Museum Nasional Indonesia gelar pameran seni dan uang kuno perayaan HUT ke-248



JAKARTA — Museum Nasional Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-248 dengan menghadirkan dua pameran menarik, yaitu “Pendar” dan “Numismatik”. Pameran ini akan dibuka untuk publik mulai akhir pekan ini, memberikan pengalaman edukatif dan interaktif bagi pengunjung.

Pameran “Pendar”

Pameran “Pendar” menampilkan koleksi lampu yang berasal dari abad ke-9 Masehi. Selain berfungsi sebagai alat penerangan, lampu-lampu ini juga menjadi representasi perkembangan teknologi, estetika, serta nilai spiritual masyarakat di masa lalu. Pengunjung dapat melihat bagaimana bentuk dan desain lampu berkembang seiring waktu, serta bagaimana mereka mencerminkan identitas sosial dan praktik religius pada zamannya.

Salah satu hal yang menarik dalam pameran ini adalah peran teknologi metalurgi yang memungkinkan variasi desain lampu. Hal ini menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi memengaruhi gaya hidup dan kepercayaan masyarakat pada masa kolonial.

Pameran “Numismatik”

Sementara itu, pameran “Numismatik” mengangkat perjalanan mata uang di Indonesia sebagai artefak budaya. Uang tidak hanya dilihat sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai medium yang mencerminkan perubahan struktur sosial dan politik. Pengunjung dapat menelusuri koleksi mata uang dari berbagai periode, mulai dari era Hindu-Buddha, kesultanan Islam, kolonial Eropa dan Jepang, hingga masa kemerdekaan.

Beberapa koleksi unggulan yang ditampilkan antara lain uang gobog wayang, koin emas Syailendra setengah potong, mohur, uang kasha Banten beraksara Arab, dan doit. Setiap mata uang memiliki cerita dan makna tersendiri, yang memberikan wawasan tentang sejarah dan budaya Indonesia.

Rangkaian Kegiatan Selama HUT ke-248

Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-248, Museum Nasional Indonesia menyelenggarakan berbagai kegiatan selama 24–26 April 2026. Berikut adalah rangkaian acara yang akan diselenggarakan:

  • Jumat (24/4):
  • Pop Up Booth di Hall Majapahit
  • Pembukaan Pameran Numismatik & Pendar di Gedung A
  • Yoga Night at the Museum di Gedung B pada malam hari

  • Sabtu (25/4):

  • Pop Up Booth dan booth konservasi
  • Kelas tari tradisional
  • Program “Bersurat dari MNI” yang berlangsung hingga 1 Juni
  • Lokakarya clay painting
  • “Ruang Cerita” di teater

  • Minggu (26/4):

  • Bincang sejarah Java Man: Jejak Indonesia dalam Peta Evolusi Dunia
  • Sesi santai “Rakopi” di area kedai kopi museum

Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menjelaskan bahwa kedua pameran ini dirancang untuk menghidupkan kembali koleksi museum sebagai narasi yang lebih bermakna bagi publik. Ia berharap melalui pendekatan ini, museum semakin relevan dan dekat dengan masyarakat.

“Ke depan, Museum Nasional Indonesia akan terus menghadirkan berbagai pameran dan program yang edukatif serta inovatif, sehingga pengunjung dapat memperoleh pengalaman yang beragam,” ujarnya.

Hadirnya pameran terbaru ini juga menjadi langkah untuk meningkatkan relevansi museum di tengah perubahan preferensi masyarakat terhadap ruang edukasi yang lebih interaktif dan kontekstual. Dengan berbagai acara yang menarik, Museum Nasional Indonesia berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi positif dalam melestarikan budaya dan sejarah Indonesia.

Pos terkait