Warga Rp1 Miliar Tercekik Bau Sampah, Pengelola Angkat Tangan

Protes Warga Elite: Rumah Rp1 Miliar Terusik Bau Sampah dan Jalan Rusak

Kehidupan di kawasan perumahan mewah kerap diasosiasikan dengan kenyamanan, keindahan, dan kualitas hidup yang tinggi. Namun, bagi sebagian warga di Jakarta Garden City (JGC), Cakung, Jakarta Timur, mimpi akan hunian idaman senilai miliaran rupiah kini tercoreng oleh masalah yang tak terduga: bau sampah yang menyengat dan kondisi jalan yang memprihatinkan. Kekhawatiran akan penurunan nilai investasi properti pun membayangi mereka.

Pada Sabtu, 17 Februari 2026, puluhan warga JGC menggelar aksi unjuk rasa di depan Sales Gallery JGC, sebuah lokasi strategis yang berhadapan langsung dengan AEON Mall Cakung. Tuntutan mereka jelas: meminta solusi atas bau sampah yang berasal dari fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara, yang telah mengganggu kenyamanan mereka sejak lama.

Bau Sampah Mengintai di Kawasan Elit

Bagi warga yang telah menginvestasikan dana mencapai Rp1 miliar untuk membeli rumah di JGC, keberadaan fasilitas pengolahan sampah RDF Rorotan menjadi momok menakutkan. Meskipun belum beroperasi sepenuhnya, bau sampah yang tidak sedap kerap tercium, bahkan sampai ke klaster-klaster hunian seperti Shinano, Mahakam, dan Savoi.

“JGC rumah mewah, bau sampah,” teriak warga saat berunjuk rasa, menyuarakan kekecewaan mereka. Wahyu Andre, Ketua RT 18 RW 14 Klaster Shinano JGC, mengungkapkan bahwa bau tersebut memang samar namun muncul secara tidak menentu, mengganggu aktivitas sehari-hari.

Warga mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada pihak pengembang JGC. Anin (40), warga Klaster Mahakam JGC, menceritakan pengalamannya yang sudah merasakan dampak bau sampah sejak dua bulan setelah menempati rumahnya setahun lalu. “Itu pas belum puasa yang kita demo di RDF Rorotan,” ujarnya.

Dugaan warga, bau tersebut masih muncul karena fasilitas RDF Rorotan diduga tetap beroperasi secara diam-diam. Keberadaan bau sampah yang kuat, bahkan tercium oleh awak media yang meliput di lokasi, semakin memperkuat keluhan warga.

Pengembang Merasa Tak Berwenang

Menanggapi aksi tersebut, perwakilan pengelola JGC, Andhika, menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan langsung atas keberadaan RDF Rorotan. “Balik lagi, RDF itu kan bukan produknya kita,” tegasnya. Ia mengklaim bahwa pihak JGC telah melakukan mediasi dan berbicara dengan pemerintah setempat.

Andhika juga menyebutkan bahwa manajemen JGC baru mengetahui pembangunan RDF Rorotan setelah fasilitas tersebut berdiri. Ia tidak merinci kerugian yang dialami JGC akibat keberadaan RDF, namun menyerahkan penilaian tersebut kepada awak media. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mengenai langkah proaktif pengembang dalam melindungi aset dan kenyamanan penghuni kawasan yang mereka kelola.

Protes Jalan Rusak: Simbol Kekecewaan

Selain masalah bau sampah, warga JGC juga menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap kondisi jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki secara menyeluruh. Sebagai bentuk protes atas lambannya penanganan, sejumlah warga menggelar aksi unik dengan menanam pohon pisang di jalan berlubang, tepat di depan AEON Mall Cakung.

Aksi ini menjadi simbol kekecewaan warga yang telah mengeluhkan kondisi jalan rusak selama bertahun-tahun tanpa solusi permanen. Wahyu Andre menggambarkan kondisi jalan seperti medan “off road” yang hancur lebur, dan telah disampaikan berulang kali kepada pengelola melalui RT dan RW.

Menurut Wahyu, perbaikan yang dilakukan oleh pengembang dinilai hanya bersifat tambal sulam di titik-titik tertentu, sehingga kerusakan kembali muncul dalam waktu singkat. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas dan keberlanjutan perbaikan yang dilakukan.

Kesepakatan Perbaikan Jalan: Harapan Baru atau Janji Semata?

Menanggapi aksi penanaman pohon pisang, Andhika dari pengelola JGC mengklaim bahwa keluhan warga terkait jalan rusak telah ditindaklanjuti. Ia menyebutkan adanya kesepakatan bersama antara pengelola dan warga terkait rencana perbaikan jalan.

“Jalan ini sudah ada kesepakatan. Sebenarnya, kesepakatannya itu kami perbaiki di bulan Juni nanti, dan itu dari RT RW, seluruh warga pun sudah tahu suratnya sudah kami sebar,” ungkap Andhika. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan warga tetap menggelar aksi, meskipun kesepakatan perbaikan telah disepakati.

Meskipun demikian, Andhika menambahkan bahwa sebelum perbaikan menyeluruh dilakukan pada Juni, pihak pengelola mengklaim telah melakukan perbaikan secara bertahap. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan apakah perbaikan bertahap tersebut sudah mencakup seluruh ruas jalan yang rusak atau hanya sebagian kecil.

Bagi warga JGC, situasi ini menjadi ujian kesabaran dan kepercayaan terhadap pengembang. Mereka berharap agar janji perbaikan, baik untuk masalah bau sampah maupun jalan rusak, dapat segera terealisasi demi mengembalikan nilai dan kenyamanan hunian mereka. Investasi miliaran rupiah seharusnya memberikan imbalan berupa kualitas hidup yang setara, bukan justru dihadapkan pada masalah lingkungan dan infrastruktur yang merugikan.

Pos terkait