Rektor Unkhair Nyalakan Obor Ela-Ela Sambut Lailatul Qadar

Tradisi Ela-Ela: Simbol Keagamaan dan Identitas Budaya Ternate dalam Menyambut Lailatul Qadar

Kota Ternate, Maluku Utara – Suasana khidmat menyelimuti Kedaton Kesultanan Ternate saat Sultan Ternate, Hidayatullah Mudaffar Syah, bersama Rektor Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Abdullah W. Jabid, menyalakan obor induk. Aksi ini menandai dimulainya tradisi Ela-Ela, sebuah ritual sakral yang diselenggarakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan terhadap malam Lailatul Qadar, malam penuh kemuliaan dalam kalender Islam.

Acara yang berlangsung pada Senin malam, 16 Maret 2026, ini tidak hanya dihadiri oleh para petinggi kesultanan dan pejabat daerah, tetapi juga oleh ribuan masyarakat Ternate yang memadati kawasan kedaton. Mereka hadir dengan antusias untuk menyaksikan langsung prosesi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun ini. Kehadiran masyarakat yang begitu besar menunjukkan betapa dalamnya makna tradisi ini bagi identitas dan spiritualitas masyarakat Ternate.

Prosesi penyalaan obor induk menjadi puncak dari rangkaian acara yang dimulai menjelang waktu Magrib. Sekitar pukul 19.25 WIT, Sultan Ternate didampingi oleh Rektor Unkhair, Wali Kota Ternate Tauhid Soleman, dan Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, secara bersama-sama menyalakan obor yang telah disiapkan. Momen ini disaksikan langsung oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta para tokoh adat dan masyarakat.

Sebelum obor induk dinyalakan, serangkaian doa dipanjatkan yang dipimpin oleh para perangkat adat Kesultanan Ternate. Doa-doa tersebut memohon keberkahan dan kelancaran dalam menyambut malam Lailatul Qadar. Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi adat Kabasarang Uci, sebuah ritual yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan tinggi dalam tradisi Kesultanan Ternate. Prosesi ini merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan relevan bagi generasi penerus.

Makna Mendalam Tradisi Ela-Ela

Tradisi malam Ela-Ela memiliki makna yang sangat mendalam, tidak hanya sebagai perayaan keagamaan tetapi juga sebagai penegasan identitas budaya masyarakat Ternate. Rektor Unkhair Ternate, Abdullah W. Jabid, dalam keterangannya, menegaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai keagamaan dan menjadi ciri khas masyarakat Ternate dalam menyambut salah satu malam paling istimewa dalam bulan Ramadan.

“Tradisi ini harus terus dijaga dan dilestarikan karena mengandung nilai agama dan adat yang kuat dalam kehidupan masyarakat Ternate,” ujar Rektor Abdullah W. Jabid. Ia menekankan bahwa pelestarian budaya seperti Ela-Ela bukan hanya sekadar menjalankan ritual, melainkan sebuah upaya untuk memperkuat akar dan jati diri masyarakat Ternate di tengah arus modernisasi.

Lebih lanjut, Rektor Abdullah W. Jabid menyampaikan komitmen Universitas Khairun Ternate dalam mendukung upaya pelestarian adat dan budaya lokal. Ia melihat hal ini sebagai bagian integral dari penguatan identitas masyarakat Maluku Utara secara keseluruhan. Dukungan dari institusi pendidikan seperti Unkhair diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam menjaga keberlangsungan tradisi-tradisi luhur yang ada di wilayah tersebut.

Perayaan yang tahun ini mengusung tema “Kabasaran Uci Malam Ela-Ela” ini berjalan lancar dan penuh kekhidmatan. Kehadiran berbagai elemen masyarakat, mulai dari unsur Forkopimda Kota Ternate, perangkat adat Kesultanan, pejabat daerah, hingga masyarakat umum, menunjukkan sinergi yang baik dalam menghargai dan melestarikan warisan budaya. Antusiasme masyarakat yang memadati kedaton menjadi bukti nyata bahwa tradisi ini masih memiliki tempat yang istimewa di hati mereka.

Setelah rangkaian acara di kedaton selesai, rombongan Sultan, Rektor, dan para tamu undangan melanjutkan perjalanan menuju Masjid Sigi Lamo Kesultanan Ternate untuk melaksanakan salat Isya dan tarawih berjamaah. Aktivitas ini semakin mengukuhkan nuansa religius dari perayaan malam Ela-Ela, menggabungkan unsur adat dan ibadah dalam satu kesatuan yang harmonis.

Tradisi Ela-Ela ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya lokal dan penguatan nilai-nilai spiritual. Melalui ritual seperti ini, masyarakat Ternate tidak hanya merayakan momen keagamaan yang penting, tetapi juga meneguhkan kembali identitas budaya mereka yang kaya, warisan berharga yang patut dijaga kelestariannya untuk generasi yang akan datang.

Pos terkait