Momen Spesial dalam Pembukaan Busan International Dance Festival 2026
Busan International Dance Festival (BIDF) 2026 resmi dibuka di Busan Cultural Centre (BCC), Korea Selatan, pada Jumat (5/6/2026). Acara ini menarik perhatian banyak pihak karena berbagai momen istimewa yang terjadi selama pembukaan. Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah penyerahan buku puisi karya penyair Indonesia, Taufiq Ismail, yang berjudul Debu di Atas Debu.
Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Korea dan diserahkan kepada panitia festival. Penyerahan buku ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan wajah Indonesia yang tidak hanya kaya akan seni pertunjukan, tetapi juga memiliki tradisi sastra yang kuat. Buku ini diserahkan oleh penyair Fikar W Eda bersama Ketua Lesbumi Gayo (Lesbuga), M Aris, kepada Shin Eunju, Executive Director BIDF, di sela-sela rangkaian acara pembukaan festival tari internasional yang diikuti oleh 13 negara.
Peran Sastra dalam Diplomasi Budaya
Jika Tari Saman hadir sebagai representasi kekayaan seni pertunjukan Aceh, maka karya sastra Taufiq Ismail menjadi jembatan yang memperkenalkan khazanah sastra Indonesia kepada masyarakat Korea melalui bahasa yang lebih dekat dengan mereka. Debu di Atas Debu merupakan salah satu karya penting Taufiq Ismail yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Kehadirannya dalam versi Korea menunjukkan semakin terbukanya ruang dialog budaya antara Indonesia dan Korea Selatan melalui sastra.
Fikar W Eda mengatakan bahwa penyerahan buku tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan wajah Indonesia yang tidak hanya kaya akan seni pertunjukan, tetapi juga memiliki tradisi sastra yang kuat. Ia menjelaskan bahwa melalui buku puisi ini, pihaknya ingin memperkenalkan sastra Indonesia kepada masyarakat Korea. Menurutnya, sastra adalah bahasa kemanusiaan yang mampu melintasi batas negara, bahasa, dan budaya.
Pesan Kebudayaan dari Delegasi Aceh
Ketua Lesbuga, M Aris, menambahkan bahwa keikutsertaan delegasi Aceh dalam BIDF tidak hanya membawa Tari Saman, tetapi juga membawa pesan kebudayaan yang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa mereka hadir bukan hanya untuk menampilkan tarian, tetapi juga memperkenalkan kekayaan intelektual dan sastra Indonesia. Ini menjadi bagian dari diplomasi budaya yang mempererat hubungan antarmasyarakat dan antarbangsa.
Sementara itu, Executive Director BIDF, Shin Eunju, menyampaikan apresiasi atas kehadiran delegasi Aceh yang menghadirkan perpaduan seni tari dan sastra dalam festival tersebut. Ia juga mengucapkan terima kasih atas hadiah buku puisi yang diterimanya. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan dapat memperkuat hubungan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan, serta memberikan wawasan baru bagi masyarakat tentang kekayaan seni dan sastra dari kedua negara.






