Lonjakan Harga Daging Sapi dan Ayam Sambut Idulfitri di Pasar Gedhe Klaten, Omzet Pedagang Meroket
Menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, suasana di Pasar Gedhe Klaten diramaikan oleh lonjakan harga komoditas pokok, khususnya daging sapi dan ayam. Meskipun harga mengalami kenaikan yang cukup signifikan, fenomena ini justru berbanding lurus dengan peningkatan omzet para pedagang yang dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa.
Kepadatan Pasar dan Antusiasme Pembeli
Sejak pagi hari, pasar tradisional yang berlokasi di Klaten ini telah dipadati oleh ribuan pembeli. Kerumunan terlihat jelas di area lapak penjual daging sapi dan ayam. Gendongan besi yang dipenuhi potongan daging segar menjadi pemandangan umum, sementara para pedagang tampak sibuk melayani antrean panjang dari para konsumen yang berburu kebutuhan Lebaran.
Daging Sapi: Kenaikan Bertahap, Penjualan Meroket
Slamet (45), seorang pedagang daging sapi dan ayam di Pasar Gedhe Klaten, membenarkan adanya kenaikan harga yang cukup terasa. Ia menjelaskan bahwa harga daging sapi kualitas grade A saat ini telah mencapai Rp 150 ribu per kilogramnya. Angka ini merupakan peningkatan dari harga sebelumnya yang berkisar Rp 120 ribu.
“Dari 120 naik jadi 150. Naiknya bertahap,” ujar Slamet.
Kenaikan harga ini mulai dirasakan oleh para pedagang sejak lima hari sebelum Idulfitri. Namun, alih-alih membuat pembeli enggan, justru kondisi ini dimanfaatkan oleh para pedagang untuk mendongkrak penjualan mereka.
“Mau lebaran ini, kenaikan omzetnya dua kali lipat dibandingkan hari biasa,” ungkap Slamet dengan antusias.
Ia menambahkan bahwa pada hari-hari normal, rata-rata penjualan daging sapi yang ia lakukan berkisar antara setengah hingga satu kuintal. Namun, menjelang Lebaran, angka tersebut melonjak drastis menjadi dua hingga tiga kuintal. Peningkatan tajam ini menunjukkan tingginya permintaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidangan khas Idulfitri.
Daging Ayam: Harga Menanjak, Permintaan Stabil Tinggi
Tidak hanya daging sapi, harga daging ayam juga mengalami kenaikan. Sejak Rabu (18/3/2026), harga daging ayam telah mencapai Rp 45 ribu per kilogram, naik dari kisaran Rp 38 ribu hingga Rp 40 ribu pada hari-hari sebelumnya.
Slamet juga melaporkan peningkatan penjualan daging ayam yang signifikan.
“Satu kuintal lebih mau lebaran ini,” katanya.
Padahal, pada hari biasa, penjualan daging ayamnya hanya berkisar antara 60 hingga 80 kilogram per hari.
Pedagang lain, Tina (40), menambahkan bahwa kenaikan harga daging ayam terjadi dengan sangat cepat, bahkan bisa berubah setiap harinya.
“Tadi pagi Rp45 ribu. Kemarin Rp40 ribu,” ungkap Tina.
Ia memprediksi bahwa harga daging ayam masih berpotensi untuk terus naik seiring dengan tingginya permintaan yang terus mengalir hingga mendekati hari H perayaan Idulfitri.
“Biasa kalau lebaran sudah biasa begini, naiknya langsung,” jelas Tina, yang telah terbiasa dengan fluktuasi harga menjelang hari raya.
Tina sendiri mencatat bahwa penjualan daging ayamnya saat ini mencapai sekitar 50 kilogram per hari, naik dari biasanya yang hanya sekitar 40 kilogram. Secara persentase, ia memperkirakan terjadi kenaikan pembeli sekitar 50 persen.
Menurut pengamatannya, mayoritas pembeli daging ayam datang dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan masakan khas Lebaran, seperti opor ayam dan rendang. Hidangan-hidangan ini menjadi primadona yang selalu dicari setiap tahunnya.
Faktor Pendorong Keramaian Pasar
Selain lonjakan permintaan dari masyarakat lokal, keramaian di Pasar Gedhe Klaten juga dipicu oleh kedatangan para pembeli dari luar daerah. Mereka berbondong-bondong datang untuk mencari bahan makanan segar dan berkualitas dengan harga yang bersaing. Aktivitas tawar-menawar yang berlangsung cepat di antara para pedagang dan pembeli mencerminkan tingginya denyut ekonomi yang terjadi di pasar tradisional menjelang hari raya.
Para pedagang berharap tren positif ini dapat terus berlanjut hingga akhir pekan sebelum Idulfitri. Diperkirakan, harga kebutuhan pokok seperti daging sapi dan ayam akan mulai mengalami penurunan setelah perayaan Lebaran Ketupat, yang biasanya berlangsung sekitar lima hingga tujuh hari setelah Idulfitri. Fenomena ini merupakan siklus tahunan yang selalu terjadi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan menyambut hari kemenangan umat Islam.





