Profil Sabrang & Frank Hutapea: Putra Cak Nun & Hotman Paris Jadi Tenaga Ahli Menhan

Dua Tokoh Muda Latar Belakang Berbeda Lantik Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional

Panggung pemerintahan kembali diramaikan oleh kehadiran dua sosok muda yang menonjol, membawa latar belakang yang sangat kontras namun sama-sama ikonik. Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, secara resmi melantik 12 orang Tenaga Ahli di lingkungan Dewan Pertahanan Nasional (DPN) pada Kamis, 15 Januari 2026. Di antara deretan nama yang dilantik, terselip dua figur yang menarik perhatian publik: Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal sebagai vokalis band Letto dan juga putra dari budayawan ternama Cak Nun, serta Frank Alexander Hutapea, putra sulung dari pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. Keduanya kini siap untuk mengabdikan keahlian mereka di balik meja strategis pertahanan negara.

Prosesi pelantikan ini dilaksanakan oleh Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, yang juga menjabat sebagai Ketua Harian DPN RI. Acara berlangsung di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Gedung Jenderal Sudirman, Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat. Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan), menjelaskan bahwa pelantikan ini merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperkuat jajaran pemikir di tubuh DPN. Tujuannya adalah untuk menghadapi dinamika tantangan global yang semakin kompleks.

“Para tenaga ahli ini akan mengisi posisi krusial sebagai Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda pada kedeputian bidang Geoekonomi, Geopolitik, serta Geostrategi,” ujar Rico saat dikonfirmasi pada Jumat, 16 Januari 2026. Ia menambahkan, “Pengangkatan ini merupakan langkah nyata Kementerian Pertahanan dalam mengintegrasikan keahlian akademis dan praktis guna mendukung kelancaran tugas-tugas Dewan Pertahanan Nasional.”

Profil Profesional dan Personal Frank Hutapea

Frank Alexander Hutapea merupakan buah hati pertama dari pasangan Hotman Paris Hutapea dan Agustianne Marbun. Lahir pada tahun 1991, Frank adalah kakak dari Felicia Putri Parisienne Hutapea dan Fritz Paris Junior Hutapea. Dalam ranah pendidikan, Frank menempuh studi hukum di University of Kent, London. Ia berhasil meraih gelar Legum Baccalaureus (LLB) atau yang setara dengan Sarjana Hukum dari salah satu universitas dengan fakultas hukum bergengsi di London tersebut.

Mengenai rekam jejak kariernya, Frank Hutapea memiliki pengalaman yang cukup mentereng. Ia pernah bekerja sebagai Associate Trainee di kantor hukum Hadinoto Hadriputranto and Partners selama satu tahun, terhitung sejak April 2013 hingga September 2014. Berdasarkan informasi dari profil LinkedIn-nya, Frank Hutapea saat ini menjabat sebagai partner di firma hukum milik ayahnya, Hotman Paris. Profesi ini telah digelutinya selama empat tahun, dimulai sejak September 2014. Sebelum kembali ke firma keluarga, Frank sempat membentuk FRANK Solicitors pada Desember 2025.

Di kehidupan pribadinya, Frank Hutapea telah resmi menikah dengan kekasihnya, Winona Delany Tandra, pada 4 Januari 2025. Pernikahan yang digelar tahun lalu ini sempat menjadi sorotan publik, terutama ketika Hotman Paris secara terbuka menyebutkan bahwa ia menggelontorkan dana sebesar Rp 5 miliar untuk perhelatan pernikahan putranya. Sosok Winona Delany juga bukan berasal dari kalangan biasa. Menantu Hotman Paris ini pernah menempuh pendidikan di University of Exeter, Inggris, mengambil jurusan Ekonomi Bisnis dan berhasil meraih gelar Bachelor of Arts pada tahun 2014. Selama masa studinya, Winona juga sempat menjalani magang di perusahaan UOB Kay Hian di Singapura. Selain itu, ia pernah mengemban posisi sebagai Senior Analyst di salah satu perusahaan yang termasuk dalam “Big 4”, yaitu KPMG Indonesia. Istilah “Big 4” sendiri merujuk pada empat kantor akuntan dan firma jasa profesional terbesar di dunia, baik dari segi pendapatan maupun reputasi global. KPMG Indonesia adalah salah satu dari empat anggota kelompok elite tersebut.

Profil Sabrang: Ilmuwan Matematika-Fisika di Balik Vokalis Band Letto

Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal luas dengan nama panggung Noe Letto, lahir di Yogyakarta pada 10 Juni 1979. Usianya kini mencapai 46 tahun. Ia dikenal sebagai vokalis band Letto. Sabrang adalah anak pertama dari budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dari pernikahannya dengan Neneng Suryaningsih. Ia juga merupakan anak sambung dari aktris dan penyanyi senior Novia Kolopaking, yang merawatnya sejak kecil sehingga hubungan mereka sangat dekat. Masa kecil Noe sempat dihabiskan di Lampung sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta.

Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sabrang mulai bersentuhan dengan dunia musik. Pengalaman awalnya bermula dari kaset musik Queen yang ia terima dari pamannya. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas di Yogyakarta, Sabrang melanjutkan studinya ke University of Alberta, Kanada. Perguruan tinggi ini merupakan salah satu institusi bergengsi yang masuk dalam jajaran elite top 5 di Kanada dan peringkat 100–150 dunia. Reputasi kampus tersebut sangat kuat, terutama dalam bidang riset dan inovasi, menjadikannya tempat yang menantang sekaligus prestisius bagi Sabrang untuk menempuh dua jurusan sekaligus: matematika dan fisika.

Di tengah masa studinya, krisis moneter melanda, memaksa Sabrang untuk bekerja paruh waktu demi bertahan hidup. Namun, ia berhasil menyelesaikan studinya dengan gemilang. Pada tahun 2003, Sabrang resmi meraih gelar Bachelor of Science di kedua bidang tersebut. Sepulang dari Kanada, Sabrang aktif di studio KiaiKanjeng, di mana ia mendalami mixing, mastering, dan proses penulisan musik.

Pada tahun 2005, bersama dengan Ari, Dedy, dan Patub, putra Cak Nun ini membentuk band Letto. Mereka merilis album debut bertajuk “Truth, Cry, and Lie,” yang sukses besar hingga meraih penghargaan double platinum, sebuah apresiasi industri musik atas pencapaian penjualan album dalam jumlah sangat besar. Dua tahun kemudian, pada 2007, Letto kembali mengukuhkan posisinya di industri musik melalui album “Don’t Make Me Sad.” Di pertengahan era 2000-an, Sabrang dikenal luas melalui lagu-lagu hits seperti “Ruang Rindu,” “Sebelum Cahaya,” dan “Sandaran Hati.” Lagu-lagu ini begitu melekat di ingatan publik dan menjadikan Letto sebagai salah satu band yang paling berpengaruh pada masanya.

Memasuki tahun 2008, Noe mendirikan Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman. Melalui rumah produksi ini, lahir sejumlah film yang mendapat apresiasi, antara lain “Minggu Pagi di Victoria Park” (2010), “RAYYA, Cahaya Di Atas Cahaya” (2011), dan “Guru Bangsa Tjokroaminoto” (2015). Dalam kehidupan pribadinya, Sabrang menikah dengan Fauzia Fajar Putri Khaeruddin (Uci) pada 19 Februari 2009 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua orang anak, dan hubungan keluarga mereka tetap harmonis hingga kini.

Pos terkait