Kisah Mimin Maidah: Dari Pengakuan Pemotongan BLT hingga Klarifikasi yang Meragukan
Sebuah video yang beredar di media sosial memunculkan isu dugaan pemotongan Bantuan Langsung Tunai Kesejahteraan Rakyat (BLT Kesra). Dalam video tersebut, seorang ibu bernama Mimin Maidah mengaku menerima BLT Kesra sebesar Rp900.000, namun hanya menerima Rp400.000 setelah dipotong Rp500.000 oleh seorang oknum pegawai desa. Kejadian ini sontak menjadi sorotan publik, memicu beragam reaksi dan pertanyaan mengenai transparansi penyaluran bantuan sosial.
Mimin Maidah, yang diketahui merupakan warga Kampung Cicalobak, Desa Karangwangi, Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menceritakan kronologi kejadian saat ia mencairkan dana BLT Kesra di kantor pos setempat. Ia diminta untuk menyerahkan dokumen persyaratan, termasuk fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Setelah proses tersebut, ia menerima uang tunai sebesar Rp900.000. Namun, ironisnya, setelah uang diserahkan kembali kepada pegawai desa yang mendampinginya, sejumlah Rp500.000 justru diambil, menyisakan Rp400.000 untuk Mimin Maidah. KTP aslinya pun sempat ditahan oleh pegawai desa tersebut, sementara surat dari kantor pos ditahan kembali olehnya.
Dalam pengakuannya, Mimin Maidah juga menyatakan bahwa saat penyerahan uang dan pemotongan terjadi, pegawai kantor pos dan pegawai desa duduk berdekatan. Ia mengaku awalnya merasa bingung dan langsung pulang tanpa menandatangani dokumen apapun. Pengakuan ini terekam dalam video yang kemudian viral dan mengundang simpati serta kemarahan publik.
Klarifikasi Mendadak: Benarkah Ada Intimidasi?
Tak lama setelah video pengakuannya menghebohkan jagat maya, Mimin Maidah kembali muncul dalam sebuah video baru dengan pernyataan yang berbeda. Dalam video klarifikasi tersebut, Mimin Maidah tampak diarahkan untuk membaca sebuah pernyataan yang intinya meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan oleh video sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak menyadari bahwa pengakuannya direkam dan dijadikan konten.
Mengenai isu pemotongan dana BLT Kesra, Mimin Maidah mengklarifikasi bahwa uang Rp500.000 tersebut bukanlah hasil potongan, melainkan diberikan secara sukarela. Ia mengaku memberikan uang tersebut kepada warga lain yang tidak kebagian BLT Kesra, sebagai bentuk kepedulian. “Bukan potongan, tapi saya memberikan dengan sadar dan ikhlas untuk mereka yang tidak kebagian,” ujarnya dalam video klarifikasi.
Namun, klarifikasi mendadak ini justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan di kalangan warganet. Banyak yang menduga bahwa Mimin Maidah terintimidasi atau dipaksa untuk memberikan pernyataan klarifikasi tersebut. Komentar-komentar di media sosial dipenuhi dengan kecurigaan, seperti:
- “Diintimidasi ya, Bu?”
- “Hmm curiga diintimidasi, sing sabar nya bu.”
- “Logikana we ath, piraku we saiklasna 500k. Mun karek 50k wajar saiklasna.”
- “Asa teu mungkin…. jadi kitu akhirna…..? Curiga yeuh, aya aparat desa nah nga intimidasi..”
- “Usut tah perangkat desa na.. mun bisa penjarakeun mun terbukti aya indikasi intimidasi dan pengancaman..”
- “500rb / org di X berapa banyak, gede pasti jumlahnya. Trs kenapa harus di pegang sama perangkat desa uangnya ya ? Masa masih lebih besar ngasih iklas dibanding uang yg dibawa sama penerima BLT.”
Hingga berita ini dimuat, belum ada keterangan resmi dari pihak pegawai desa yang bersangkutan terkait dengan dugaan pemotongan dana BLT Kesra maupun tudingan intimidasi.
Kasus Serupa: Protes Bansos Tak Tepat Sasaran di Pematangsiantar
Kasus dugaan penyalahgunaan atau ketidaktepatan sasaran bantuan sosial bukan kali ini saja terjadi. Beberapa waktu lalu, sebuah video lain yang menampilkan seorang pria marah-marah terkait penyaluran bansos yang dianggap tidak merata juga viral. Pria yang mengaku berasal dari Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, ini meluapkan kekecewaannya karena tidak menerima BLT Kesra, padahal ia adalah seorang yang menyewa rumah dan berprofesi sebagai pengemudi ojek online.
Pria tersebut, yang belakangan diketahui bernama Darma Washington Munthe, memprotes mengapa warga yang tinggal di rumah mewah dan memiliki mobil justru menerima bantuan, sementara dirinya yang hidup dalam kondisi memprihatinkan tidak mendapatkannya. Ia merasa kebijakan pemerintah terkait bantuan sosial sangat kacau.
Video protes Darma yang diunggah oleh istrinya, Dina Girsang, di media sosial menarik perhatian banyak pihak. Setelah videonya viral, Darma Washington Munthe akhirnya memberikan klarifikasi dan mengakui bahwa keluarganya pernah menerima beberapa bentuk bantuan sosial dari Pemerintah Kota Pematangsiantar.
Mediasi dan Penyelesaian: Upaya Memperbaiki Data Penerima Bansos
Menanggapi tudingan Darma Washington Munthe mengenai bantuan sosial yang tidak tepat sasaran, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kota Pematangsiantar bersama Pemerintah Kelurahan Asuhan Kecamatan Siantar Timur melakukan mediasi. Pertemuan tersebut berlangsung di Kantor Lurah Asuhan.
Dalam mediasi tersebut, Darma didampingi oleh istrinya dan akhirnya mengakui bahwa keluarganya telah beberapa kali menerima bantuan, seperti KIS/BPJS Kesehatan, bantuan tali asih dari Kecamatan Siantar Timur, serta bantuan pangan beras. Ia menyampaikan permohonan maaf atas video keluhannya yang beredar dan berharap agar pemerintah daerah memperbarui data penerima bantuan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Meskipun telah mengakui menerima beberapa bantuan, Darma tetap menanyakan alasan mengapa ia tidak mendapatkan BLTS Kesra. Setelah berkoordinasi dengan Dinsos P3A, Darma dijanjikan akan diprioritaskan untuk mendapatkan BLTS Kesra pada tahun 2026. Selain itu, ia juga akan diusulkan untuk mendapatkan bantuan pangan beras yang akan disalurkan dalam waktu dekat.
Pihak kelurahan mengimbau agar warga senantiasa berkoordinasi dengan pihak kelurahan terkait bantuan yang tersedia. Mediasi ini dihadiri oleh berbagai pihak terkait dari unsur kecamatan, kelurahan, Dinsos P3A, serta aparat keamanan lingkungan. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya akurasi data penerima bantuan sosial agar bantuan tersebut benar-benar tepat sasaran dan tersalurkan kepada mereka yang membutuhkan.





