam aktivitas ekonomi dalam jangka waktu yang cukup lama, seringkali ditandai dengan kontraksi Produk Domestik Bruto (PDB) riil selama dua kuartal berturut-turut. Meski demikian, Purbaya secara tegas menyatakan bahwa kondisi tersebut belum terjadi di Indonesia.
“Di luar banyak yang bilang kita sudah resesi. Ekonom-ekonom yang agak aneh itu bilang kita sudah resesi tinggal hancurnya,” ujar Purbaya dalam sebuah sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta. Ia menambahkan bahwa pemerintah memiliki keyakinan kuat terhadap ketahanan ekonomi domestik.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Sebagai Penyangga
Purbaya menjelaskan bahwa kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus berfungsi sebagai shock absorber atau penyangga utama ketika gejolak global meningkat. Meskipun pasar keuangan dunia mengalami fluktuasi dan harga energi bergerak sangat dinamis, fondasi ekonomi domestik dinilai masih cukup tangguh.
Salah satu indikator kekuatan tersebut adalah harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Hingga Maret 2026, ICP berada di kisaran US$68 per barel, lebih rendah dibandingkan asumsi dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel. Kondisi ini memberikan ruang fiskal yang memadai bagi pemerintah untuk mengantisipasi kemungkinan lonjakan harga energi global.
“Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026. Nanti kalau ke depan keadaan menekan lagi, kita akan tentunya mengatur APBN, tapi kita semua dalam berawal dari posisi yang kuat APBN-nya. Jadi teman-teman gak usah khawatir,” tegas Purbaya.
Sektor Manufaktur Menguat, PMI Catat Rekor Dua Tahun
Optimisme pemerintah juga didukung oleh indikator sektor riil yang menunjukkan tren positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Februari 2026 tercatat mencapai 53,8. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam dua tahun terakhir dan bahkan disebut lebih baik dibandingkan beberapa negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia.
PMI di atas angka 50 secara umum menunjukkan bahwa sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi, bukan kontraksi. “Ekonomi kita sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat. Jadi teman-teman tidak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif gejolak global ke depan,” tambah Purbaya.
Daya Beli Masyarakat dan Inflasi Tetap Terjaga
Indikator konsumsi domestik juga menunjukkan tren penguatan. Mandiri Spending Index pada Februari tercatat meningkat hingga 360,7 persen. Selain itu, penjualan mobil nasional mengalami pertumbuhan dua digit yang signifikan, mencapai 12 persen.
Sementara itu, tingkat inflasi tahunan (year on year) pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,76 persen. Namun, Purbaya menilai angka ini dipengaruhi oleh faktor sementara, yaitu efek basis rendah (low base effect) akibat program diskon listrik pada tahun sebelumnya. Jika faktor tersebut tidak diperhitungkan, inflasi diperkirakan hanya sekitar 2,59 persen, masih berada di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah.
Purbaya juga menekankan pentingnya koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia. Penempatan kas pemerintah sebesar Rp200 triliun di sistem perbankan dilaporkan berhasil menjaga likuiditas, yang pada gilirannya mendorong suku bunga kredit turun menjadi 8,8 persen pada Januari 2026.
Kinerja APBN: Pendapatan Tumbuh, Defisit Terkendali
Dari sisi fiskal, kinerja APBN hingga akhir Februari 2026 menunjukkan hasil yang cukup positif. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp358 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target tahunan, dengan pertumbuhan sebesar 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penerimaan pajak bahkan mengalami lonjakan signifikan hingga 30,4 persen.
Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari pagu anggaran, menunjukkan peningkatan sebesar 41,9 persen secara tahunan. Pemerintah mempercepat realisasi belanja untuk mendorong aktivitas ekonomi sejak awal tahun. Sementara itu, defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen terhadap PDB, yang dinilai masih berada dalam batas aman.
“Jadi secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap terkendali, menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Purbaya.

Kritikan dari Rocky Gerung dan Respons Publik
Di tengah optimisme pemerintah, muncul pula pandangan kritis dari sejumlah tokoh publik. Rocky Gerung, misalnya, menekankan perlunya kewaspadaan lebih terhadap dampak konflik internasional yang sedang berlangsung. Menurutnya, perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran adalah faktor global penuh ketidakpastian yang dapat berdampak serius pada perekonomian.
“Semua hal yang akhirnya ada di depan mata kita menunjukkan bahwa kita harus bersiap untuk yang terburuk. Bersiap yang terburuk artinya memanfaatkan apa yang tersisa untuk dimaksimalkan,” ujar Rocky Gerung. Ia juga mengkritik optimisme yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya, menyebutnya sebagai optimisme palsu yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Rocky berargumen bahwa indikator makroekonomi tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat secara langsung, karena data makro merupakan agregat dari berbagai data mikro.
Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui dirinya menerima kritik keras dari warganet, terutama di platform TikTok, menyusul pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS. “Dari situ sih kita masih lumayan, walaupun di TikTok saya dimaki-maki orang katanya, ‘hey Pak Purbaya, menteri keuangan, kerjanya apa aja lu, tuh rupiah lihatin,’ tapi kita menilai harus dengan fair, apa yang terjadi dibandingkan juga dengan seluruh negara di dunia seperti apa,” kata Purbaya.
Meskipun demikian, Purbaya menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang beberapa negara lain di kawasan. Berdasarkan data pemerintah, depresiasi rupiah sejak konflik Amerika Serikat–Israel melawan Iran hanya mencapai sekitar 0,3 persen, lebih kecil dibandingkan pelemahan mata uang di Malaysia (sekitar 0,5 persen) dan Thailand (sekitar 1,6 persen).
“Jadi bukan lihat levelnya aja, tapi kita lihat berapa dampak ke pelemahannya. Kita masih oke, artinya kita masih dianggap menjaga kebijakan fiskal dan moneter yang baik dan fondasi ekonomi kita yang baik,” tandasnya.
Purbaya menambahkan bahwa pemerintah telah berpengalaman menangani berbagai krisis ekonomi di masa lalu, seperti krisis 1998, dan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak global pada 2008-2009, serta mengelola ekonomi pada 2020 dengan kebijakan yang tepat. Oleh karena itu, ia meyakinkan para investor untuk tidak perlu khawatir karena fondasi ekonomi Indonesia terus dijaga dengan baik oleh pemerintah.





