Trip Perdana Warga Kota di Purwakarta

Menjelajahi Keindahan Tersembunyi Purwakarta: Dari Arus Sungai Hingga Kearifan Lokal

Purwakarta, sebuah nama yang mungkin identik dengan diorama megah, air mancur menawan, dan tentu saja, sate maranggi yang legendaris. Namun, di balik citra yang sudah dikenal luas ini, tersimpan pesona alam dan kekayaan budaya yang tak kalah memukau. Pengalaman perjalanan mendadak yang berawal dari keinginan kulineran sate maranggi, es ciming, dan singgah di kafe kebon jati, perlahan membuka mata akan luasnya potensi wisata Purwakarta yang ternyata belum banyak terjamah.

Keberuntungan kembali berpihak, membawa langkah kaki ini kembali ke Purwakarta pada Sabtu, 17 Januari 2026. Kali ini, bersama sepuluh sahabat terpilih, sebuah ekspedisi wisata alam diadakan, menjanjikan pengalaman pertama yang akan menambah daftar destinasi liburan impian dan memperkaya setiap momen perjalanan.

Perjalanan Menuju Purwakarta dengan Kereta Api Walahar

Pagi buta yang dingin di Stasiun Bogor menjadi titik awal petualangan. Setelah transit di Manggarai, sebuah insiden kecil terjadi: sandal gunung kesayangan mendadak lepas salah satu solnya. Untungnya, insiden ini tidak menghentikan langkah. Berkat kebaikan rekan sesama “kompasianer”, lem berhasil didapatkan di Stasiun Cikarang, memungkinkan perjalanan dilanjutkan.

Perjalanan menuju Cikarang terbilang lancar. Dari Stasiun Manggarai, hanya perlu menyeberang ke peron tiga untuk naik KRL menuju Cikarang. Tiba di sana masih cukup pagi, menunggu rekan-rekan lain berdatangan sebelum kami bergegas menaiki Kereta Api Walahar. Sebuah pilihan transportasi yang sangat terjangkau, hanya Rp4.000,00 untuk mengantar kami hingga ke Purwakarta.

Sepanjang perjalanan, pemandangan alam yang asri dan menyegarkan disuguhkan. Obrolan hangat dan penuh canda tawa bersama sesama penumpang menambah keceriaan, bahkan berbagi bekal makanan menjadi momen tak terlupakan.

Sesampainya di Stasiun Purwakarta, kami disambut hangat dengan mobil Hiace yang nyaman. Perjalanan menuju lokasi pertama di Purwakarta menawarkan pemandangan yang memesona, meski langit mendung dan gerimis sesekali membasahi bumi. Keindahan Purwakarta tak sedikit pun berkurang oleh cuaca.

Sambutan Hangat di Alun-Alun Purwakarta

Sebuah kehormatan tersendiri ketika kami, para “kompasianer”, disambut langsung oleh Kepala Bidang Pariwisata, Bapak Dodi Samsul Bahri. Kami diajak berfoto bersama di area Alun-alun Purwakarta, sebuah momen yang terasa istimewa. Bapak Dodi dengan ramah mempersilakan kami untuk menjelajahi dan menikmati setiap sudut keindahan wisata Purwakarta di hari itu. Kesan pertama yang tertinggal adalah keramahan warga Purwakarta yang sangat bersahabat, serta banyaknya pilihan kuliner di sekitar stasiun yang memudahkan jika rasa lapar tiba-tiba menyerang.

Adrenalin Terpacu di Arus Sungai Bersama Ngaprak River

Setelah sekian lama, akhirnya kembali merasakan sensasi menyusuri arus sungai dengan ban hitam besar. Ada sedikit rasa deg-degan, mengingat sudah lama tidak merasakan gejolak adrenalin seperti ini. Namun, kepercayaan penuh tertuju pada tim Ngaprak River yang sangat profesional. Mereka mengantarkan kami menuju lokasi menggunakan mobil bak.

