JAKARTA – Sebanyak 30 guru sejarah yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) mengikuti sebuah workshop dengan tema “Penguatan Materi Sejarah Indonesia Awal Bagi Guru Sejarah MGMP Jakarta”. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 24 April 2026, di SMAN 68 Jakarta. Workshop diselenggarakan oleh Universitas Negeri Jakarta sebagai bagian dari pengabdian masyarakat kolaborasi internasional.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Community Development UNJ yang diketuai oleh Dr. Kurniawati, dosen program studi Pendidikan Sejarah UNJ. Selain itu, kegiatan juga melibatkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP Sejarah) dan peneliti Chung Cheng University Taiwan, Dr. Teddy Y H Sim, yang merupakan ahli dalam kajian sejarah Asia Tenggara dan Taiwan.
Pengabdian masyarakat internasional ini merupakan bagian dari Program Equity (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition), sebuah program strategis yang dimulai sejak 2023. Program ini bertujuan untuk memfasilitasi 16 PTNBH termasuk UNJ agar meningkatkan kualitas pendidikan dan mencapai pengakuan global melalui THE Impact Ranking.
Workshop ini didanai oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Ketua Tim Community Development yang juga Wakil Dekan 1 FISH UNJ, Dr. Kurniawati, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pengabdian masyarakat tahun 2025 yang juga membahas pertukaran pandangan sejarah antara mahasiswa Indonesia dan Taiwan dengan narasumber Dr. Teddy Y H Sim.
Keberhasilan program pengabdian 2025 kemudian ditingkatkan pada 2026 dengan menghadirkan Dr. Teddy Y H Sim sebagai narasumber bersama MGMP Sejarah Jakarta. “Melalui kegiatan ini, diharapkan akan meningkatkan wawasan dan pengetahuan guru-guru sejarah,” ujarnya dalam pernyataannya di Jakarta, Ahad (26/4/2026).
Workshop diawali dengan presentasi narasumber bertajuk “Penguatan Materi Sejarah Indonesia Awal bagi Guru Sejarah MGMP Jakarta melalui Kajian Migrasi Austronesia dalam Pembentukan Masyarakat Multikultural Indonesia”. Dr. Teddy Y H Sim menjelaskan berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi guru-guru sejarah. Pemaparannya kemudian dikaitkan dengan konten kesejarahan migrasi Austronesia yang memberikan penjelasan tentang asal-usul manusia Indonesia.
Topik yang disampaikan menarik minat para guru sejarah yang kemudian bertanya atau memberi tanggapan berdasarkan pengalaman mereka selama mengajar di kelas sejarah. Pada sesi berikutnya, peserta diminta mengisi kuesioner yang telah disiapkan oleh tim. Pertanyaan berkaitan dengan pengalaman dan pemahaman guru-guru selama mengajar tentang topik sejarah Indonesia awal, khususnya materi migrasi Austronesia dan multikulturalisme.
Hasil kuesioner kemudian dibahas dalam sesi siang, dengan mendiskusikan kembali jawaban dari peserta. Sebelum diskusi, salah satu peserta, yaitu Ketua MGMP Jakarta Zia Ul Haq, berbagi praktik baik mengenai pengajaran sejarah Indonesia Awal. Ia menyatakan bahwa pembelajaran dapat berjalan menarik dengan menampilkan kasus-kasus terkait etnis dewasa ini.
Selanjutnya, dilakukan diskusi yang dipimpin langsung oleh Ketua Tim, Dr. Kurniawati, dengan memaparkan kembali hasil jawaban dari kuesioner peserta. Tujuan pemaparan ini adalah untuk mengetahui persepsi guru sejarah terkait topik yang disajikan selama ini.
Sebagai penutup, Dr. Kurniawati berharap kegiatan ini dapat membuka peluang kolaboratif yang lebih luas di masa depan seperti kerja sama penelitian. “Kegiatan ini bagi UNJ merupakan wujud penerapan Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya SDGs ke-4 yaitu peningkatan kualitas pendidikan,” ujarnya.






