Saham AS Tertekan Minyak, Inflasi Mengganas

Pasar Wall Street Tertekan: Minyak Mentah, Inflasi, dan Kebijakan The Fed Memicu Kekhawatiran

Pasar saham Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan pada Kamis (19/3/2026), dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah yang kembali membangkitkan kekhawatiran inflasi. Sikap hati-hati Federal Reserve (The Fed) terhadap pemotongan suku bunga semakin memperberat sentimen pasar, mendorong indeks-indeks utama ke zona merah.

Penurunan Indeks Utama dan Sektor yang Terdampak

Indeks Russell 2000, yang dikenal sensitif terhadap perubahan suku bunga, tercatat mengalami penurunan 0,4%. Indeks ini bahkan sempat menyentuh level terendah 10% dari rekor tertinggi intraday sepanjang masa, sebuah indikasi yang disebut sebagai “koreksi” dalam istilah pasar keuangan.

Meskipun terdapat proyeksi yang optimis dari Micron Technology, sentimen pasar tidak banyak terangkat. Saham perusahaan produsen chip memori tersebut justru turun 4,4%, seiring dengan pertimbangan investor terhadap rencana belanja yang lebih tinggi di tengah biaya pinjaman yang terus meningkat. Sektor produsen chip memori lainnya yang telah menunjukkan kinerja cemerlang sepanjang tahun ini juga ikut terkoreksi. SanDisk dan Applied Digital masing-masing mengalami penurunan lebih dari 2%, sementara Nvidia, pemimpin dalam inovasi kecerdasan buatan (AI), tercatat turun 1,5%.

Sektor material menjadi yang paling terpukul, memimpin penurunan dengan anjlok 2,2%. Penurunan ini turut menyeret harga logam mulia. Saham-saham perusahaan penambang seperti Newmont dan Freeport-McMoRan masing-masing turun 8,7% dan 7,5%.

Sektor perjalanan, yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi, juga merasakan dampaknya. Maskapai penerbangan seperti Delta Air dan United mengalami penurunan lebih dari 1%, sementara saham perusahaan kapal pesiar seperti Norwegian dan Carnival turun 0,5%.

Secara keseluruhan, delapan dari sebelas indeks sektor S&P 500 berada dalam teritori negatif.

Lonjakan Harga Minyak dan Dampaknya pada Inflasi

Kenaikan harga minyak mentah menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran pasar. Harga minyak Brent bertahan di kisaran US$ 112 per barel, menyusul serangan Iran terhadap fasilitas energi di Timur Tengah sebagai respons atas serangan Israel terhadap lapangan gas South Pars.

Namun, patokan minyak mentah Amerika Serikat (AS) diperdagangkan dengan diskon terbesar terhadap Brent dalam 11 tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh pelepasan cadangan strategis AS dan meningkatnya biaya pengiriman.

Lonjakan harga minyak ini secara langsung memicu kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi. Kenaikan biaya energi dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi, menaikkan biaya produksi dan akhirnya harga barang serta jasa bagi konsumen.

Sikap Hati-hati Federal Reserve dan Pergeseran Proyeksi Suku Bunga

Dalam keputusannya pada Rabu, Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tetap tidak berubah. Ketua Jerome Powell secara gamblang menyoroti kemungkinan inflasi yang lebih tinggi ke depan. Ia juga menekankan bahwa masih terlalu dini untuk menilai dampak penuh konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian. Powell menegaskan komitmen Fed terhadap proyeksi sebelumnya yang hanya memperkirakan satu kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini.

Pernyataan ini memberikan sinyal bahwa The Fed akan tetap berhati-hati dalam mengambil langkah kebijakan moneter, terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi yang disebabkan oleh gejolak geopolitik dan inflasi.

“Harga minyak sekarang tidak hanya mempengaruhi harga saham, tetapi juga kebijakan Federal Reserve. Meskipun ini mungkin fenomena jangka pendek, inilah yang sedang dihadapi pasar saat ini,” ujar Dennis Follmer, kepala petugas investasi di Montis Financial.

Pergeseran pandangan terhadap kebijakan suku bunga mulai terlihat di kalangan pelaku pasar. Morgan Stanley bergabung dengan Goldman Sachs dan Barclays dalam memundurkan proyeksi pemotongan suku bunga mereka dari Juni menjadi September. Trader kini tidak lagi mematok adanya pemotongan suku bunga dalam tahun ini. Data yang dihimpun LSEG menunjukkan bahwa kemungkinan langkah kebijakan yang lebih longgar (dovish) baru akan terjadi pada pertengahan tahun 2027.

Sentimen Pasar yang Melemah dan Indikator Teknis

Keputusan The Fed dan gejolak pasar telah menyebabkan saham dan obligasi tergelincir. Ketiga indeks utama Wall Street, Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite, kini diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 200-hari (200-DMA) mereka. DMA 200-hari merupakan indikator teknikal penting yang mencerminkan momentum jangka panjang suatu aset.

Indeks volatilitas Wall Street, CBOE, melonjak 0,79 poin menjadi 25,88, menandakan peningkatan ketidakpastian dan kekhawatiran di pasar. Konflik di Timur Tengah telah memperburuk volatilitas di pasar global, meskipun saham AS sebelumnya sempat mendapat dorongan dari pemulihan saham teknologi dan status AS sebagai eksportir energi bersih.

Data Ekonomi dan Perhatian pada Pertemuan Puncak

Di tengah ketidakpastian pasar, data klaim pengangguran mingguan secara tak terduga menunjukkan penurunan pada minggu lalu. Hal ini memberikan indikasi adanya kondisi pasar tenaga kerja yang stabil dan pemulihan pertumbuhan pekerjaan pada bulan Maret, yang bisa menjadi sinyal positif bagi perekonomian.

Fokus investor juga akan tertuju pada pertemuan puncak AS-Jepang. Presiden Donald Trump berpotensi memanfaatkan forum ini untuk mendesak bantuan terkait situasi di Iran, menyusul seruan sebelumnya kepada sekutu untuk menjaga kelancaran jalur pelayaran melalui Selat Hormuz yang tampaknya belum mendapat respons memadai.

Perbandingan antara saham yang mengalami penurunan versus kenaikan menunjukkan dominasi sisi negatif. Di Bursa Efek New York (NYSE), rasio saham yang turun terhadap saham yang naik adalah 2,17 banding 1, sementara di Nasdaq Composite, rasionya adalah 2,02 banding 1.

Dalam hal pergerakan saham individu, S&P 500 mencatat 11 saham baru dengan level tertinggi 52-minggu dan 17 saham dengan level terendah. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 18 saham baru dengan level tertinggi dan 181 saham dengan level terendah, menunjukkan adanya tekanan jual yang lebih luas di pasar teknologi.

Pada penutupan perdagangan pukul 22.04 WIB, Dow Jones Industrial Average turun 218,84 poin (0,45%) menjadi 46.017,96. S&P 500 turun 32,62 poin (0,49%) menjadi 6.592,08, dan Nasdaq Composite turun 148,57 poin (0,67%) menjadi 22.004,27.

Pos terkait