Nyepi 2024: Kembali ke Akar Tilem Kasanga

Perubahan Jadwal Nyepi: Kembali ke Akar Tradisi Ribuan Tahun

Sebuah keputusan penting mengenai pelaksanaan Hari Raya Nyepi tengah menjadi sorotan dan pembahasan mendalam. Rencananya, tradisi sakral ini akan dikembalikan pada jadwal aslinya, seperti yang telah dilaksanakan sebelum tahun 1981. Perubahan ini diharapkan dapat mengembalikan esensi dan makna Nyepi yang telah diwariskan turun-temurun selama ribuan tahun di Bali.

Sejak tahun 1981 hingga saat ini, perayaan Nyepi umumnya dilaksanakan sehari setelah Tilem Kasanga, yang merupakan bagian dari perhitungan kalender Hindu Bali. Namun, dengan adanya kajian dan diskusi yang mendalam, muncul dorongan kuat untuk mengembalikan pelaksanaannya agar bertepatan langsung dengan Tilem Kasanga.

Wacana perubahan jadwal ini menjadi salah satu topik utama dalam forum Pasamuhan Agung Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat tahun 2025. Pertemuan akbar ini diselenggarakan pada Selasa, 30 Desember 2025, di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali. Kehadiran para tokoh agama dan pemangku kepentingan diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang terbaik bagi kelestarian tradisi Hindu.

Mengembalikan Nyepi ke Akar Sejarah

Ketua Umum Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun, menjelaskan bahwa sebelum tahun 1981, Nyepi memang dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Kasanga. Penjelasan ini diperkuat dengan adanya bukti-bukti tertulis dalam berbagai lontar kuno.

Beberapa lontar yang menjadi rujukan penting antara lain Lontar Sundarigama, Kuttara Kanda, hingga Batur Kalawasan. Dalam naskah-naskah tersebut, disebutkan dengan jelas bahwa pelaksanaan Nyepi sejatinya digelar pada saat panglong ping molas kresna paksa atau yang lebih dikenal sebagai malam Tilem.

“Salah satu pembahasan yakni mengembalikan nyepi seperti sebelum tahun 1981. Mengembalikan Nyepi agar kembali ke Bali ribuan tahun lalu. Sebab tahun 1981 diubah oleh PHDI provinsi Bali,” ungkap Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun. Pernyataannya ini menegaskan bahwa perubahan jadwal yang terjadi di masa lalu merupakan sebuah penyesuaian yang kini ingin dikoreksi demi mengembalikan keaslian tradisi.

Penyesuaian Jadwal Tawur dan Pengerupukan

Selain perubahan jadwal utama Nyepi, forum tersebut juga membahas penyesuaian jadwal untuk ritual Tawur dan Pengerupukan. Kedua ritual ini merupakan bagian penting dari rangkaian Hari Raya Nyepi, yang biasanya mendahului pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

Menurut hasil diskusi, Tawur dan Pengerupukan akan digelar pada saat panglong catur dasi atau purwani Tilem Kasanga. Dengan kata lain, kedua ritual ini akan dilaksanakan sehari sebelum puncak perayaan Nyepi yang bertepatan dengan Tilem Kasanga. Penyesuaian ini dilakukan agar rangkaian upacara tetap harmonis dan selaras dengan jadwal Nyepi yang baru.

Dukungan Penuh dari Pemerintah Provinsi Bali

Gubernur Bali, Wayan Koster, memberikan dukungan penuh terhadap keputusan yang akan dihasilkan dari Pasamuhan Agung SKHDN ini. Beliau menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan senantiasa mendukung setiap kebijakan yang bertujuan untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai tradisi dan budaya Bali.

“Dulu Nyepi di Tilem dia, sekarang bergeser, saat Tilem dilaksanakan tawur besoknya baru Nyepi. Nanti silakan Ida Sulinggih membahas,” papar Wayan Koster. Pernyataannya ini menunjukkan apresiasi terhadap upaya para sulinggih dan pemangku kepentingan dalam mengembalikan tradisi ke akar filosofisnya.

Gubernur Koster juga menambahkan bahwa dukungan ini didasarkan pada landasan yang kuat. Keberadaan lontar-lontar kuno yang memuat informasi mengenai pelaksanaan Nyepi pada Tilem Kasanga menjadi bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara lahiriah maupun batiniah (niskala). Hal ini memberikan keyakinan bahwa perubahan ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah langkah kembali ke sumber ajaran Hindu yang sesungguhnya.

Keputusan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada masyarakat mengenai makna dan sejarah Hari Raya Nyepi, serta memperkuat kembali identitas keagamaan dan budaya masyarakat Hindu di Bali. Pengembalian Nyepi ke jadwal aslinya merupakan upaya penting untuk menjaga otentisitas tradisi yang telah berusia ribuan tahun.

Pos terkait