Kesepakatan Damai AS-Iran Diumumkan, Tapi Masih Ada Ketidakpastian
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa terdapat kesepakatan damai antara AS dan Iran. Kesepakatan ini sebagian besar telah dinegosiasikan setelah melakukan pembicaraan dengan mediator Pakistan, sekutu Teluk, serta Israel. Kesepakatan tersebut berpotensi membuka jalan bagi berakhirnya perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Trump menyebut bahwa aspek dan detail akhir dari nota kesepahaman tersebut masih dalam pembahasan dan akan segera diumumkan. Ia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan dibuka sebagai bagian dari kesepakatan tersebut. “Aspek dan detail akhir dari kesepakatan tersebut saat ini sedang dibahas dan akan segera diumumkan. Selain banyak elemen lain dari perjanjian tersebut, Selat Hormuz akan dibuka,” ujarnya.
Namun, kantor berita Fars Iran yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melaporkan bahwa selat tersebut tetap akan berada di bawah kendali Iran. Fars juga menyebut bahwa pernyataan Trump bahwa kesepakatan hampir final tidak sesuai dengan kenyataan.
Ali Gholhaki, tokoh garis keras Iran, mengatakan pada Sabtu (23/5/2026) bahwa kepala militer Pakistan meninggalkan Iran untuk menyampaikan tanggapan AS dan membantu menyelesaikan nota kesepahaman bersama untuk fase negosiasi nuklir yang sulit. Mengutip Iran International, Gholhaki menguraikan sejumlah persyaratan yang dilaporkan, termasuk penghentian permusuhan di semua lini, pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade, pelepasan aset Iran yang dibekukan senilai 12 miliar dolar AS, pengurangan kehadiran militer AS di dekat Iran, serta jangka waktu 30 hari untuk negosiasi nuklir.
Sejumlah dana juga disebut berpotensi dicairkan dengan cepat melalui Qatar jika terjadi penundaan.
Sementara itu, mantan Kepala Koresponden Keamanan Nasional CNN, Alex Marquardt, melaporkan bahwa proposal AS kepada Iran menguraikan pelonggaran sanksi secara bertahap, pengecualian ekspor minyak, dan dana rekonstruksi di bawah nota kesepahaman yang akan menunda perselisihan besar, termasuk pengayaan nuklir, ke pembicaraan selanjutnya menuju kesepakatan akhir. “Presiden Trump telah memperjelas garis merahnya dalam negosiasi. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan mereka harus menyerahkan uranium yang telah diperkaya. Setiap perjanjian harus memuat hal-hal tersebut karena Presiden hanya akan menerima kesepakatan yang mengutamakan Amerika,” kata seorang pejabat Gedung Putih menanggapi laporan tersebut.
Pakistan: Negosiasi Menghasilkan Kemajuan yang Menggembirakan
Serupa, Tentara Pakistan mengatakan negosiasi dengan Iran menghasilkan kemajuan yang menggembirakan menuju pemahaman akhir. Dua sumber Pakistan yang terlibat dalam negosiasi kepada Reuters mengatakan kesepakatan yang sedang dinegosiasikan cukup komprehensif untuk mengakhiri perang.
Iran pada Sabtu mengatakan bahwa mereka sedang berupaya mencapai nota kesepahaman dengan AS yang menjabarkan pendekatan untuk mengakhiri perang setelah para pejabat tinggi mereka bertemu dengan kepala militer Pakistan, Asim Munir. Reuters mengutip sumber yang menyebut kerangka kerja yang diusulkan akan berlangsung dalam tiga tahap, yakni secara resmi mengakhiri perang, menyelesaikan krisis di Selat Hormuz, dan membuka jendela 30 hari untuk negosiasi mengenai perjanjian yang lebih luas, yang dapat diperpanjang.
Salah satu sumber Pakistan juga mengatakan belum ada jaminan bahwa AS akan menerima nota kesepahaman tersebut. Jika diterima, hal itu akan mengarah pada pembicaraan lebih lanjut setelah libur Idul Adha berakhir pada Jumat mendatang.
Pada Sabtu, Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa ia berharap dapat memutuskan pada Minggu apakah akan melanjutkan serangan terhadap Iran. “Entah kita mencapai kesepakatan yang baik atau aku akan menghancurkan mereka sampai ke neraka seribu,” kata Trump seperti dikutip situs berita tersebut.





