Kunjungan Kenegaraan Presiden Korea Selatan ke Tiongkok: Mempererat Hubungan Strategis dan Bahas Isu Regional
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, dijadwalkan akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok atas undangan langsung dari Presiden Xi Jinping. Kunjungan yang berlangsung selama empat hari ini, dari tanggal 4 hingga 7 Januari 2026, akan mencakup pertemuan bilateral penting di Beijing dan kunjungan ke Shanghai. Agenda utama kunjungan ini adalah untuk memperkuat kemitraan strategis antara kedua negara yang telah terjalin sejak tahun 2008, serta membahas berbagai isu regional dan global yang menjadi kepentingan bersama.
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan puncak pertama antara Presiden Lee dan Presiden Xi yang diselenggarakan pada 1 November 2025 di Gyeongju, Provinsi Gyeongsang Utara, di sela-sela Konferensi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC). Pertemuan sebelumnya itu juga menandai kunjungan kenegaraan pertama Presiden Xi ke Korea Selatan dalam kurun waktu 11 tahun, menunjukkan peningkatan intensitas dialog antar kedua pemimpin.
Memperkuat Kerja Sama Keamanan dan Stabilitas Asia Timur Laut
Salah satu fokus utama dalam pembicaraan bilateral antara Presiden Lee dan Presiden Xi adalah upaya untuk meningkatkan kerja sama keamanan demi menjaga stabilitas di kawasan Asia Timur Laut. Pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat momentum pemulihan kemitraan kerja sama strategis yang telah dibentuk pada tahun 2008.
Para pemimpin kedua negara diperkirakan akan membahas secara mendalam berbagai langkah konkret untuk menghidupkan kembali pertukaran bilateral di berbagai sektor. Sektor-sektor yang menjadi prioritas meliputi:
- Kerja Sama Rantai Pasokan: Mengingat pentingnya rantai pasokan global, kedua negara akan mengeksplorasi cara-cara untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga kelancaran dan ketahanan rantai pasokan, terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
- Investasi: Diskusi akan mencakup upaya untuk mendorong peningkatan investasi timbal balik, menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif, dan memfasilitasi aliran modal antar kedua negara.
- Ekonomi Digital: Di era transformasi digital, kerja sama di bidang ekonomi digital akan menjadi agenda penting, termasuk berbagi teknologi, pengembangan platform digital bersama, dan standar regulasi.
- Kerja Sama Lingkungan: Mengingat tantangan lingkungan global yang semakin mendesak, kedua negara akan membahas inisiatif bersama untuk mengatasi perubahan iklim, polusi, dan isu-isu keberlanjutan lainnya.
Selain itu, kedua negara juga akan mendiskusikan langkah-langkah strategis untuk memerangi kejahatan transnasional yang semakin meluas dan berdampak di kawasan Asia Timur.
Menggali Potensi Pelonggaran Pembatasan Konten Budaya Korea di Tiongkok
Perhatian publik juga tertuju pada kemungkinan dibahasnya isu pencabutan pembatasan Tiongkok terhadap peredaran konten budaya Korea. Sebelumnya, Tiongkok secara diam-diam memberlakukan pembatasan tersebut sebagai respons terhadap perselisihan mengenai penempatan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat (AS) di Korea Selatan pada tahun 2016.
Meskipun agenda spesifik mengenai topik ini masih dalam tahap koordinasi antara kedua negara, terdapat harapan bahwa pertemuan tingkat tinggi ini dapat menjadi momentum untuk membuka kembali peluang bagi konten budaya Korea untuk dapat dinikmati oleh masyarakat Tiongkok. Diskusi lebih lanjut juga akan mencakup perluasan peluang kerja sama ekonomi dan pembahasan perkembangan regional dalam kerangka hubungan kerja sama yang saling menguntungkan.
Isu Korea Utara dan Denuklirisasi Diperkirakan Menjadi Agenda Pembicaraan
Meskipun agenda spesifik belum sepenuhnya dirilis, diperkirakan isu terkait Korea Utara (Korut) dan denuklirisasi Semenanjung Korea akan menjadi salah satu agenda pembicaraan krusial. Kunjungan Presiden Lee ke Tiongkok ini terjadi menjelang kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok pada April 2026.
Seoul memiliki harapan bahwa pertemuan tersebut akan memberikan kesempatan bagi Presiden Trump untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Pertemuan ini diharapkan dapat menciptakan momentum positif untuk dialog lanjutan dengan Pyongyang mengenai rencana perdamaian di Semenanjung Korea, termasuk upaya menuju denuklirisasi.
Namun, diskusi antara Seoul dan Beijing mengenai isu-isu sensitif ini diperkirakan akan berlangsung secara tertutup, mengingat sikap pemimpin Korea Utara yang sebelumnya telah menolak negosiasi denuklirisasi dan dialog antar-Korea. Peran Tiongkok sebagai tetangga dekat Korea Utara dan mitra dagang utama sangat signifikan dalam upaya diplomasi di kawasan ini.
Kunjungan ke Shanghai: Menghormati Warisan Sejarah dan Membangun Koneksi
Dalam rangkaian kunjungannya, Presiden Lee juga akan singgah di Shanghai. Di kota metropolitan ini, Presiden Lee dijadwalkan untuk bertemu dengan warga Korea yang tinggal di luar negeri, serta tokoh-tokoh penting di Tiongkok. Kunjungan ke Shanghai juga memiliki makna historis yang mendalam, di mana Presiden Lee akan berkesempatan untuk menghormati warisan para pejuang kemerdekaan Korea.
Shanghai merupakan lokasi penting bagi situs-situs bersejarah terkait pemerintahan sementara Korea yang dibentuk untuk melawan penjajahan Jepang pada periode 1910-1945. Tahun 2026 menandai peringatan 150 tahun kelahiran Kim Koo, seorang tokoh penting dan mantan perdana menteri pemerintahan sementara Korea. Kunjungan ke situs-situs bersejarah ini diharapkan dapat memperkuat ikatan emosional dan kesadaran sejarah antara Korea Selatan dan komunitas diaspora di Tiongkok.
Presiden Lee dalam perjalanannya ke Tiongkok juga akan didampingi oleh sejumlah pemimpin bisnis terkemuka dari Korea Selatan. Kehadiran delegasi bisnis ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan investasi lebih lanjut.






