Pertanian, Pilar Ekonomi Masyarakat Jawa Kuno

Sejarah Pertanian Jawa Kuno yang Menjadi Fondasi Ekonomi

Pertanian pada masa Hindu-Buddha di Jawa kuno tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga menjadi sektor vital yang menopang perekonomian masyarakat. Informasi tentang pertanian era klasik dapat ditemukan dalam berbagai prasasti, relief candi, hingga kitab-kitab kuno. Salah satu komoditas utama yang diproduksi adalah beras, yang dianggap sebagai penghasil pendapatan terbesar.

Hubungan Pertanian dengan Tanah Sema

Arkeolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Andi Putranto, menjelaskan bahwa pertanian erat kaitannya dengan sawah atau tanah basah yang digunakan untuk budidaya tanaman pangan. Dalam prasasti, tanah sering disebut sebagai sima, yaitu tanah yang dibebaskan atau dikurangi pajaknya. “Sawah biasanya akan digunakan sebagai salah satu yang nanti diberikan sebagai anugerah sima,” ujarnya dalam sebuah sarasehan bertajuk “Budaya Pertanian: Warisan Masa Lalu, Tantangan Masa Kini”.

Tanah sima umumnya diberikan kepada desa atau kelompok tertentu dan hasilnya digunakan untuk merawat bangunan suci seperti candi. Dari ribuan prasasti yang ada di Indonesia, sekitar 90 persen di antaranya berisi informasi tentang sima. Kemunculan prasasti yang menetapkan sima bisa menjadi tolok ukur kekayaan suatu kerajaan pada masa Jawa kuno. Di satu sisi, kerajaan tidak mendapat pajak dari sima, namun di sisi lain, mereka tidak perlu memikirkan biaya perawatan bangunan suci dan lainnya.

Prasasti Harinjing dan Bukti Sejarah Pertanian

Salah satu contoh prasasti yang mencatat tentang sima adalah prasasti Harinjing yang ditemukan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Prasasti ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Harinjing A (804 M), B (921 M), dan C (927 M), semuanya menginformasikan tentang sima. Prasasti ini memberikan wawasan penting tentang sistem pertanian dan administrasi lahan pada masa itu.

Awal Praktik Pertanian di Jawa

Meskipun bukti tertulis tentang pertanian di Jawa baru ada pada masa Hindu-Buddha, praktik pertanian sebenarnya sudah dilakukan pada era sebelumnya. Hal ini dibuktikan oleh data arkeologis yang ditemukan pada masa Megalitikum. Sawah umumnya dibagi dua berdasarkan irigasinya, yaitu sawah dengan irigasi teratur dan sawah dengan irigasi musiman yang mengandalkan air hujan.

“Andaikan data kita tidak lengkap, tetapi kebanyakan sawah irigasi ini sudah ada banyak di Jawa, khususnya di era masa Jawa kuno, dan menghasilkan padi,” kata Andi. Di Nusantara, khususnya Jawa, beras menjadi komoditas yang sangat luar biasa besarnya, menjadi andalan, dikenal dalam catatan-catatan asing. Ini menjadi penghasilan terbesar.

Pengakuan Pernyataan Tome Pires

Andi kemudian mengutip pernyataan Tome Pires, orang Portugis yang pernah tinggal di Malaka pada penghujung era Hindu-Buddha (awal abad ke-16), mengenai beras sebagai komoditas utama pertanian. Pires menyebut Jawa, terutama Gresik, Tuban, dan Surabaya, sebagai penghasil beras yang diekspor ke Malaka, Maluku, hingga Tiongkok. Beras ini dihargai murah sehingga menandakan berlimpahnya produksi di Jawa.

Sistem Pertanian yang Maju

Tata kelola pertanian era Hindu-Buddha bukan ala kadarnya, melainkan sudah bisa dikatakan maju atau kompleks pada masanya. Warisan atau jejak pertanian Jawa kuno masih terlihat hingga saat ini, misalnya dengan keberadaan sistem subak di Pulau Bali. “Ada sistem-sistem yang tidak hanya membicarakan menanam padinya. Nanti ada lahannya, bagaimana merawatnya, mungkin organisasi-organisasinya,” ujar Andi.

Gambaran Pertanian dalam Relief Candi

Bukti tentang pertanian Jawa kuno dapat dilihat pada relief candi, misalnya relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Pada relief tersebut terdapat gambar tanaman padi, petani, tikus, anjing, hingga lumbung. Di samping itu, panel-panel batu yang ditemukan di Jawa Timur memperlihatkan lanskap petak sawah beserta sungai yang berada di dekatnya.

Bukti Terlihat Hingga Saat Ini

Bukti yang paling jelas, terang, dan masih bisa diamati hingga sekarang tentang pertanian lahan basah era klasik ialah keberadaan biji padi di Situs Liyangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Biji itu ditemukan dalam guci yang tertimbun material erupsi Gunung Sindoro lebih dari seribu tahun silam.

Istilah-Istilah dalam Irigasi Persawahan

Prasasti turut mencatat istilah-istilah dalam bidang irigasi persawahan, misalnya:
* dawuhan (bendungan),
* wwatan (dinding penahan bendungan),
* tamwak (tanggul saluran, kolam penampungan),
* tameng atau tamya (tanggul),
* suwak (pematang sawah),
* talang (saluran air kecil yang biasanya dari bambu), dan
* weluran (saluran irigasi).

Alat-Alat Pertanian dalam Prasasti

Selain itu, alat-alat pertanian kerap pula tercatat dalam prasasti. Alat itu umumnya menjadi bagian dari sesaji yang disajikan saat upacara penetapan sima. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pertanian dalam kehidupan masyarakat Jawa kuno.

Pos terkait