Foto Diduga Pelaku Penyiraman Air Keras Terhadap Aktivis KontraS Beredar, Polisi Sebut Hasil Rekayasa AI
Sebuah foto yang diduga menampilkan pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, telah beredar luas di media sosial dan memicu diskusi publik. Gambar tersebut mulai menyebar secara signifikan, terutama di platform X, sejak Sabtu, 14 Maret 2026. Foto itu menampilkan dua pria yang diduga pelaku tengah mengendarai sepeda motor, dengan wajah mereka terlihat cukup jelas.
Informasi yang menyertai foto tersebut mengklaim bahwa salah satu terduga pelaku memiliki perawakan berotot dan potongan rambut cepak. Dalam gambar, pengendara motor di bagian depan terlihat mengenakan topi berwarna biru muda dan helm hitam. Sementara itu, penumpang di belakang tampak memakai kemeja biru tanpa helm.
Menanggapi beredarnya foto tersebut, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Saputra, memberikan klarifikasi penting. Ia menyatakan bahwa gambar yang beredar merupakan hasil manipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, pengeditan semacam ini dapat sangat mengganggu proses penyelidikan yang sedang dilakukan oleh pihak kepolisian.
“Itu AI. Kami terganggu dengan editing foto ini karena menganggu ciri-ciri pelaku sebenarnya,” tegas Roby kepada wartawan pada Sabtu, 14 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa hasil editan tersebut berpotensi mengubah atau mengaburkan ciri-ciri asli dari pelaku yang sebenarnya.
Jika diperhatikan lebih saksama, terdapat beberapa kejanggalan pada foto yang beredar. Salah satu kejanggalan terlihat pada bahu kanan pengendara motor yang seolah-olah membawa tas ransel, namun pada bagian punggungnya tidak terlihat adanya tas. Selain itu, posisi tangan kanan pengendara yang mengepal di sekitar pinggang juga dinilai tidak wajar.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa mereka masih terus berupaya keras untuk mengejar para pelaku. Status penanganan kasus ini telah ditingkatkan dari tahap penyelidikan menjadi penyidikan. Saat ini, tim penyidik tengah fokus mengidentifikasi pelaku dengan menelusuri rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian. “Untuk identitas pelaku masih dalam penyidikan,” ujar Roby.
Berdasarkan informasi awal, pelaku terdiri dari dua orang. Pelaku pertama, yang bertindak sebagai pengendara, diduga mengenakan kaus kombinasi putih-biru, celana gelap yang kemungkinan berbahan jeans, dan helm hitam. Pelaku kedua, yang duduk di belakang, dilaporkan memakai penutup wajah atau masker menyerupai buff hitam yang menutupi setengah wajah, kaus biru tua, serta celana panjang biru yang dilipat hingga pendek. Salah satu pelaku diketahui bertindak sebagai eksekutor yang menyiramkan cairan diduga air keras ke arah korban, Andrie Yunus.
Kronologi Mengerikan Penyerangan Terhadap Aktivis KontraS
Peristiwa penyerangan ini bermula beberapa hari sebelum kejadian. Berdasarkan kronologi yang dihimpun oleh KontraS, Andrie Yunus menerima sejumlah panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal antara tanggal 9 hingga 12 Maret 2026. Sebagian nomor tersebut diduga terkait dengan aktivitas spam penipuan, pinjaman online, hingga modus perbankan elektronik.
Pada hari kejadian, Andrie menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Ia berangkat dari kantor KontraS menuju kantor Center of Economic and Law Studies (CELIOS) di kawasan Menteng pada sekitar pukul 15.30 WIB untuk menghadiri sebuah pertemuan. Setelah agenda tersebut selesai, sekitar pukul 19.45 WIB, ia melanjutkan perjalanan ke kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jalan Diponegoro, Menteng. Di sana, ia dijadwalkan melakukan perekaman podcast bersama staf YLBHI, Zainal Arifin, dengan topik “Remiliterisasi dan Judicial Review UU TNI”.
Perekaman siniar tersebut rampung sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, Andrie masih berada di kantor YLBHI hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Ia kemudian memutuskan untuk pulang menggunakan sepeda motor setelah sempat mengisi bahan bakar di SPBU Cikini.
Sekitar pukul 23.37 WIB, saat melintas di Jalan Salemba I dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Aerox berwarna kuning, Andrie melihat sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh dua orang bergerak melawan arah di kawasan Talang. Motor yang dikendarai pelaku diduga merupakan jenis Honda Beat atau Honda Vario model lama berwarna hitam dengan panel putih di bagian belakang.
Ketika kedua kendaraan berpapasan, salah satu pelaku secara tiba-tiba menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban. Cairan tersebut mengenai sebagian tubuh Andrie, terutama pada bagian mata, wajah, dada, dan tangan. Korban seketika berteriak kesakitan, hingga akhirnya menghentikan motornya dan terjatuh.
Menurut keterangan dari KontraS, Andrie sempat berteriak meminta tolong dengan histeris, “AAAH, AAHH, AAHH, PANAS… PANAS!” lalu berteriak “AIR KERAS, AIR KERAS,” yang akhirnya menarik perhatian warga sekitar untuk datang menolong. Akibat cairan tersebut, pakaian yang dikenakan korban bahkan dilaporkan meleleh.
Dalam kondisi yang sangat kesakitan, Andrie berusaha mengambil kembali motor dan tasnya sebelum akhirnya meninggalkan pakaiannya yang rusak di lokasi kejadian. Sementara itu, para pelaku langsung melarikan diri menuju Jalan Salemba Raya. Saat kabur, pelaku diduga sempat menjatuhkan sebuah gelas stainless steel yang diduga digunakan untuk membawa cairan tersebut.
Dampak Serius dan Upaya Penyelidikan
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengungkapkan bahwa Andrie mengalami luka serius di sekujur tubuhnya, terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata. Dimas menambahkan bahwa setelah insiden tersebut, Andrie Yunus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
“Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24 persen,” ujar Dimas dalam keterangannya pada Jumat, 13 Maret 2026. Ia juga memastikan bahwa pelaku adalah dua orang laki-laki yang beroperasi menggunakan satu motor, dengan masing-masing berperan sebagai pengemudi dan penumpang.
Di sisi lain, Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menyatakan bahwa pihaknya masih terus melakukan penyelidikan mendalam terkait kasus dugaan penyiraman air keras terhadap aktivis HAM, Andrie Yunus. Ia memastikan bahwa tim penyidik bekerja keras untuk mengungkap kasus ini.
“Masih dilakukan pendalaman. Anggota saya masih bekerja, bekerja keras,” ungkap Asep kepada wartawan di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur, pada Sabtu, 14 Februari 2026. Kapolda Metro Jaya menjamin bahwa penyelidikan akan dilakukan secara transparan dan profesional, dengan mengedepankan metode penyelidikan ilmiah atau scientific crime investigation. “Doakan saja bisa terungkap dengan cepat ya,” tuturnya, berharap kasus ini dapat segera menemui titik terang.



