Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyoroti tantangan baru yang dihadapi generasi muda di era digital, yakni pengaruh algoritma yang dinilai mampu membentuk pola pikir, perilaku, hingga cara masyarakat memandang suatu isu.
Nezar mengatakan kehidupan masyarakat kini sangat dipengaruhi platform digital dan sistem algoritma media sosial. Ia menjelaskan bahwa kehidupan sehari-hari saat ini semakin dimediasi oleh platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk oleh algoritma. Apa yang kita sukai terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber.
Menurut Nezar, situasi tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius karena membuat masyarakat semakin sulit memilah fakta, opini, maupun informasi yang dimanipulasi. Ia menilai kondisi itu juga dapat memperkuat polarisasi sosial dan menurunkan kemampuan berpikir kritis, khususnya di kalangan anak muda.
Nezar turut menyinggung laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu ancaman global terbesar pada 2026, bahkan dianggap lebih mengkhawatirkan dibanding sejumlah persoalan geopolitik. Ia menegaskan bahwa saat ini orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Jika suka langsung dipercaya, jika tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya.
Selain itu, Nezar juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang berlangsung sangat cepat, mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika. Ia menyebut persaingan global kini tidak lagi hanya berkaitan dengan sumber daya alam, melainkan perebutan penguasaan data, teknologi komputasi, semikonduktor, dan sumber daya manusia digital.
Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Jika Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar karena didukung bonus demografi dan cadangan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi dunia. Namun, potensi tersebut dinilai tidak akan maksimal tanpa kualitas SDM yang mampu menguasai bidang sains dan teknologi.
Karena itu, Nezar mendorong generasi muda meningkatkan kemampuan di bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics) sekaligus memperkuat literasi digital agar tidak mudah terpengaruh manipulasi algoritma. Ia menegaskan bahwa kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi.
Ia juga mengajak organisasi pelajar dan kepemudaan untuk berkontribusi dalam membangun kemandirian teknologi nasional serta menjaga ruang digital Indonesia agar tetap sehat, kritis, dan produktif.
Tantangan Generasi Muda di Era Digital
- Pengaruh Algoritma
- Algoritma media sosial mampu membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat.
- Isi kepala kita perlahan dibentuk oleh algoritma.
- Informasi yang sesuai dengan preferensi kita terus ditampilkan, sedangkan pandangan lain disingkirkan.
Kondisi ini menciptakan filter bubble dan echo chamber.
Dampak Serius pada Masyarakat
- Kesulitan memilah fakta, opini, dan informasi yang dimanipulasi.
- Meningkatnya polarisasi sosial.
Menurunnya kemampuan berpikir kritis, terutama di kalangan anak muda.
Ancaman Global Misinformasi dan Disinformasi
- Laporan World Economic Forum menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai ancaman global terbesar pada 2026.
Lebih mengkhawatirkan daripada beberapa isu geopolitik.
Perkembangan Teknologi Kecerdasan Buatan (AI)
- Perkembangan AI sangat cepat, termasuk generative AI, agentic AI, dan physical AI berbasis robotika.
Persaingan global kini tidak hanya tentang sumber daya alam, tetapi juga penguasaan data, teknologi komputasi, semikonduktor, dan sumber daya manusia digital.
Perang Chip AI dan Penguasaan Teknologi
- Perang yang paling penting saat ini adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi.
Jika Indonesia hanya menjadi pengguna teknologi, bonus demografi akan hilang tanpa dampak besar.
Peluang Indonesia di Dunia Teknologi
- Indonesia memiliki peluang besar berkat bonus demografi dan cadangan mineral strategis.
Namun, peluang ini tidak akan optimal tanpa SDM berkualitas di bidang sains dan teknologi.
Dorongan untuk Generasi Muda
- Meningkatkan kemampuan di bidang STEM.
- Memperkuat literasi digital agar tidak mudah terpengaruh manipulasi algoritma.
Masuk menjadi pemain dalam industri digital global, bukan hanya sebagai pasar dan konsumen teknologi.
Kontribusi Organisasi Pelajar dan Kepemudaan
- Berkontribusi dalam membangun kemandirian teknologi nasional.
- Menjaga ruang digital Indonesia agar tetap sehat, kritis, dan produktif.





