Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen kuatnya untuk memulihkan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana dahsyat di Sumatera pada akhir November 2025. Salah satu sektor prioritas yang menjadi perhatian utama adalah sektor peternakan dan pertanian, yang mengalami kerusakan signifikan akibat musibah tersebut. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, secara tegas menyatakan bahwa pemerintah akan menyalurkan bantuan peternakan bagi para peternak yang usahanya luluh lantak. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pemulihan keberlanjutan bagi para peternak di wilayah terdampak.
Program Pemulihan Pascabencana: Ayam Merah Putih dan Bantuan Ternak
Sudaryono menjelaskan bahwa program pemulihan pascabencana akan mencakup berbagai inisiatif, salah satunya adalah program “Ayam Merah Putih”. “Negara kita mampu, anggaran ada. Jadi rakyat yang terdampak, kedaruratannya dibereskan,” ujar Sudaryono. Ia menegaskan bahwa bagi peternak yang mengalami kehancuran usaha, pemerintah akan melakukan perbaikan dan memberikan bantuan peternakan yang dibutuhkan.
Kementerian Pertanian akan melakukan identifikasi menyeluruh terhadap seluruh jenis ternak yang terdampak bencana. Ini meliputi ternak unggas seperti ayam, hingga ternak besar seperti sapi dan kambing. Tujuan dari pendataan ini adalah untuk memastikan bahwa bantuan yang disalurkan benar-benar sesuai dengan kondisi riil di lapangan dan untuk mencegah kerugian lebih lanjut di wilayah yang terkena dampak bencana Sumatera.
Saat ini, tim Kementerian Pertanian masih aktif melakukan pendataan di lapangan. Penyaluran bantuan peternakan dijadwalkan akan dilakukan setelah tahap penanganan kedaruratan bencana terselesaikan secara menyeluruh. Sudaryono menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah pada fase kedaruratan, di mana masyarakat terdampak masih sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, seperti logistik dan kebutuhan dasar lainnya, sebagai fondasi awal menuju proses pemulihan pascabencana.
Anggaran Memadai untuk Kedaruratan dan Pemulihan
Ketersediaan anggaran untuk penanganan kedaruratan hingga tahap pemulihan dipastikan memadai. Pemerintah berkomitmen untuk tidak membiarkan masyarakat terdampak bencana menghadapi kesulitan sendirian. Pendampingan akan dilakukan secara bertahap, memastikan bahwa setiap aspek kehidupan mereka yang terganggu dapat kembali normal.
Rehabilitasi Sektor Pertanian: Sawah dan Tanaman Pangan
Selain bantuan untuk sektor peternakan, pemerintah juga memberikan perhatian serius pada pemulihan sektor pertanian. Sudaryono mengungkapkan bahwa upaya perbaikan akan difokuskan pada sawah yang rusak akibat bencana. Lebih lanjut, bagi petani yang terdampak, akan dilakukan pencetakan sawah baru untuk menggantikan lahan yang tidak dapat diselamatkan.
Berdasarkan data awal dari Kementerian Pertanian, sekitar 70.000 hektare lahan pertanian di Sumatera terdampak oleh bencana. Dari jumlah tersebut, sekitar 11.000 hektare mengalami kerusakan parah hingga dinyatakan puso atau gagal panen total.
Proses pemulihan sawah warga yang terdampak bencana akan dilaksanakan secara bertahap, seiring dengan upaya pembersihan dan rehabilitasi wilayah secara keseluruhan. Pendataan yang lebih rinci mengenai kondisi lahan pertanian yang rusak dijadwalkan akan dimulai pada awal Januari 2026.
Komitmen Pemerintah untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Sudaryono menegaskan kembali komitmen kuat pemerintah dalam memulihkan kehidupan warga yang terdampak bencana Sumatera. “Yang sawahnya hancur kita cetakan sawah. Jadi negara komit untuk itu. Termasuk rumah yang hancur, itu kemudian juga akan dibangunkan rumah,” ujarnya. Komitmen ini mencakup tidak hanya pemulihan lahan pertanian dan usaha peternakan, tetapi juga perbaikan infrastruktur dasar seperti perumahan.
Melalui berbagai program bantuan dan rehabilitasi yang komprehensif, pemerintah berharap dapat mengembalikan harapan dan membangun kembali kehidupan masyarakat Sumatera yang telah dilanda musibah. Upaya ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk rakyatnya, bahkan di saat-saat terberat sekalipun, demi mewujudkan pemulihan yang berkelanjutan.





