Penurunan harga bahan bakar penerbangan atau avtur sebesar 10% mulai berlaku pada periode 1 hingga 30 Juni 2026. Keputusan ini diambil oleh PT Pertamina Patra Niaga sebagai respons terhadap dinamika pasar global yang menguntungkan. Penyesuaian tarif ini diharapkan memberikan dampak positif bagi industri penerbangan nasional, terutama menjelang periode liburan sekolah dan musim haji.
Faktor Pendorong Penurunan Harga Avtur
Fluktuasi harga komoditas energi di pasar global menjadi pendorong utama koreksi harga avtur ini. Formulasi harga acuan yang mengalami penurunan memberikan ruang bagi perusahaan untuk menyesuaikan tarif keekonomian yang lebih rendah bagi maskapai penerbangan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa dinamika pasar internasional saat ini memang sedang menguntungkan bagi harga avtur domestik. “Pengaruh harga pasar dan keekonomian yang fluktuatif dapat menyebabkan naik atau turunnya harga,” ujarnya.
Roberth menambahkan bahwa tren positif dari pergerakan instrumen pasar energi global secara langsung ditransmisikan ke dalam harga jual di dalam negeri. “Saat ini kondisi itu dapat dilihat sebagai efek positif yang bisa membuat harga disesuaikan dan menjadi turun,” ungkapnya.
Dampak Positif bagi Industri Penerbangan dan Pariwisata
Langkah penurunan harga avtur ini dinilai sangat positif bagi industri penerbangan nasional, terutama saat memasuki masa high season atau puncak liburan. Momentum libur sekolah dan musim haji 2026 diharapkan dapat ikut mendongkrak kinerja bisnis sektor transportasi udara serta sektor pariwisata daerah.
“Kondisi liburan yang didukung dari penurunan harga avtur tentunya membuat efek domino yang positif sehingga maskapai dalam negeri dapat memberikan tarif yang lebih terjangkau kepada konsumen. Roda perekonomian pun dapat tersokong,” jelas Roberth.
Penurunan harga avtur ini diharapkan dapat membantu maskapai penerbangan untuk menawarkan tiket dengan harga yang lebih kompetitif. Hal ini pada gilirannya akan mendorong peningkatan jumlah penumpang, baik untuk keperluan perjalanan bisnis maupun wisata. Dengan lebih banyak orang yang bepergian, sektor pariwisata dan ekonomi lokal diharapkan akan merasakan manfaatnya secara langsung.
Rincian Harga Avtur di Sejumlah Bandara Utama
Berdasarkan informasi dari laman resmi Pertamina One Solution pada Selasa (2/6/2026), berikut adalah rincian harga avtur pada periode 1 hingga 30 Juni 2026 di sejumlah bandara utama di Indonesia:
Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Jakarta:
- Penerbangan domestik: Turun menjadi Rp 24.697 per liter dari sebelumnya Rp 27.357 per liter.
- Penerbangan internasional: Turun dari 162,9 US cents per liter menjadi 141,7 US cents per liter.
Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali:
- Penerbangan domestik: Dipatok menjadi Rp 26.133 per liter dari Rp 29.149 per liter.
- Penerbangan internasional: Turun dari 173,4 US cents per liter menjadi 149,9 US cents per liter.
Bandara Ahmad Yani, Semarang:
- Penerbangan domestik: Turun menjadi Rp 26.099 per liter dari sebelumnya Rp 29.116 per liter.
- Penerbangan internasional: Turun menjadi 149,8 US cents per liter dari 173,2 US cents per liter.
Bandara Juanda, Surabaya:
- Penerbangan domestik: Kini dibanderol Rp 25.966 per liter dari sebelumnya Rp 28.938 per liter.
- Penerbangan internasional: Ditetapkan sebesar 149 US cents per liter dari sebelumnya 172,2 US cents per liter.
Proyeksi Pertumbuhan Industri Penerbangan
Dengan adanya penurunan harga avtur ini, diharapkan dapat memicu peningkatan permintaan tiket pesawat. Maskapai penerbangan kemungkinan akan merespons dengan menawarkan berbagai promo menarik untuk menarik lebih banyak penumpang. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi para pelancong yang ingin memanfaatkan momen liburan panjang.
Selain itu, penurunan biaya operasional bagi maskapai juga berpotensi mendorong penambahan frekuensi penerbangan, terutama pada rute-rute yang ramai. Peningkatan jumlah penerbangan ini akan semakin memperlancar mobilitas masyarakat dan mendukung pertumbuhan sektor pariwisata di berbagai daerah tujuan.
Kondisi ini juga menjadi angin segar bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Sektor-sektor lain yang terkait erat dengan industri penerbangan, seperti perhotelan, restoran, dan penyedia jasa wisata, juga diharapkan akan mengalami peningkatan omzet. Oleh karena itu, kebijakan penurunan harga avtur ini memiliki multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian Indonesia.





