Penduduk Majemuk, Biaya Terjangkau, Kampus Berkualitas Dunia: Pilihan Ideal untuk Kuliah

Australia: Pilihan Favorit Mahasiswa Indonesia untuk Studi Lanjut

Australia, sebuah benua yang berada di selatan garis khatulistiwa, menjadi salah satu negara tujuan utama bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Banyak faktor yang membuat Australia menarik, antara lain kualitas pendidikan yang memiliki standar internasional, biaya hidup yang relatif terjangkau, masyarakat yang multikultural, nuansa Asia yang masih terasa kuat, serta jaraknya yang dekat dengan Indonesia.

Berdasarkan data Februari 2026, lebih dari 20 ribu mahasiswa Indonesia tercatat sedang menempuh pendidikan di Negeri Kanguru. Data ini menunjukkan bahwa Australia tetap menjadi destinasi favorit bagi para pelajar Indonesia.

Selama kunjungan jurnalistik yang dilakukan oleh wartawan Tribun Network, Domu D. Ambarita, dalam program Australia-Indonesia Senior Editors Program bersama Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia pada 16–23 Mei 2026, banyak hal menarik yang ditemukan tentang pengalaman belajar di Australia. Delegasi yang terdiri dari enam orang, termasuk lima pemimpin media dan seorang diplomat, melakukan perjalanan dari Jakarta ke Perth, lalu ke Melbourne.

Perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta dengan penerbangan Singapore Airlines SQ959. Meskipun sempat mengalami penundaan akibat cuaca, pesawat akhirnya berangkat dan tiba di Bandara Changi setelah waktu tempuh sekitar dua jam lima menit. Setelah transit di Singapura, rombongan melanjutkan perjalanan ke Perth, Australia Barat, dengan waktu penerbangan lima jam 10 menit.

Di Perth, delegasi menghabiskan empat hari untuk mengikuti berbagai agenda padat. Rata-rata ada empat pertemuan setiap hari, mulai dari pagi hingga malam. Mereka bertemu dengan murid sekolah dasar yang belajar bahasa dan budaya Indonesia, pejabat pemerintah, atlet, pelaku bisnis, akademisi, lembaga pemikir (think tank), hingga diplomat.

Kunjungan ke Universitas Ternama

Di Perth, rombongan bertemu dengan Dekan Fakultas Global dan ASEAN Universitas Curtin, Dr Thor Kerr, beserta tim di kampus School of Media, Creative Arts and Social Inquiry (MCASI). Mereka juga berdialog dengan sejumlah dosen dan mahasiswa doktoral asal Indonesia.

Selain itu, rombongan bertemu Profesor L. Gordon Flake, pakar hubungan internasional, kebijakan luar negeri, dan geopolitik Indo-Pasifik yang menjabat Chief Executive Officer Perth USAsia Centre di The University of Western Australia (UWA).

Di Melbourne, delegasi berbincang dengan Indonesianis Profesor Edward Buckingham dari Monash Business School sekaligus Program Director Master in Business Innovation (MBI) Monash University Indonesia di BSD, Tangerang. Edward juga menjabat Ketua Victoria Chapter Australia Indonesia Business Council (AIBC).

Pertemuan lainnya dilakukan dengan Tito Ambyo, jurnalis Indonesia-Australia sekaligus dosen Universitas RMIT, serta Dr Nasya Bahfen, dosen dan peneliti pada Department of Politics, Media and Philosophy Universitas La Trobe. Delegasi juga berdiskusi dengan Rachel Thompson, Chief Executive Officer Asialink Universitas Melbourne, lembaga yang berfokus pada penguatan hubungan Australia dengan negara-negara Asia termasuk Indonesia dan ASEAN.

Jumlah Mahasiswa Indonesia di Australia

Data pemerintah Australia menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat keenam negara dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Australia. Jumlah mahasiswa Indonesia mencapai 20.403 orang, terdiri atas 18.817 mahasiswa lama dan 1.586 mahasiswa baru pada 2026.

Secara keseluruhan, jumlah mahasiswa internasional di Australia mencapai 622.043 orang. Mahasiswa Indonesia tersebar di berbagai negara bagian, dengan jumlah terbesar berada di New South Wales sebanyak 10.217 mahasiswa, diikuti Victoria sebanyak 6.088 mahasiswa, Queensland 1.527 mahasiswa, Australia Barat 1.636 mahasiswa, Australia Selatan 473 mahasiswa, Tasmania 74 mahasiswa, Canberra 314 mahasiswa, dan Wilayah Utara sebanyak 96 mahasiswa.

Kampus Australia Hadir di Indonesia

Besarnya jumlah mahasiswa Indonesia menjadi peluang bagi sejumlah perguruan tinggi Australia untuk membuka kampus cabang di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Monash University di BSD City, Tangerang, Western Sydney University di Surabaya, dan Deakin University di Bandung.

Alasan Memilih Australia

Salah satu mahasiswa Indonesia yang kini menempuh studi doktoral di Curtin University adalah Nila Tanzil, pendiri Taman Bacaan Pelangi yang beroperasi di wilayah Indonesia Timur. Sebelumnya, Nila menyelesaikan pendidikan S1 Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan Bandung dan meraih gelar Master of Arts Studi Ilmu Komunikasi Eropa dari University of Amsterdam.

Nila mengatakan alasan memilih Australia karena memperoleh beasiswa Australia Awards yang tidak membatasi usia penerima. Selain itu, ia ingin merasakan pengalaman studi di benua berbeda setelah sebelumnya kuliah di Belanda dan bekerja di Singapura.

Tantangan Biaya Hidup

Meski relatif mudah beradaptasi secara budaya karena masyarakat Australia yang multikultural, mahasiswa tetap menghadapi tantangan biaya hidup. Menurut Nila, biaya perumahan di Perth cukup mahal karena tingginya aktivitas industri pertambangan.

Universitas Kelas Dunia

Menurut QS World University Rankings (QS WUR) 2026, Australia memiliki sembilan universitas yang masuk dalam 100 besar dunia. Dengan kualitas pendidikan yang diakui secara global, lingkungan multikultural, kedekatan geografis dengan Indonesia, serta peluang beasiswa yang luas, Australia masih menjadi destinasi favorit bagi ribuan mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri.

Pos terkait