Iran Luncurkan Rudal Balistik ke Diego Garcia, Ketegangan Meningkat di Samudera Hindia
Teheran – Iran dilaporkan telah meluncurkan rudal balistik yang mengarah ke Pangkalan Udara Diego Garcia, sebuah instalasi militer Inggris yang strategis di Samudera Hindia. Insiden ini meningkatkan ketegangan yang sudah memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya, Inggris.
Menurut laporan dari pejabat Amerika Serikat yang dikutip oleh Wall Street Journal, dua rudal balistik Iran dilaporkan telah diluncurkan dan mampu menempuh jarak sekitar 4.000 kilometer. Namun, rudal-rudal tersebut dilaporkan berhasil diintersep sebelum mencapai wilayah Kepulauan Chagos, yang mencakup Diego Garcia.
Penargetan Diego Garcia oleh Iran diduga merupakan respons langsung terhadap keputusan Inggris yang mengizinkan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan dari pangkalan tersebut. Serangan AS yang dimaksud menargetkan beberapa titik di sekitar Selat Hormuz pada Jumat sore. Tindakan Inggris ini memicu kemarahan pemerintah Iran, yang melihatnya sebagai bentuk bantuan terhadap agresi AS.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui akun media sosialnya, menyampaikan kekecewaannya terhadap langkah Inggris. Ia menyatakan bahwa mayoritas rakyat Inggris tidak menginginkan keterlibatan dalam perang yang disebutnya sebagai perang Israel-AS melawan Iran. Araghchi mengkritik Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, karena dianggap mengabaikan kehendak rakyatnya sendiri dan menempatkan banyak nyawa warga Inggris dalam bahaya dengan mengizinkan pangkalan Inggris digunakan untuk agresi terhadap Iran.
Media Iran, Mehr News, menggambarkan penargetan Diego Garcia sebagai sebuah “langkah signifikan yang menunjukkan jarak jangkauan rudal-rudal Iran melebihi apa yang dibayangkan musuh sebelumnya.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran ingin menunjukkan kapabilitas militernya yang semakin meningkat dan kemampuannya untuk menjangkau target yang jauh.
Sebelumnya, Pemerintah Inggris sendiri telah menyatakan sikapnya terkait penggunaan pangkalan militer mereka. Berdasarkan laporan dari BBC, pada Kamis (19 Februari 2026), Inggris menegaskan tidak akan mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer mereka, termasuk Diego Garcia, sebagai landasan bagi jet-jet tempur untuk menyerang Iran. Diketahui bahwa Amerika Serikat memiliki sejarah penggunaan pangkalan militer Inggris, seperti RAF Fairford di Gloucestershire dan wilayah kepulauan di lautan seperti Diego Garcia, untuk melancarkan misi militer di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, laporan dari The Times mengaitkan kritik Presiden AS Donald Trump kepada Perdana Menteri Inggris Keir Starmer baru-baru ini dengan isu kesepakatan penyerahan Kepulauan Chagos kepada Mauritius. Trump dilaporkan kesal karena London memblokir Washington menggunakan pangkalan di sana untuk melancarkan serangan ke Iran. Dalam perjanjian penggunaan pangkalan Inggris yang berlaku jangka panjang, Amerika Serikat memang diwajibkan meminta izin terlebih dahulu kepada London sebelum melancarkan serangan militer.
Pada bulan Januari, editor politik BBC, Chris Mason, pernah menanyakan langsung kepada Keir Starmer apakah ia mendukung serangan AS ke Iran. Saat itu, Perdana Menteri Inggris menjawab bahwa ia sedang berkomunikasi dengan para sekutu mengenai cara-cara untuk mencegah Iran mengembangkan aktivitas nuklir dan menghentikan tindakan represif terhadap demonstran. “Tujuannya di sini adalah bahwa Iran harus tidak boleh mengembangkan senjata nuklir. Itu luar biasa sangat penting,” ujar Starmer kala itu, menekankan prioritasnya pada isu nuklir.

Penolakan Gencatan Senjata dan Upaya Dialog yang Terkendala
Di sisi lain, eskalasi ketegangan ini juga diwarnai oleh penolakan gencatan senjata dari pihak Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump, pada Jumat (20 Maret 2026), menyatakan bahwa ia tidak mendukung adanya gencatan senjata dalam perang yang sedang berlangsung antara AS dan Israel melawan Iran. “Saya tidak ingin melakukan gencatan senjata. Anda tahu, Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda benar-benar menghancurkan pihak lain,” kata Trump kepada wartawan sebelum meninggalkan Gedung Putih.
Ketika ditanya apakah Israel akan siap mengakhiri perang bersamaan dengan Washington, Trump menjawab dengan optimis. “Saya pikir begitu. Hubungannya sangat baik… Kami menginginkan hal-hal yang kurang lebih sama… Kami menginginkan kemenangan, kami berdua.” Pernyataan ini muncul beberapa jam setelah Trump sebelumnya sempat menyatakan keinginannya untuk membuka dialog dengan Iran. Namun, ia menilai “tak ada pihak untuk diajak bicara” setelah berminggu-minggu serangan AS-Israel yang dilaporkan telah menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk tokoh-tokoh penting seperti Ali Khamenei dan Ali Larijani.
Iran sendiri juga menolak usulan pembicaraan gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan pada minggu ini bahwa Amerika Serikat “bertanggung jawab” atas perang yang terjadi dan dampaknya yang meluas di kawasan tersebut. Sikap Iran ini menunjukkan bahwa jalan menuju de-eskalasi konflik masih sangat jauh, dengan kedua belah pihak menunjukkan keteguhan posisi masing-masing.
Situasi di Samudera Hindia dan Timur Tengah kini menjadi sorotan utama dunia, dengan potensi konflik yang semakin meningkat akibat tindakan saling balas yang terjadi antara Iran dan koalisi AS-Inggris. Pangkalan Diego Garcia, yang merupakan aset strategis penting, kini menjadi simbol ketegangan geopolitik yang semakin kompleks.





