Mitos AI ancam stabilitas keuangan global, negara berkembang paling rentan

Kecemasan Global terhadap Kemampuan AI Mythos

Pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia menjadi alarm bahwa model AI Anthropic terbaru, Claude Mythos, bisa menjadi senjata siber yang mengguncang sistem keuangan dunia. Bank-bank di negara berkembang seperti Indonesia, dinilai paling tidak siap menghadapinya.

Seminggu sebelum pertemuan IMF dan Bank Dunia digelar di Washington pada 13 – 18 April, para pembuat kebijakan memperkirakan diskusi berfokus pada konflik Timur Tengah, ketegangan pasar kredit swasta, dan tingkat utang pemerintah yang tinggi. Namun kemampuan model AI Mythos justru mendominasi pembicaraan.

Penyebabnya, model AI Mythos dianggap terlalu berbahaya untuk dirilis ke publik. Dokumen teknis setebal 245 halaman yang dirilis Anthropic menguraikan bahwa Mythos beroperasi seperti seorang software engineer senior, mampu mendeteksi bug halus dan memperbaiki kesalahan sendiri.

Dalam pengujian, model AI Mythos menemukan kesalahan kritis di setiap sistem operasi (OS) dan peramban web yang banyak digunakan. Sebanyak 99% dari kerentanan yang ditemukan, belum ditambal.

Keunggulan AI Mythos hasil pengujian Anthropic

Mythos menjadi model AI pertama yang berhasil menyelesaikan simulasi serangan siber 32 langkah yang dibuat oleh AI Security Institute (AISI) Inggris. Akal imitasi ini memecahkan tantangan ini dalam tiga dari 10 percobaan, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Temuan AISI tentang kemampuan Mythos dibandingkan model AI lainnya menunjukkan bahwa model ini memiliki keunggulan luar biasa dalam menangani ancaman siber. Para pejabat keuangan global memperlakukan Claude Mythos sebagai isu stabilitas keuangan yang mendesak. Inti ketakutan yakni model AI seperti Mythos mampu mengidentifikasi dan merangkai kerentanan perangkat lunak dengan kecepatan dan skala yang melampaui kemampuan manusia.

“Ini tantangan yang sangat serius bagi kita semua,” kata Gubernur Bank of England Andrew Bailey, yang memimpin Financial Stability Board. “Ini mengingatkan kita betapa cepatnya dunia AI bergerak.”

Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mengakui secara terbuka, bahwa tidak ada kerangka tata kelola yang tersedia untuk mengawasi risiko semacam ini. “Saya rasa belum ada kerangka tata kelola yang benar-benar memperhatikan hal-hal tersebut,” kata dia. “Jika jatuh ke tangan yang salah, Mythos bisa sangat buruk.”

Respons Negara-Negara Maju

Respons negara-negara maju bergerak cepat. Ketua bank sentral AS Federal Reserve Jerome Powell dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent menggelar pertemuan khusus dengan para CEO bank-bank besar AS, termasuk Bank of America, Citigroup, Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Wells Fargo, untuk memastikan mereka sadar akan risiko Mythos dan mengambil langkah perlindungan sistem.

JPMorgan, Morgan Stanley dan Citigroup disebut telah memperoleh akses ke AI Mythos, setelah pejabat AS berdiskusi dengan Anthropic. Lembaga keuangan Inggris dikabarkan akan diberikan akses dalam beberapa minggu ke depan, setelah perwakilan Kementerian Keuangan Inggris, Otoritas Pengawasan Keuangan, dan Pusat Keamanan Siber Nasional (National Cyber Security Centre) bertemu dengan Anthropic.

Di sinilah ketimpangan mulai tampak. Bank-bank di negara maju tak hanya waspada, mereka bisa menguji coba Mythos dan mulai memperbaiki kerentanan apa pun yang ditemukan dalam sistem. Sementara negara berkembang, termasuk Indonesia, menanggung potensi ancamannya.

Indonesia di Titik Rentan

Indonesia di titik rentan karena infrastruktur digital yang masih lemah. Dalam kondisi seperti ini, AI berkemampuan analisis pola skala besar, dapat digunakan untuk mengidentifikasi celah keamanan dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan manusia.

Potensi ancaman terhadap sektor perbankan menjadi semakin kompleks karena adanya kemungkinan penggunaan AI untuk menggabungkan berbagai teknik serangan dalam satu kerangka operasi. Dalam tahap lanjutan, AI juga dapat digunakan untuk menghindari sistem deteksi fraud dengan mempelajari pola transaksi normal dan menyesuaikan perilaku serangan agar tidak mencurigakan.

Meski begitu, kehadiran AI Mythos menjadi katalis untuk memperkuat fondasi keamanan siber nasional agar mampu menghadapi tantangan yang semakin kompleks di masa depan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan telah mengikuti perkembangan isu Claude Mythos dan menyadari bahwa kemajuan AI berkapabilitas tinggi dapat mempercepat penemuan dan eksploitasi kerentanan siber. Sebagai respons, OJK meminta perbankan memperkuat ketahanan siber dengan mewajibkan penerapan manajemen risiko teknologi dan informasi yang efektif sesuai POJK Nomor 11 Tahun 2022.

Namun regulasi yang ada dinilai belum cukup untuk menghadapi ancaman yang bergerak jauh lebih cepat. Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi menyebut bahwa ancaman dari AI canggih seperti Mythos bersifat berlapis. “Ada banyak risiko. Yang utama meliputi eksploitasi celah sistem, fraud berbasis AI, dan kebocoran data,” ujar Heru.

Tantangan dan Persiapan Masa Depan

Jika AI seperti Mythos digunakan untuk menyerang sistem pembayaran, settlement, atau infrastruktur perbankan utama secara serentak, dampaknya dapat menjalar ke likuiditas pasar, kepercayaan nasabah hingga stabilitas sistem keuangan lintas-negara.

Kemunculan Mythos menunjukkan bahwa persaingan AI kini bukan lagi soal inovasi, tetapi juga soal ketahanan ekonomi dan keamanan nasional. Negara yang lebih cepat menguasai teknologi pertahanan berbasis AI berpotensi memiliki keunggulan strategis, sementara yang tertinggal menghadapi kerentanan yang semakin besar.

Pos terkait