Teri Enda Wahyuni ajak petani kopi Gayo kembali ke organik melalui film dokumenter Uni Inen Iko

Peran Perempuan dalam Produksi Kopi Gayo

Perempuan memainkan peran penting dalam rantai produksi kopi, meskipun sering tidak terlihat secara formal dalam struktur ekonomi. Hal ini disampaikan oleh Teri Enda Wahyuni, pemilik Jingki Roda Kopi Gayo, yang menegaskan bahwa perempuan adalah pilar ekonomi keluarga dan nilai jual kopi sering ditentukan oleh kerja mereka.

Teri juga menekankan pentingnya kembali pada praktik pertanian organik seperti yang dilakukan generasi terdahulu. Ia mengatakan bahwa dulu orang tua kita tidak mengenal pupuk kimia, namun kopi bisa bertahan selama puluhan tahun. Saat ini, biaya produksi tinggi tetapi hasil tidak sebanding. Oleh karena itu, pertanian organik harus kembali diperkuat.

Kehadiran Perempuan dalam Dunia Kopi

Perempuan kopi Gayo, Teri Enda Wahyuni dan Uni Inen Iko, tampil sebagai narasumber dalam kegiatan Dialog Budaya Sengkewe: Perempuan Gayo dan Kopi. Kegiatan tersebut berlangsung di Kem Pegayon, Buntul Sara Ine, Bener Meriah, Jumat (3/4/2026) pukul 15.00–17.20 WIB. Sedianya diskusi itu menghadirkan tiga narasumber, namun seorang lagi Rahmayana Fitri tidak bisa hadir karena terkendala jalur transportasi ke lokasi diskusi.

Diskusi dipandu oleh Mila Handayani dan diawali dengan pemutaran film dokumenter Perempuan Kopi Bik Uni Inen Iko yang menggambarkan kehidupan serta perjuangan perempuan Gayo dalam dunia kopi. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program Sengkewe Sepanjang Musim yang diselenggarakan Komunitas Desember Kopi Gayo atas dukungan Dana Indonesiana, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan RI.

Pendidikan Awal untuk Generasi Muda

Teri Enda Wahyuni mengajak generasi muda untuk mengenal kopi sejak dini sebagai bagian dari pendidikan kehidupan. Ia menyatakan bahwa pertanian adalah napas kehidupan dan kopi harus diperkenalkan sejak dini kepada generasi muda dengan pendekatan yang tidak menjadi beban, tetapi menumbuhkan kemandirian.

Ia juga menyampaikan bahwa selama ini perempuan kopi sering tidak memperoleh akses pengetahuan teknis tentang kopi, mulai dari kualitas air, proses pascapanen, hingga perhitungan nilai produksi. “Perempuan dalam kopi ibarat gelas dengan sendoknya—selalu ada, tetapi sering tidak dianggap penting,” tambahnya.

Perjuangan Teri dalam Dunia Kopi

Sebagai pelaku usaha kopi perempuan Gayo yang kini menjadi eksportir kopi spesialti, Teri berbagi pengalaman panjang perjuangannya menembus dunia kopi yang selama ini didominasi laki-laki. Ia ingin menjadi perempuan lain yang bisa berdiri mandiri di dunia kopi. Tantangan terbesar justru datang dari lingkungan terdekat, bahkan dari keluarga. Tapi itu yang memicu ia untuk terus belajar.

Ia mengisahkan proses panjang yang dijalaninya, mulai dari belajar dari pekerjaan paling dasar hingga memahami tata kelola ekspor kopi. Ia belajar dari mengepel lantai sampai merapikan dokumen. Ia datang ke perusahaan, koperasi, dan eksportir. Ia belajar apa saja yang bisa ia pelajari. Ia ingin menjadi bagian dari solusi.

Pengakuan Pasar Internasional

Menurut Teri, perjuangannya tidak selalu mudah. Ia bahkan harus menghadapi cibiran dan tekanan dalam perjalanan membangun usaha kopi. “Saya berada di tengah persaingan keras dunia kopi. Saya dihina, dirusak, bahkan disingkirkan. Tapi saya sabar. Sejak 2024 saya mulai berdiri sebagai eksportir, dan pada 2025 kami berhasil mengekspor lima kontainer kopi,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga identitas kopi Gayo di pasar global. “Kopi Gayo harus tetap dikenal sebagai kopi Gayo, bukan menjadi kopi lain. Generasi baru harus tahu nilai identitas ini,” katanya. Teri menambahkan bahwa pasar internasional, khususnya Eropa, sangat terbuka terhadap kopi organik dan kopi yang memiliki cerita sosial kuat, termasuk peran perempuan di dalamnya.

Refleksi dan Kesadaran Baru

Dialog ini juga menjadi ruang refleksi bahwa forum-forum budaya seperti Sengkewe masih jarang menghadirkan perempuan sebagai subjek utama diskusi kopi di Tanah Gayo. Melalui kegiatan ini, Komunitas Desember Kopi Gayo berharap muncul kesadaran baru tentang pentingnya peran perempuan sebagai penggerak ekonomi keluarga sekaligus penjaga keberlanjutan budaya kopi Gayo dari generasi ke generasi.

Sementara itu, Uni Inen Niko menyatakan bahwa kehidupannya sehari-hari telah digambarkan dengan sangat jelas dalam film dokumenter yang diharapkan oleh sebuah tim yang dipimpin Mustafa atau Win Gemade bersama Asmira Dieni.

Diskusi tersebut dihadiri sekitar seratus peserta, terdiri dari mahasiswa, pelahar, anggota sanggar termasuk seorang kandidat doktoral dari ISI Surakarta Elisa yang sedang meneliti Sengkewe. Konten kreator Tanah Gayo Fitrie juga hadir dan menyimak intens jalannya diskusi yang berlangsung hingga petang itu.

Pos terkait