Rudi: Kopi Mudik Karawang, Ganti Pulang Kampung ke Sumedang

Perjuangan di Pinggir Jalur Mudik: Kisah Pedagang Kopi di Tengah Arus Lebaran

Libur Lebaran sering kali diidentikkan dengan momen berkumpul bersama keluarga, pulang kampung, dan merayakan sukacita. Namun, di balik kemeriahan itu, terselip kisah-kisah perjuangan yang tak kalah mengharukan. Salah satunya adalah kisah Rudi Hartono (50), seorang warga Rawamerta, Karawang, Jawa Barat, yang memilih menukar rindu dengan sanak saudara demi mendapatkan penghasilan tambahan. Alih-alih merayakan Idul Fitri di kampung halamannya di Sumedang, Rudi justru menghabiskan hari-harinya di pinggir jalur mudik Lebaran 2026, menjajakan kopi dan minuman dingin dari atas sepeda motor bebeknya.

Keputusan ini bukanlah tanpa alasan. Keterbatasan biaya menjadi faktor utama yang membuatnya harus menunda kepulangan. Rudi harus memendam rasa rindu yang mendalam kepada kedua orang tuanya, serta keluarga besarnya di Sumedang. Ia memilih bertahan di Karawang dan mencoba peruntungan dengan berjualan di tengah hiruk pikuk kendaraan pemudik yang melintas.

Menjual Asa di Tengah Arus Kendaraan

Sejak sore hari, Rudi sudah bersiap di pinggir jalan. Termos berisi kopi panas dan deretan minuman dingin menjadi andalannya. Ia setia menunggu pembeli di antara deru mesin kendaraan yang tak henti-hentinya. Dari pukul 17.00 WIB hingga dini hari, Rudi berkeliling atau mangkal di titik-titik strategis yang ramai dilalui pemudik. Sebelumnya, ia biasa berjualan di depan SMA 4 Karawang. Namun, menjelang Lebaran, ajakan seorang teman membuatnya mencoba peruntungan di jalur Pantura, jalur utama mudik yang diprediksi akan sangat padat.

Upaya Rudi tidak sia-sia. Selama periode arus mudik, hasil penjualannya sempat memberikan harapan. Dalam sehari, ia mampu meraup omzet hingga Rp300 ribu. Angka ini tentu sangat berarti bagi Rudi yang sedang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, seiring berjalannya waktu dan bergantinya fase dari arus mudik ke arus balik, pendapatan Rudi mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kini, ia hanya bisa mengumpulkan sekitar Rp150 ribu per hari.

“Sekarang sudah sepi. Enggak seperti pas mudik,” keluhnya, ditemui di Jalan Lingkar Luar Tanjungpura–Klari, Karawang, pada Sabtu (28/3/2026). Penurunan omzet ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Rudi dalam menghadapi biaya hidup sehari-hari.

Lebih dari Sekadar Pedagang Kopi: Petani Penggarap yang Berjuang

Di balik profesinya sebagai pedagang kopi keliling, Rudi Hartono ternyata juga seorang petani penggarap. Ia menggarap lahan sawah seluas kurang lebih setengah hektare. Namun, profesi sebagai petani pun tidak selalu berjalan mulus. Meskipun harga gabah atau beras sempat mengalami kenaikan, biaya produksi justru semakin membengkak. Serangan hama yang tak kunjung usai dan tingginya biaya perawatan menjadi momok yang menakutkan bagi para petani.

“Kadang hasilnya enggak sebanding sama biaya,” ungkap Rudi dengan nada prihatin. Kondisi ini memaksa Rudi untuk bekerja ekstra keras. Setiap harinya, ia memulai aktivitas sejak pagi di sawah, kemudian beralih berjualan kopi di siang hari, dan kembali menekuni lapak dagangannya di pinggir jalan hingga larut malam. Tenaganya terkuras habis demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan keluarganya.

Lebaran di Perantauan: Kerinduan yang Tertahan

Libur Lebaran tahun ini menjadi momen yang paling berat bagi Rudi. Keputusannya untuk tidak pulang kampung ke Sumedang didasari oleh satu alasan kuat: tidak adanya biaya. Biaya untuk sekali pulang kampung, menurut perhitungan Rudi, bisa mencapai Rp10 juta. Angka yang sangat jauh dari kemampuannya saat ini.

“Enggak ada biaya buat pulang,” ucapnya lirih. Rasa rindu kepada kedua orang tua dan keluarga besar hanya bisa ia pendam dalam hati. Bahkan, pada hari pertama Lebaran, Rudi mengaku tidak sanggup untuk menghubungi mereka.

“Pas hari H itu enggak kuat nelpon. Takut kepikiran, takut sedih,” ujarnya. Ia khawatir jika mendengar suara keluarganya, rasa rindu itu akan semakin membuncah dan membuatnya larut dalam kesedihan.

Baru pada hari kedua Lebaran, Rudi memberanikan diri untuk menghubungi orang tuanya. Tujuannya sederhana, sekadar memastikan kabar dan menjalin silaturahmi meski hanya melalui suara di seberang telepon. Tidak ada tatap muka, tidak ada pelukan hangat yang bisa ia rasakan. Hanya percakapan singkat yang sarat makna.

Kisah Rudi Hartono ini menjadi pengingat bahwa di tengah gemerlap cerita mudik yang penuh kebahagiaan dan tawa, ada sisi lain yang jarang terlihat. Ini adalah kisah tentang keteguhan hati, perjuangan tanpa henti, dan pengorbanan yang dilakukan demi bertahan hidup. Rudi berdiri tegak di pinggir jalan, menahan rindu yang menggebu, dan terus berdagang demi menyambung asa. Ia adalah potret nyata dari banyak individu yang bekerja keras di balik layar, memastikan roda kehidupan terus berputar meski dalam situasi yang sulit. Kisahnya mengajarkan kita tentang arti ketahanan dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi cobaan hidup.

Pos terkait