Antisipasi kelebihan bagasi, jemaah haji belanja oleh-oleh di tanah air



MADINAH – Dalam kegiatan berburu oleh-oleh khas Madinah, tidak semua jemaah haji memilih membawa banyak barang dari Tanah Suci. Sebagian dari mereka memiliki cara yang berbeda dalam berbagi kebahagiaan setelah menyelesaikan ibadah haji nanti.

Alih-alih memenuhi koper dengan kurma, sajadah, atau suvenir, beberapa jemaah memilih untuk membeli sebagian oleh-oleh di Indonesia. Pilihan ini dinilai lebih praktis dan bisa menghemat tenaga serta ruang bagasi selama perjalanan ibadah.

Salah satu contohnya adalah jemaah asal Indonesia, Fatimah. Ia mengaku memilih membeli sebagian oleh-oleh haji setibanya kembali di Indonesia, seperti kurma, sajadah, dan lainnya. Menurutnya, alasan utamanya adalah karena tidak repot membawanya. Di sini, ia hanya membeli barang yang tidak tersedia di Indonesia.

“Alasannya karena nggak repot bawanya, di sini belanja yang nggak ada di Indonesia saja,” katanya.

Meski ada opsi untuk mengirim barang dari Arab Saudi melalui kargo, Fatimah merasa dana tersebut lebih baik dialokasikan untuk membeli buah tangan setibanya di Indonesia.

Jemaah Indonesia lainnya, Aisyah, juga mengungkapkan bahwa ia tidak ingin terlalu lama berbelanja oleh-oleh selama berada di Tanah Suci. Ia lebih fokus pada rangkaian ibadah haji dengan khusyuk.

Menurutnya, urusan oleh-oleh bukan menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, ia hanya akan membeli seperlunya saja. Sisa kebutuhan buah tangan akan ia penuhi setibanya di Indonesia.

“Beli sebagian saja, sisanya di Indonesia. Ingin fokus ibadah,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Khalilurrahman, menyampaikan bahwa setiap jemaah harus memahami ketentuan terkait barang bawaan. Menurutnya, yang boleh dibawa hanya tiga macam, yaitu koper bagasi, koper kecil atau kabin, dan tas dokumen. Selebihnya harus ditinggal karena akan menyulitkan tim transportasi.

“Ini akan menyulitkan tim transportasi,” tegasnya, Sabtu (2/5/2026).

Hal ini disebabkan karena fase penyelenggaraan ibadah haji sudah memasuki tahap krusial. Selain kedatangan jemaah dari Tanah Air, juga terjadi pergeseran jemaah dari Madinah menuju Makkah. Armada bus yang digunakan untuk mengangkut jemaah telah mempertimbangkan barang bawaan berupa tiga aspek tersebut.

Dalam kesempatan berbeda, Kasi Transportasi Daker Madinah, Muslih, memastikan bahwa seluruh armada bus siap memfasilitasi pendorongan jemaah secara maksimal. Namun, ia juga memberikan catatan terkait barang bawaan jemaah yang sering kali melebihi kapasitas atau “beranak pinang”.

Muslih menegaskan bahwa armada transportasi yang disediakan telah dihitung secara presisi untuk mengangkut barang bawaan standar jemaah. Sesuai ketentuan, setiap jemaah berhak membawa satu koper besar, satu koper kecil, dan satu tas dokumen.

“Seluruh bawaan standar tersebut dipastikan mampu terakomodasi oleh armada kami. Namun, jika barang bawaan jemaah ‘beranak pinang’ atau bertambah di luar ketentuan, hal ini akan memakan space bagasi secara berlebihan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa egoisme dalam membawa barang berlebih dapat merugikan jemaah lain. Jemaah yang sudah patuh pada aturan justru khawatir tidak mendapatkan ruang bagasi karena tertutup oleh barang tambahan rekannya.

Pos terkait