Sepuluh peserta, termasuk saya, dibekali rompi pelampung dan helm sebagai perlindungan diri selama aktivitas river tubing. Kami mendapatkan arahan mengenai posisi duduk yang benar di atas ban, serta peletakan tangan yang aman. Setelah demonstrasi langsung, kami bergegas menuju titik awal penelusuran sungai. Pemandangan di sepanjang jalan sungguh luar biasa: hamparan sawah hijau membentang luas, kebun cabai yang rimbun, dan para petani yang tekun mengolah tanah. Pemandangan “premium” yang jarang ditemui sehari-hari, ditambah suara gemericik air sungai yang menyegarkan.

Tibalah saatnya kami menaiki ban hitam, siap untuk menyusuri sungai. Tim Ngaprak River sudah siaga di setiap titik penting. Perasaan grogi sempat menghampiri, namun instruktur kami dengan sigap mengingatkan, “Rileks saja ya, jangan takut. Ikuti arus dan jangan tegang.” Kalimat itu seketika menenangkan.

Meluncur di atas air sungai dengan ban hitam besar ternyata sangat seru dan memacu adrenalin. Beberapa kali teriakan spontan terdengar saat menemui arus yang cukup deras atau undakan air yang menyerupai air terjun mini. Selama kurang lebih tiga puluh menit river tubing, semuanya berjalan lancar tanpa ada insiden terjatuh atau terlepas dari ban. Mulus dan menyenangkan, tanpa cedera sedikit pun. Di beberapa titik yang berpotensi rawan, tim Ngaprak River selalu berjaga, memastikan keselamatan kami. Tim dokumentasi pun turut sigap mengabadikan setiap momen. Kebetulan saat itu, saya tidak membawa ponsel atau dompet, hanya membawa pakaian ganti. Momen river tubing ini benar-benar berkesan, bahkan beberapa rekan “kompasianer” sepakat mengatakan, “Mantap, seru banget!”

Kampung Wisata Parakanceuri: Inovasi dan Kearifan Lokal yang Mempesona

Setelah berganti pakaian, kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Wisata Parakanceuri, yang beralamat di Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Perjalanan dari lokasi river tubing memakan waktu sekitar 40 menit dengan mobil, melalui jalan raya yang lancar.

Gerimis yang tadinya hanya sesekali turun, kini semakin deras saat kami tiba. Namun, hujan yang agak lebat tidak sedikit pun menyurutkan semangat kami untuk menjelajahi kampung wisata ini. Semangat berpetualang memang menjadi prioritas, dan kondisi cuaca bukanlah penghalang.

Sebelum memulai penjelajahan, kami disuguhi makan siang berupa nasi liwet yang lezat, ditemani sambal, aneka lalapan segar, dan beberapa lauk pauk. Makan lesehan menggunakan daun pisang, duduk berhadapan dengan seluruh peserta, menjadi pengalaman makan yang unik. Ditambah dengan teh hangat yang aromatik dan masih mengepulkan uap panasnya, makan siang ini terasa begitu nikmat. Lalapan terong hijau dan timun, serta ikan asin, semakin menambah selera makan.

Setelah kenyang dan beristirahat sejenak, kami berkesempatan bertemu dengan Bapak Agus, sosok inspiratif di balik inisiasi kampung wisata ini.

Asal-Usul Nama dan Konsep Kampung Wisata Parakanceuri:

Nama “Parakanceuri” memiliki makna historis yang mendalam. “Parakan” berasal dari kata “marak”, yaitu cara tradisional menangkap ikan di sungai dengan tangan kosong, memanfaatkan tumpukan batu atau parit. Sementara “Ceuri” diambil dari nama pohon Ceuri yang tumbuh di sekitar lokasi penangkapan ikan tersebut. Kisah ini dibagikan langsung oleh Bapak Agus.

