[UNIK GLOBAL] Dukun Curi iPhone Pasien: Modus Penipuan Berkedok Polisi

Kisah Unik Global: Dari Dukun Penipu hingga Pengeluaran Tak Terduga

Pekan ini, dunia dihebohkan oleh serangkaian cerita unik yang datang dari berbagai penjuru global. Mulai dari modus penipuan yang semakin kreatif hingga kesalahpahaman yang berujung pada tindakan ekstrem, ragam peristiwa ini menawarkan sudut pandang menarik tentang perilaku manusia dan dinamika sosial. Berikut adalah rangkuman beberapa artikel paling menarik yang terjadi sepanjang pekan ini, menampilkan kisah-kisah yang tak terduga dan terkadang menggelitik.

1. Dukun Peramal yang Berubah Menjadi Pencuri iPhone

Di tengah hiruk pikuk persiapan menyambut Tahun Baru, sebuah insiden tak terduga terjadi di Kota Pattaya, Thailand. Seorang dukun peramal nasib yang biasa mangkal di pinggir jalan, dilaporkan telah ditangkap oleh pihak kepolisian. Modus operandinya terbilang licik: ia memanfaatkan jasa ramalan sebagai kedok untuk mencuri barang berharga dari pasiennya.

Menurut laporan dari media lokal Thailand, DailyNews Online, pada Kamis (1/1/2026), pria berusia 38 tahun ini awalnya menawarkan jasa spiritual kepada seorang wanita yang kebetulan melintas di trotoar dekat sebuah kuil di Pattaya. Ia mengklaim ingin membantu sang wanita menyambut Tahun Baru dengan panduan spiritual. Tertarik dengan tawaran tersebut, wanita itu pun setuju untuk diramal nasibnya.

Namun, di tengah sesi ramalan, sang dukun mulai melancarkan aksinya. Ia menyampaikan bahwa dirinya melihat adanya tanda-tanda nasib buruk yang akan menimpa wanita tersebut, dan yang lebih mengerikan, nasib buruk itu akan membuatnya kehilangan barang berharganya. Dengan dalih akan “melindungi” pasien dari kesialan tersebut, sang dukun kemudian berhasil mengelabui wanita itu dan diduga kuat mencuri iPhone miliknya. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang menawarkan bantuan spiritual memiliki niat baik, dan kewaspadaan tetap menjadi kunci, bahkan dalam situasi yang tampak biasa.

2. Kesalahpahaman Berujung Kecurigaan: Polisi Dikira Pencuri

Sebuah kejadian yang berawal dari unggahan media sosial di Malaysia berhasil menarik perhatian publik dan memicu kehebohan. Cerita ini bermula ketika seorang wanita mengaku didatangi oleh dua pria yang mengaku sebagai petugas polisi di kediamannya.

Menurut penuturan wanita tersebut, kedua pria itu datang dengan dalih untuk menyampaikan informasi penting mengenai sepeda motor milik suaminya yang diklaim telah disita oleh pihak kepolisian. Namun, alih-alih merasa aman dan percaya, wanita ini justru diliputi rasa curiga yang mendalam. Ia beranggapan bahwa kedua pria tersebut bukanlah polisi sungguhan, melainkan penipu yang sengaja menyamar sebagai aparat penegak hukum untuk melancarkan aksinya. Kecurigaan ini tentu saja berakar dari banyaknya kasus penipuan yang kerap menggunakan modus serupa.

Beruntung, kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut. Pihak kepolisian Malaysia kemudian memberikan klarifikasi resmi terkait kejadian tersebut. Mereka memastikan bahwa dugaan wanita tersebut tidaklah benar. Dalam kasus ini, kedua pria yang mendatangi rumah sang wanita memanglah anggota kepolisian yang sah, dan kedatangan mereka memiliki tujuan yang jelas dan resmi, bukan seperti yang dikhawatirkan oleh penghuni rumah. Peristiwa ini menyoroti betapa sensitifnya masyarakat terhadap potensi penipuan dan bagaimana informasi yang beredar di media sosial, meskipun hanya dari satu sisi, dapat memicu reaksi publik yang luas.

3. Uang Salah Transfer Rp 117 Juta Dihabiskan untuk “Staycation”

Di Singapura, sebuah kasus yang melibatkan pengeluaran tak terduga akibat kesalahan transfer bank berakhir di meja hijau. Seorang pria bernama Mohamed Basheer Hanif Mohamed, yang berusia 27 tahun, harus mendekam di penjara selama 12 minggu setelah menolak untuk mengembalikan uang yang sebenarnya bukan haknya.

Kejadian ini bermula ketika Mohamed Basheer menerima transfer dana sebesar 9.000 dollar Singapura, yang jika dikonversikan setara dengan sekitar Rp 117 juta, ke rekening banknya. Dana tersebut ternyata merupakan kesalahan transfer dari Nanyang Technology University (NTU), salah satu institusi pendidikan ternama di Singapura.

Alih-alih segera melaporkan dan mengembalikan dana tersebut kepada pihak NTU, Mohamed Basheer justru memilih jalan yang berbeda. Ia nekat menghabiskan seluruh uang tersebut untuk berbagai keperluan pribadi, termasuk menikmati fasilitas hotel mewah alias melakukan staycation dan membeli berbagai kebutuhan sehari-hari. Perilakunya ini akhirnya terungkap dan membawanya ke pengadilan. Di hadapan hakim, Mohamed Basheer mengakui perbuatannya dan menyatakan bersalah atas dakwaan penggelapan dana secara tidak jujur. Keputusan hakim untuk menjatuhkan hukuman penjara ini menegaskan bahwa tindakan mengambil keuntungan dari kesalahan orang lain, apalagi dalam jumlah yang signifikan, memiliki konsekuensi hukum yang serius. Kisah ini menjadi pengingat pentingnya integritas dan kejujuran dalam mengelola keuangan, terutama ketika berhadapan dengan dana yang bukan milik kita.

Pos terkait