Kejadian Meninggalnya Seorang Nenek di Sumur
Seorang nenek berusia 76 tahun, yang memiliki inisial J, ditemukan tewas di dalam sumur dengan kedalaman sekitar 25 meter. Peristiwa ini terjadi di Dusun Libilyan, Desa Aengdake, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, pada Senin (27/4). Korban dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak Minggu (26/4), dan keberadaannya ditemukan oleh tetangga bernama R, 44 tahun, yang sedang memperbaiki pompa air.
Saat itu, kondisi sumur terlihat tertutup, namun bagian penutup jaring tampak sedikit terbuka. R langsung melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak kepolisian. Jenazah korban akhirnya berhasil dievakuasi oleh Basarnas pada sekitar pukul 14.15 WIB.
Proses Evakuasi yang Rumit
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, menjelaskan bahwa tim SAR gabungan menggunakan peralatan vertical rescue untuk mengevakuasi korban dari kedalaman sumur tersebut. “Satu orang rescuer Pos SAR Sumenep diturunkan dengan teknik lowering untuk menjangkau korban secara langsung (di dasar sumur sedalam kurang lebih 25 meter),” kata Nanang.
Setelah berhasil mencapai lokasi korban, tim kemudian melakukan proses evakuasi jenazah ke permukaan menggunakan teknik lifting secara bertahap. Proses pengangkatan dilakukan dengan sistem pengamanan tali dan anchor untuk memastikan keselamatan seluruh personel yang terlibat dalam evakuasi.
Kendala Teknis Selama Evakuasi
Komandan tim rescue Pos SAR Sumenep, Nurul Imam, menyebutkan bahwa proses evakuasi menghadapi sejumlah kendala teknis. Diameter sumur yang sempit membatasi ruang gerak petugas. Selain itu, potensi gas beracun di dalam sumur juga menjadi kendala. Oleh karena itu, rescuer yang turun ke dalam sumur dilengkapi peralatan SCBA sebagai langkah antisipasi risiko.
Kendala lainnya adalah area di sekitar lokasi kejadian tidak sepenuhnya steril. Banyak warga setempat yang antusias menyaksikan proses evakuasi, sehingga menghambat pergerakan petugas di lapangan.
Kesimpulan
Setelah berjam-jam berjibaku, petugas berhasil mengevakuasi korban dari dasar sumur ke daratan. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk disemayamkan. Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya persiapan dan alat yang memadai dalam operasi penyelamatan, terlebih ketika menghadapi situasi yang sangat berbahaya seperti ini.






