SPPG Tanggung Tutup Akibat Keracunan MBG, Korwil: Butuh Perbaikan

SPPG Desa Tanggung Masih Ditutup Pasca Keracunan Massal, Menunggu Perbaikan dan Hasil Lab

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur, masih menghentikan operasionalnya hingga kini. Penutupan ini telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan, terhitung sejak kasus keracunan massal yang melibatkan puluhan siswa pada 13 Oktober 2025. Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi pihak yang mengeluarkan instruksi penghentian operasional ini sebagai respons langsung terhadap insiden yang menggemparkan tersebut.

Pantauan di lokasi SPPG yang terletak di Dusun Kendit, tidak jauh dari kawasan Gunung Budheg, pada Sabtu (13/12/2025) pagi, menunjukkan kondisi yang sepi dan tanpa aktivitas. Bangunan SPPG tampak tertutup rapat, bahkan pos penjagaan pun terlihat tidak berpenghuni. Meskipun demikian, papan nama yang terpasang masih menunjukkan identitas SPPG di bawah naungan Yayasan Gusti Maringi Mukti, menandakan keberadaan fasilitas ini sebelum insiden terjadi.

Proses Perbaikan dan Rekomendasi dari BGN

Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Tulungagung, Sebrina Mahardika, membenarkan bahwa SPPG Tanggung belum kembali beroperasi. Ia menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu arahan lebih lanjut dari BGN mengenai langkah-langkah selanjutnya.

Menurut Sebrina, BGN telah memberikan sejumlah instruksi dan rekomendasi kepada pihak SPPG Tanggung untuk melakukan perbaikan internal. Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah kewajiban untuk segera mengurus Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikat ini merupakan bukti bahwa fasilitas dan proses penyiapan makanan telah memenuhi standar kebersihan dan sanitasi yang ditetapkan, sehingga aman untuk dikonsumsi publik.

Selain itu, BGN juga memberikan rekomendasi yang bersifat teknis guna meningkatkan kualitas operasional. Di antaranya adalah pelaksanaan disinfeksi menyeluruh pada area dapur. Langkah ini bertujuan untuk mensterilkan lingkungan dapur dari potensi kontaminan yang dapat menyebabkan penyakit.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung turut serta dalam mendampingi proses perbaikan yang sedang dijalankan oleh SPPG Tanggung. Pendampingan ini diharapkan dapat memastikan bahwa setiap langkah perbaikan dilakukan sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku.

Nasib Hasil Uji Laboratorium Masih Misteri

Terkait dengan hasil uji laboratorium dari sampel makanan dan swab rectum penjamah makanan yang diambil pasca insiden keracunan, Sebrina Mahardika enggan memberikan keterangan rinci. Ia hanya memastikan bahwa hasil laboratorium tersebut telah dilaporkan kepada BGN.

“Itu bukan kapasitas saya menyampaikan. Dinas Kesehatan yang lebih punya hak untuk mengungkapkan,” ujar Sebrina, mengalihkan pertanyaan kepada pihak yang berwenang.

Hingga berita ini ditulis, Dinas Kesehatan Tulungagung belum mengumumkan secara resmi hasil uji laboratorium yang sangat dinanti publik. Publik masih menunggu kepastian mengenai penyebab pasti keracunan yang dialami oleh para siswa.

Kronologi Keracunan Massal

Insiden keracunan massal ini terjadi pada hari Senin, 13 Oktober 2025. Sebanyak 67 siswa dari SMPN 1 Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, dan satu siswa dari SDN 1 Tanggung, Kecamatan Campurdarat, mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan.

Menu yang disajikan pada hari nahas tersebut meliputi nasi kuning, ayam kecap, irisan tomat, timun, buah salak, dan susu kotak. Gejala keracunan mulai dirasakan oleh para siswa tak lama setelah mengonsumsi hidangan tersebut.

Dari total korban, enam orang dilaporkan mengalami kondisi yang lebih parah dan terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Campurdarat dr. Karneni untuk mendapatkan penanganan medis intensif.

Tindakan Investigasi Kepolisian dan Dinkes

Menanggapi kejadian ini, pihak Kepolisian Resor (Polres) Tulungagung bersama dengan Dinas Kesehatan segera melakukan tindakan investigasi. Sampel bekas muntahan dari siswa serta sisa menu MBG yang diambil dari SPPG Desa Tanggung dikumpulkan untuk diuji di laboratorium.

Selain itu, Dinkes Tulungagung juga melakukan pengambilan sampel swab rectum dari 25 orang penjamah makanan (food handlers). Pengambilan sampel ini merupakan bagian dari upaya untuk mendeteksi kemungkinan adanya kontaminasi kuman dari para penjamah makanan yang dapat berpindah ke dalam menu MBG. Hasil dari pengujian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sumber penularan keracunan.

Penutupan operasional SPPG Tanggung ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap standar kebersihan dan keamanan pangan, terutama pada program-program yang berkaitan dengan pemenuhan gizi bagi anak-anak usia sekolah.

Pos terkait