Kesiapan Jasa Marga Hadapi Arus Mudik Lebaran 2026: Infrastruktur dan Rekayasa Lalu Lintas
Menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. telah mematangkan persiapan untuk memastikan kelancaran arus mudik dan balik. Direktur Utama Jasa Marga, Rivan Achmad Purwantono, menegaskan kesiapan infrastruktur jalan tol serta strategi rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan guna mengantisipasi lonjakan kendaraan yang diperkirakan akan terjadi.
Jaringan jalan tol yang dikelola oleh Jasa Marga memiliki panjang total mencapai 1.294 kilometer. Angka ini menjadi urat nadi utama bagi pergerakan jutaan pemudik yang akan melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia. Rivan memprediksi bahwa dari wilayah Jakarta saja, diperkirakan akan ada sekitar tiga setengah juta kendaraan yang keluar untuk merayakan Lebaran.
“Kami memperkirakan tiga setengah juta kendaraan akan melintas keluar dari Jakarta,” ujar Rivan.
Untuk mendukung prediksi yang akurat ini, Jasa Marga mengandalkan sistem teknologi lalu lintas yang canggih. Sistem ini memungkinkan pemantauan pergerakan kendaraan secara real-time dan akurat, termasuk prediksi kepadatan lalu lintas di berbagai ruas jalan tol.
Pemanfaatan Teknologi untuk Prediksi Akurat
Jasa Marga menggunakan sebuah platform intelligent transportation system (ITS) yang terintegrasi dengan berbagai teknologi pendukung. Kamera-kamera yang ditingkatkan fasilitasnya kini berfungsi sebagai intelligent traffic analysis, serta penggunaan radar, menjadi kunci dalam menganalisis pola lalu lintas.
“Perkiraan tidak hanya jumlah (yang akurat), tetapi juga prediksi di setiap waktunya,” jelas Rivan, menekankan kemampuan sistem dalam memberikan informasi yang detail dan tepat waktu.
Gelombang Arus Mudik dan Prediksi Puncak
Berdasarkan analisis Jasa Marga, puncak arus mudik Lebaran 2026 diperkirakan akan terjadi pada pertengahan bulan Maret. Mayoritas kendaraan pada periode ini diprediksi akan bergerak menuju arah timur, khususnya melalui jalur Trans-Jawa.
Rivan merinci bahwa akan ada dua gelombang utama arus mudik. Gelombang pertama diprediksi terjadi pada tanggal 14 Maret, diikuti oleh gelombang kedua pada tanggal 18 Maret.
“Hari ini (18 Maret) diperkirakan mencapai 256 ribu LHR-nya (lalu lintas harian). Dan semalam terbukti sudah 221 ribu, (ini) adalah yang tertinggi sejak 13 Maret yang lalu,” ungkapnya, merujuk pada data lalu lintas harian yang telah tercatat.
Data pemantauan menunjukkan bahwa sekitar 50 persen pemudik dari Jakarta akan menuju arah timur, mengarah ke jalur Trans-Jawa.
Ruas Tol Fungsional untuk Mengurai Kepadatan
Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kepadatan kendaraan, pemerintah bersama Jasa Marga telah menyiapkan sejumlah ruas tol fungsional. Ruas-ruas ini akan dioperasikan secara temporer untuk membantu kelancaran arus mudik maupun arus balik.
Beberapa ruas tol fungsional yang krusial antara lain:
- Tol Fungsional Jakarta-Cikampek 2 Selatan: Ruas ini akan difungsikan terutama saat arus balik, melayani kendaraan yang datang dari arah Cipularang atau Bandung menuju Jakarta. Panjangnya mencapai 50 kilometer, membentang dari Sadang hingga Setu.
- Tol Fungsional Yogyakarta–Solo (atau sebaliknya): Ruas ini memiliki panjang sekitar 11,48 kilometer dan sangat membantu masyarakat yang melakukan perjalanan antara Yogyakarta dan Solo. Dengan dioperasikannya ruas ini hingga wilayah Yogyakarta, tepatnya dari Kalasan ke Purwomartani, waktu tempuh masyarakat akan semakin efisien.
- Tol Fungsional Yogyakarta–Bawen (Seksi 6): Ruas yang dioperasikan adalah bagian Bawen–Ambarawa, dengan panjang sekitar 5 kilometer. Keberadaan tol fungsional ini memungkinkan pengendara dari Bawen untuk langsung menuju Ambarawa tanpa perlu keluar dari jalur tol.
- Tol Fungsional Probolinggo—Besuki: Ruas sepanjang sekitar 50 kilometer ini juga akan diaktifkan selama periode mudik dan balik Lebaran. Pengoperasiannya diperkirakan akan memberikan dampak signifikan dalam memangkas waktu perjalanan di wilayah tersebut.
Rekayasa Lalu Lintas untuk Kelancaran Optimal
Selain infrastruktur fisik, Jasa Marga juga telah menyiapkan strategi rekayasa lalu lintas yang adaptif. Berbagai skenario rekayasa akan diterapkan apabila terjadi lonjakan kendaraan yang berpotensi menimbulkan kepadatan.
Metode rekayasa lalu lintas yang akan digunakan meliputi:
- Contraflow: Sistem satu arah berlawanan dengan arah normal yang akan diberlakukan pada lajur tertentu untuk menambah kapasitas jalur.
- One Way: Sistem penutupan total suatu ruas jalan dari satu arah dan hanya mengizinkan lalu lintas dari arah yang berlawanan, biasanya diterapkan pada ruas yang sangat padat.
Penerapan rekayasa lalu lintas ini akan dilakukan secara dinamis berdasarkan pemantauan kondisi di lapangan secara real-time, demi memastikan arus mudik dan balik Lebaran 2026 berjalan lancar, aman, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.





