PALANGKA RAYA – Suasana di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bukit Tambak Raja Km. 12 Tjilik Riwut, Kota Palangka Raya, terasa hidup oleh kehadiran para peziarah yang datang silih berganti. Aroma bunga tabur dan lantunan doa berpadu di udara, menciptakan atmosfer kedamaian yang kerap terasa saat momen perayaan hari besar tiba. Tradisi ziarah makam atau yang sering disebut “nyekar” di momen Hari Raya tetap menjadi aktivitas yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat.
Area pemakaman umum ini dipadati oleh warga yang datang untuk memanjatkan doa bagi kerabat yang telah berpulang. Selain sebagai bentuk penghormatan dan pengingat spiritual, tradisi ini juga membawa berkah ekonomi bagi para pedagang bunga tabur yang berjualan di sekitar area pemakaman.
Menanamkan Nilai Spiritual Melalui Ziarah
Salah satu peziarah yang ditemui adalah Sigit (42), seorang warga asal daerah Kereng, yang hadir bersama keluarganya pada momen Idulfitri kali ini. Baginya, langkahnya menyusuri celah antar makam bukan sekadar rutinitas tanpa makna. Ia datang untuk mengunjungi peristirahatan terakhir almarhum ayah mertuanya, serta makam para leluhur keluarganya.
Bagi Sigit, tradisi nyekar ini tidak hanya dilakukan pada momen-momen besar keagamaan. Terkadang, ia menyempatkan diri untuk berziarah sebulan sekali. Namun, rutinitas ini memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar menabur bunga. Ini adalah sarana pendidikan spiritual bagi anak-anaknya.
“Kalau ziarah itu, selain kirim doa, ya sambil mengajarkan anak-anak ini,” tutur Sigit. Ia menyadari bahwa mengajarkan konsep kematian kepada anak-anak bukanlah hal yang mudah. Namun, pusara keluarga menjadi medium yang paling nyata untuk menyampaikan pesan tersebut. Di hadapan makam leluhur mereka, Sigit menanamkan sebuah pengingat yang diharapkan akan terus dibawa anak-anaknya hingga dewasa kelak.
“Biar mereka ingat, kalau hidup di dunia ini ya cuma sementara. Nanti, pada akhirnya, akan kembali juga semuanya,” lanjutnya. Kutipan sederhana dari seorang ayah ini merangkum esensi terdalam dari tradisi ziarah. Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, makam menjadi tempat singgah sejenak untuk menengok masa lalu, sekaligus merenungkan keniscayaan masa depan.
Bagi Sigit dan ratusan peziarah lainnya yang memadati area pemakaman pada hari itu, ziarah bukan hanya sekadar merawat ingatan tentang mereka yang telah tiada. Lebih dari itu, ziarah adalah sebuah sekolah kehidupan, sebuah ruang di mana kefanaan dunia diajarkan melalui keheningan pusara. Ini adalah momen untuk merefleksikan kehidupan dan mempersiapkan diri untuk perjalanan spiritual selanjutnya.
Dampak Ekonomi bagi Pedagang Lokal
Pemandangan khusyuk para peziarah yang berjalan beriringan ini berjalan seiring dengan denyut ekonomi warga sekitar. Ratusan peziarah yang silih berganti memadati pemakaman membawa rezeki tersendiri bagi para penjual kembang tabur.
Anita (40), salah satu pedagang bunga yang telah berjualan selama bertahun-tahun di area TPU Bukit Tambak Raja, menuturkan bahwa lonjakan pengunjung selalu terasa signifikan saat memasuki musim perayaan keagamaan, seperti Idulfitri. Menurutnya, peziarah yang datang memiliki latar belakang yang beragam, dan banyak di antaranya datang dari luar daerah.
“Selalu ramai. Peziarah yang datang banyak juga yang dari jauh-jauh (luar daerah). Apalagi kalau pas momen Hari Raya seperti ini, pasti ada saja yang datang dari jauh,” jelas Anita. Kehadiran para peziarah ini memberikan peluang ekonomi yang berharga bagi para pedagang kecil, membantu mereka memenuhi kebutuhan keluarga, terutama di momen-momen penting seperti hari raya.
Tradisi ziarah makam ini dengan demikian tidak hanya menjadi ajang untuk merawat ingatan terhadap orang-orang yang telah berpulang, tetapi juga terus bertahan sebagai ruang refleksi diri bagi para peziarah dan menjadi roda penggerak ekonomi mikro bagi masyarakat yang tinggal di sekitar area pemakaman. Tradisi ini mengajarkan tentang pentingnya mengenang, merenung, dan terus berjuang dalam menjalani kehidupan, sambil memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas lokal.
Makna Ziarah di Tengah Kehidupan Modern
Di era modern yang serba cepat ini, tradisi ziarah makam mungkin terlihat seperti sisa-sisa masa lalu. Namun, bagi banyak orang, tradisi ini tetap memiliki makna yang mendalam. Ziarah bukan hanya tentang mengunjungi makam fisik, tetapi juga tentang mengunjungi kembali nilai-nilai yang diajarkan oleh para leluhur.
- Pengingat Kematian: Ziarah berfungsi sebagai pengingat yang kuat bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara. Hal ini mendorong individu untuk lebih bijak dalam menjalani hidup, memprioritaskan hal-hal yang penting, dan tidak terlalu terikat pada hal-hal duniawi.
- Penghormatan dan Kasih Sayang: Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan dan kasih sayang kepada keluarga dan leluhur yang telah tiada. Melalui doa dan kunjungan, peziarah menunjukkan bahwa mereka tidak melupakan jasa dan warisan dari generasi sebelumnya.
- Pendidikan Moral dan Spiritual: Seperti yang dicontohkan oleh Sigit, ziarah dapat menjadi sarana efektif untuk mendidik generasi muda tentang nilai-nilai kehidupan, kematian, dan tanggung jawab spiritual. Interaksi langsung dengan makam leluhur dapat memberikan pemahaman yang lebih konkret dibandingkan sekadar cerita.
- Momen Refleksi Diri: Di tengah kesibukan sehari-hari, momen ziarah memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan hidup, dan mengevaluasi diri. Keheningan di area pemakaman dapat membantu menenangkan pikiran dan memberikan perspektif baru.
- Mempererat Ikatan Keluarga: Ziarah sering kali dilakukan bersama anggota keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga besar. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan antar anggota keluarga, menciptakan kenangan bersama, dan memperkuat rasa kekeluargaan.
Dengan demikian, tradisi ziarah makam terus relevan dan memiliki banyak manfaat, baik dari sisi spiritual, moral, maupun sosial-ekonomi. Ia menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan, mengajarkan tentang pentingnya keseimbangan dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini.