Inisiatif Masyarakat dan Program Ecovillage:

Berawal dari inisiatif masyarakat, kampung ini aktif mengadakan berbagai program kepedulian lingkungan, seperti lomba “Buruan Geulis” (halaman cantik) dan lomba hias gapura. Upaya ini mendapat perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) pada 23 Juli 2023, yang kemudian menginisiasi program nasional Ecovillage untuk diterapkan di berbagai daerah. Kampung ini pun ditetapkan dengan identitas Ecovillage Jagat Resik dan ditunjuk sebagai kampung bersih.

Sejak saat itu, kerja sama dengan DLH terus berlanjut. Salah satu kegiatan yang menjadi ciri khas dan simbol keberlanjutan Ecovillage adalah susur sungai dan trekking, yang juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi lingkungan bagi para wisatawan.

Aktivitas Edukatif dan Wisata Unggulan:

Di Kampung Wisata Parakanceuri, pengunjung dapat mengikuti berbagai kegiatan menarik, antara lain:
* Tandur Padi: Proses menanam padi secara tradisional.
* Menapi dan Menjemur Padi: Memproses padi yang sudah dipanen.
* Nutu Padi: Proses penggilingan padi hingga menjadi beras.
* Wisata Literasi: Meliputi storytelling dan public speaking.
* Trekking: Menjelajahi alam sekitar.

Banyak wisatawan yang berkunjung memberikan testimoni positif dan menyatakan keinginan untuk kembali lagi. Mereka merasa lebih dekat dengan alam dan memahami banyak proses kehidupan. Pengalaman belajar mengenai UMKM lokal, termasuk pembuatan makanan dan minuman khas seperti “rambut nenek” dan teh telang, juga menjadi daya tarik tersendiri.

Saat berkunjung ke kampung wisata ini, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh khas yang dibuat oleh para pelaku UMKM binaan, seperti rambut nenek, teh telang, dan aneka camilan lainnya. Kampung Wisata Parakanceuri menawarkan paket lengkap, bukan sekadar rekreasi, tetapi juga nilai edukasi dan literasi yang mendalam. Pengalaman menginap di homestay yang tersedia juga menjadi pilihan bagi wisatawan, terutama dari kalangan pelajar. Wisatawan mancanegara pun turut hadir, menambah keragaman pengunjung.

Kopi Poesaka: Menikmati Kopi Berkualitas dari Biji Pilihan

Setelah puas menikmati keindahan Kampung Wisata Parakanceuri, kami melanjutkan perjalanan menuju Kopi Poesaka. Tempat ini wajib dikunjungi bagi para pencinta kopi. Kopi yang disajikan berasal dari biji kopi pilihan yang mereka tanam sendiri dan telah meraih berbagai penghargaan.

Kopi yang saya dan rekan “kompasianer” cicipi adalah kopi Arabika yang ditanam di ketinggian 900 MDPL. Rasanya khas Arabika, cenderung asam dengan aroma yang sangat kuat. Kami berkesempatan melihat langsung biji kopi dari tahap belum diproses, setengah jadi, hingga siap di-roasting. Proses pembuatan kopi dengan teknik V60 juga kami saksikan, sebelum akhirnya mencicipi kopi hangat yang baru diseduh.

Pengalaman pertama ini benar-benar berkesan. Saya kini lebih mengenal Purwakarta, mengetahui adanya destinasi wisata alam yang memukau, serta merasakan keramahan warganya. Jika ditanya apakah saya ingin kembali melakukan river tubing, menjelajahi Kampung Wisata Parakanceuri, dan menikmati kopi di Kopi Poesaka, jawabannya tentu saja “Ya, sangat ingin!”

Saran saya untuk para pembaca, segera atur waktu dan jadwalkan liburan ke Purwakarta. Jangan lupa untuk membeli oleh-oleh khas. Dengan semakin ramainya pariwisata dalam negeri, perekonomian akan semakin meningkat dan kesejahteraan warga lokal pun akan turut terangkat. Terima kasih telah membaca artikel perjalanan jelajah wisata alam Purwakarta ini. Nantikan artikel menarik lainnya!

Pos terkait