Refleksi 2025: Agenda 2026

Memasuki tahun baru, evaluasi kinerja menjadi krusial bagi pemerintah di berbagai tingkatan. Refleksi mendalam terhadap program yang telah dilaksanakan, capaian kinerja, serta hambatan yang dihadapi adalah langkah esensial untuk perbaikan. Evaluasi tidak hanya sekadar menilai kualitas, efektivitas, dan efisiensi suatu program, proyek, atau kegiatan, tetapi juga menjadi alat untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, meningkatkan kualitas dan kinerja, serta menginformasikan keputusan dan perencanaan strategis di masa depan.

Memahami Tingkatan Evaluasi Program

Pemerintah tidak boleh berhenti pada tahap hasil atau output. Output adalah hasil langsung dari suatu kegiatan atau proyek, seperti jumlah produk yang dihasilkan, jumlah orang yang dilatih, atau jumlah layanan yang diberikan.

Sebagai contoh sederhana, sebuah kegiatan “penanaman 1.000 pohon penghijauan di kawasan polder”. Jika dilihat dari sisi output, menanam 1.000 pohon di kawasan tersebut berarti mencapai target 100 persen. Buktinya adalah tertanamnya 1.000 pohon. Namun, pertanyaan krusial selanjutnya adalah: berapa banyak dari pohon tersebut yang hidup dan tumbuh dengan baik dalam jangka waktu 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun, dan seterusnya? Selain itu, apakah kawasan polder tersebut menjadi lebih hijau dan asri berkat penanaman pohon tersebut?

Setelah output, kita perlu membicarakan outcome. Secara sederhana, outcome adalah perubahan yang terjadi sebagai akibat dari output yang dihasilkan. Outcome dapat berupa perubahan perilaku, pengetahuan, atau kondisi yang diharapkan. Dalam kasus penghijauan, penting untuk memastikan berapa persen dari 1.000 pohon yang ditanam benar-benar hidup. Di negara-negara maju, hal ini menjadi perhatian serius. Namun, di Indonesia, kegiatan penanaman pohon terkadang masih bersifat seremonial, sehingga tingkat keberhasilan program dalam jangka menengah dan panjang seringkali terabaikan.

Sebuah berita yang diangkat oleh Harian Kompas pada 30 Desember, misalnya, mengabarkan tentang “Diresmikan Wapres Gibran, Ladang Jagung di Tangerang Kini Terbengkalai dan Dipenuhi Rumput Liar”. Berita tersebut merinci bagaimana ladang jagung di Desa Bantarpanjang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka pada Oktober 2025 sebagai bagian dari Program Ketahanan Pangan Nasional, kini justru dipenuhi rumput liar. Ini menjadi contoh nyata bagaimana output (penanaman jagung) tidak serta-merta menghasilkan outcome yang diharapkan.

Selanjutnya, kita perlu mempertimbangkan fungsionalitas suatu proyek. Apakah kegiatan atau proyek tersebut benar-benar berfungsi dan dimanfaatkan oleh masyarakat atau target sasaran? Contohnya adalah pembangunan Pasar Desa. Sebuah pasar mungkin sudah terbangun dengan baik, memiliki fasilitas listrik dan air bersih, namun jika lokasinya tidak strategis dan jauh dari pemukiman, masyarakat mungkin enggan memanfaatkannya. Evaluasi semacam ini penting untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.

Di skala nasional, pembangunan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, bisa menjadi ilustrasi. Bandara ini digagas untuk menggantikan Bandara Husain Sastranegara di Bandung dan merupakan bandara terbesar kedua dari sisi luas kawasan setelah Soekarno-Hatta. Namun, bandara yang dibangun dengan dana miliaran rupiah ini tetap sepi penumpang, seolah mati suri. Berbagai insentif telah diberikan, seperti bus gratis dari Bandung, namun tetap tidak mampu menarik minat maskapai dan penumpang. Pemilihan lokasi yang tidak efisien dalam hal waktu dan biaya dibandingkan dengan Bandara Soekarno-Hatta menjadi faktor utama. Banyak orang lebih memilih terbang ke Jakarta lalu melanjutkan perjalanan ke Bandung, karena banyaknya pilihan maskapai, jadwal penerbangan yang lebih banyak, harga tiket yang lebih murah, serta ketersediaan moda transportasi yang beragam dari Jakarta ke Bandung. Frekuensi penerbangan yang terbatas ke Kertajati membuatnya tidak praktis dan tidak kompetitif.

Dampak Jangka Panjang: Impact

Terakhir, yang tidak kalah penting adalah impact, yaitu dampak jangka panjang yang dihasilkan dari outcome. Impact dapat berupa perubahan yang signifikan dan berkelanjutan dalam masyarakat, ekonomi, atau lingkungan. Kembali ke contoh penanaman 1.000 pohon di kawasan polder, impact jangka panjangnya adalah penurunan risiko banjir dan longsor, peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui lingkungan yang lebih sehat dan nyaman, peningkatan nilai ekonomi kawasan melalui potensi wisata dan kenaikan harga properti, serta kontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon dioksida.

Kanibalisme Program: Ancaman Tersembunyi

Fenomena lain yang perlu dicermati adalah “kanibalisme program” atau kegiatan. Mirip dengan praktik yang pernah terjadi pada maskapai penerbangan Adam Air yang menggunakan suku cadang dari pesawat lain yang tidak beroperasi, praktik serupa bisa terjadi pada program pemerintah, meskipun seringkali tidak disadari.

Sebagai ilustrasi, sebuah Dinas Pertanian di suatu kabupaten membuat program bantuan bibit pohon nangka untuk masyarakat. Setahun atau dua tahun kemudian, di lokasi yang sama, Dinas Peternakan meluncurkan proyek pengadaan bibit anak kambing. Semua kepala keluarga yang menerima bibit nangka juga mendapat bibit kambing, dengan tujuan mulia mengentaskan kemiskinan. Namun, masalah muncul ketika kambing-kambing yang dibiarkan lepas atau tidak dikandangkan dengan baik memakan habis daun-daun pohon nangka yang sedang tumbuh subur. Akibatnya, program Dinas Pertanian menjadi sia-sia karena dimakan oleh program Dinas Peternakan. Inilah yang disebut kanibalisme program, di mana satu program secara tidak sengaja mematikan program lain.

Fenomena seperti ini menuntut pencermatan, koordinasi, dan kolaborasi antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), terutama di tengah penurunan anggaran. Dengan menurunnya dana transfer ke daerah (TKD), setiap program dan kegiatan harus dirancang agar lebih efisien dan efektif, tidak hanya diukur dari pencapaian output, tetapi juga outcome dan impact jangka panjangnya yang jauh lebih krusial.

Pos terkait