PBNU: BoP Solusi Damai Perang Iran

Seruan Perdamaian di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah: Indonesia Diminta Ambil Peran Aktif

Ketegangan global di Timur Tengah dilaporkan semakin memuncak, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas. Di tengah situasi genting ini, tokoh-tokoh penting menyerukan agar pemerintah Indonesia memanfaatkan posisinya dalam forum internasional untuk mendorong penyelesaian damai. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, secara tegas meminta pemerintah untuk berperan aktif dalam upaya deeskalasi konflik antara Israel dan Iran, serta negara-negara lain yang terlibat.

Peran Indonesia dalam Board of Peace

Yahya Cholil Staquf menekankan pentingnya pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan keberadaan dan posisinya dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP). Menurutnya, forum ini dapat menjadi platform strategis untuk mendesak Amerika Serikat, Israel, dan aktor-aktor lain yang terlibat dalam konflik untuk menghentikan kekerasan dan menempuh jalur diplomasi.

“Pemerintah Indonesia mesti memanfaatkan keberadaan dan posisinya dalam BoP untuk mendesak AS, Israel, dan aktor-aktor lain yang terlibat untuk menghentikan kekerasan dan menempuh jalan damai,” ujar Gus Yahya, sebagaimana dilansir dari keterangan resmi.

PBNU, melalui pernyataannya, mendesak pemerintah untuk tidak hanya bersikap pasif, tetapi juga berperan aktif dalam mengupayakan deeskalasi konflik. Upaya menciptakan perdamaian, menurut pandangan PBNU, bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah amanat konstitusi yang harus dijalankan oleh setiap elemen negara.

Membangun Kembali Tatanan Internasional Berbasis PBB

Lebih lanjut, Yahya Cholil Staquf juga menyerukan kepada masyarakat internasional untuk bersatu padu dalam menegakkan kembali konsensus tatanan internasional yang berpusat pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia berpendapat bahwa PBB harus kembali menjalankan fungsinya sebagai penjaga perdamaian dan stabilitas internasional secara efektif, sebagaimana yang telah diamanatkan dalam piagam pendiriannya.

Mengutuk Kekerasan dan Menyayangkan Tindakan Agresi

Gus Yahya tidak ragu untuk mengutuk keras serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menilai bahwa tindakan brutal tersebut tidak hanya merusak tatanan internasional yang rapuh, tetapi juga berpotensi besar memicu konflik global yang tidak terkendali. Lebih jauh lagi, ia memperingatkan bahwa tindakan semacam ini dapat menciptakan lahan subur bagi bangkitnya kembali radikalisme dan ekstremisme di berbagai belahan dunia.

“Serta menciptakan alasan bangkitnya kembali radikalisme dan ekstremisme,” tegasnya.

Dalam momen duka ini, Yahya Cholil Staquf juga turut menyampaikan rasa belasungkawa dan duka cita yang mendalam atas wafatnya Imam Ali Khamenei akibat serangan tersebut. Ia mengajak seluruh umat Islam di seluruh dunia dan komunitas internasional untuk mendoakan rakyat Iran agar diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

Namun demikian, di tengah seruannya untuk perdamaian, Gus Yahya juga menyayangkan tindakan Iran yang dilaporkan melancarkan serangan ke berbagai negara tanpa alasan yang dapat diterima. Menurutnya, serangan balasan tersebut justru berkonsekuensi pada eskalasi konflik yang semakin menyulitkan upaya pencarian solusi damai.

“Serangan itu justru akan memperburuk situasi,” ujar beliau, menggarisbawahi bahwa tindakan provokatif semacam ini hanya akan memperkeruh keadaan.

Latar Belakang Eskalasi Konflik

Ketegangan di Timur Tengah dilaporkan mencapai puncaknya setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan agresi gabungan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengumumkan bahwa serangan gabungan tersebut telah merenggut nyawa pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Menyusul serangan tersebut, Iran dilaporkan melakukan serangan balasan dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke wilayah Israel serta ke beberapa pangkalan militer di Timur Tengah yang menjadi lokasi operasi pasukan Amerika Serikat.

Situasi konflik hingga kini dilaporkan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Berdasarkan laporan terbaru, kemungkinan perang dengan Iran bisa berlangsung selama empat minggu ke depan, sebuah skenario yang tentu saja mengkhawatirkan bagi stabilitas regional dan global.

Pos terkait