Amerika Serikat telah melancarkan operasi militer di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi tindakan tersebut, menyatakan bahwa negaranya akan mengambil kendali sementara atas Venezuela dan mengerahkan pasukan jika diperlukan.
“Kami akan menjalankan negara ini sampai saatnya kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” ujar Trump dalam konferensi pers di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida. Ia menambahkan, “Kami tidak bisa mengambil risiko bahwa orang lain mengambil alih Venezuela yang tidak memikirkan kepentingan rakyat Venezuela.”
Meskipun operasi dramatis ini dilaporkan memutus aliran listrik di sebagian Caracas dan berhasil menculik Maduro dari salah satu tempat persembunyiannya, pasukan AS belum sepenuhnya menguasai negara tersebut, dan pemerintahan Maduro masih menunjukkan kekuasaannya. Pernyataan Trump mengenai kehadiran AS yang berpotensi tanpa batas waktu di Venezuela memunculkan kembali ingatan akan intervensi AS di Irak dan Afghanistan, yang keduanya berakhir dengan penarikan pasukan setelah bertahun-tahun pendudukan. Trump secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk mengirim pasukan AS ke Venezuela, menegaskan, “Kami tidak takut dengan kehadiran pasukan di lapangan.” Namun, ia tidak memberikan rincian spesifik mengenai bagaimana AS akan mengelola negara tersebut.
Penguasaan Ekonomi Venezuela
Trump mengindikasikan bahwa pendudukan AS di Venezuela tidak akan membebani anggaran negaranya. Ia berjanji bahwa biaya akan diganti melalui sumber daya alam Venezuela, khususnya cadangan minyaknya yang melimpah. Topik ini menjadi fokus utama dalam konferensi persnya.
Lebih lanjut, Trump mengklaim bahwa Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, telah berkomunikasi dengan Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, yang disebut-sebut sebagai calon pengganti Maduro. Trump menirukan perkataan Rodriguez yang seolah menyatakan, “‘Kami akan melakukan apa pun yang Anda butuhkan’,” seraya menambahkan, “Dia benar-benar tidak punya pilihan.” Namun, laporan mengenai percakapan ini belum dapat dikonfirmasi oleh kantor berita independen. Laporan dari empat sumber yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa Rodriguez berada di Rusia, klaim yang dibantah keras oleh Kementerian Luar Negeri Rusia sebagai “palsu.”
Potensi Kekosongan Kekuasaan dan Dampak Regional
Penangkapan Maduro, yang telah memimpin Venezuela selama lebih dari satu dekade, berpotensi menciptakan kekosongan kekuasaan di negara Amerika Latin tersebut. Setiap destabilisasi yang signifikan di Venezuela, negara dengan populasi sekitar 28 juta jiwa, dapat menimbulkan ancaman keamanan regional yang telah menjadi fokus kebijakan luar negeri AS selama dua dekade terakhir, seperti yang terlihat dalam intervensi di Afghanistan dan Irak.
Amerika Serikat sendiri belum melakukan intervensi militer langsung di kawasan sekitarnya sejak invasi Panama 37 tahun lalu untuk menggulingkan pemimpin militer Manuel Noriega atas tuduhan keterlibatan dalam penyelundupan narkoba. Tuduhan serupa juga dilayangkan AS terhadap Maduro, yang dituduh menjalankan “negara narkoba” dan memanipulasi pemilihan umum 2024. Maduro, mantan sopir bus berusia 63 tahun yang dipilih langsung oleh Hugo Chavez sebagai penggantinya pada tahun 2013, membantah keras tuduhan tersebut. Ia bersikeras bahwa Washington memiliki motif tersembunyi untuk menguasai cadangan minyak Venezuela, yang merupakan yang terbesar di dunia.
Reaksi Publik dan Internasional
Jalan-jalan di Venezuela dilaporkan tampak tenang saat fajar menyingsing, dengan kehadiran tentara yang berpatroli di beberapa area. Beberapa kelompok kecil pendukung Maduro terlihat berkumpul di Caracas. Di sisi lain, sebagian warga Venezuela menyuarakan kelegaan. “Saya senang, saya sempat ragu bahwa ini benar-benar terjadi karena seperti dalam film,” kata Carolina Pimentel, seorang pedagang berusia 37 tahun di kota Maracay. “Sekarang semuanya tenang, tetapi saya merasa setiap saat semua orang akan keluar merayakan.”
Para pejabat Venezuela sendiri mengutuk tindakan AS. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino dalam pesan video menyatakan, “Dalam persatuan rakyat kami akan menemukan kekuatan untuk melawan dan meraih kemenangan.”
Meskipun banyak pemerintah Amerika Latin menentang kepemimpinan Maduro dan menuduhnya mencuri pemilihan umum 2024, tindakan militer langsung AS ini membangkitkan kembali kenangan pahit akan intervensi masa lalu. Hal ini umumnya ditentang keras oleh pemerintah dan penduduk di kawasan tersebut. Tindakan Trump dinilai mengingatkan pada Doktrin Monroe tahun 1823, yang menegaskan klaim AS atas pengaruh di kawasan tersebut, serta “diplomasi kapal perang” era Theodore Roosevelt.
Sekutu Venezuela seperti Rusia, Kuba, dan Iran segera mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Iran mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan “agresi yang melanggar hukum.” Di antara negara-negara besar Amerika Latin, Presiden Argentina Javier Milei, seorang politisi sayap kanan ekstrem, memuji “kebebasan” baru Venezuela. Sebaliknya, Meksiko mengutuk intervensi tersebut, sementara Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyatakan bahwa tindakan AS telah melampaui “batas yang tidak dapat diterima.”





