Investor Asia Panik, Pasar Saham Tergelincir Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Energi
Pasar saham di seluruh kawasan Asia mengalami koreksi tajam pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026, seiring dengan gelombang kekhawatiran investor global terhadap eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah ini memicu eksodus investor asing dari pasar-pasar utama di Asia, sekaligus menimbulkan kekhawatiran baru akan guncangan pasokan energi yang berpotensi memicu inflasi persisten dan menunda rencana pemangkasan suku bunga oleh bank sentral dunia.
Situasi ini diperparah oleh aksi ambil untung (profit taking) yang gencar dilakukan investor pada instrumen emas dan saham di sektor semikonduktor, yang sebelumnya sempat menjadi primadona.
Koreksi Tajam di Bursa Asia
Salah satu bursa yang paling terpukul adalah Kospi di Seoul, Korea Selatan. Indeks Kospi dilaporkan terjun bebas hingga 4 persen, meneruskan tren bearish yang telah mencatatkan akumulasi kerugian lebih dari 11 persen hanya dalam dua hari perdagangan terakhir. Gelombang jual yang masif ini sebagian besar didorong oleh keluarnya investor asing secara besar-besaran dari pasar saham Korea Selatan, terutama dari saham-saham produsen cip memori berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya mengalami penguatan signifikan. Tekanan jual ini juga turut menyeret nilai tukar mata uang won Korea Selatan ke level terendah dalam 17 tahun terakhir.
Di Jepang, indeks Nikkei juga tidak luput dari tekanan, melemah 2,5 persen dan menandai kerugian selama tiga sesi perdagangan berturut-turut. Sebagai negara yang merupakan importir energi utama, Jepang dan Korea Selatan menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global, terutama minyak mentah.
Lonjakan Harga Energi dan Dampak Inflasi
Konflik di Timur Tengah ini secara langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah acuan Brent melonjak lebih dari 12 persen sepanjang pekan ini, sempat menyentuh angka $81,40 per barel atau setara dengan Rp1,32 juta per barel. Lonjakan ini terjadi akibat serangan terhadap infrastruktur energi di wilayah Teluk.
Di Eropa, dampak serupa terasa dengan harga gas acuan yang dilaporkan melonjak sekitar 65 persen hanya dalam kurun waktu dua hari. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius bahwa tingginya harga energi dalam jangka panjang akan memicu inflasi yang persisten. Inflasi yang tinggi ini dikhawatirkan akan membuat bank sentral dunia menunda rencana pemangkasan suku bunga mereka, yang sebelumnya telah dinanti-nantikan oleh pasar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meskipun sempat ada sedikit pelandaian pada harga minyak mentah setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan jaminan asuransi pengiriman di wilayah Teluk dan menyatakan kesiapan angkatan laut untuk mengawal kapal tanker di Selat Hormuz jika situasi mendesak, ketidakpastian tetap membayangi pasar.
Eskalasi Konflik dan Respons Pasar
Situasi keamanan di Timur Tengah kian memanas setelah pasukan AS dan Israel melakukan pemboman terhadap Iran selama empat hari terakhir. Sebagai respons, Iran mengerahkan serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal yang menyasar sejumlah kilang minyak di Teluk serta kompleks kedutaan besar AS di Arab Saudi dan Kuwait.
Menanggapi situasi ini, Damien Boey, ahli strategi portofolio di Wilson Asset Management di Sydney, memberikan pandangannya. Boey menilai bahwa terkoreksinya indeks saham Asia secara dalam merupakan respons realistis investor yang kini mulai memperhitungkan skenario harga minyak yang akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
“Memang terlihat seperti konflik akan berlangsung sedikit lebih lama daripada yang orang pikirkan pada awalnya. Dan ada eskalasi, karena perang sekarang meluas hingga mencakup sekutu AS. Infrastruktur minyak tampaknya sedang diserang, sehingga orang harus memikirkan berapa lama hal itu akan berlangsung,” ungkap Boey.
Senada dengan itu, Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, AS, menyoroti titik krusial yang dihadapi pasar saat ini. “Isu terbesar yang sedang dipertimbangkan investor kembali ke keterkaitan antara inflasi dan suku bunga. Apakah harga energi akan tetap tinggi lebih lama daripada yang dipikirkan orang kemarin, dan kemudian apakah hal itu akan tersalurkan?” jelas Carlson.
Dampak Ekonomi Global dan Pergerakan Pasar Lainnya
Dampak ekonomi dari ketegangan ini tidak hanya dirasakan di Asia, tetapi juga di daratan Eropa. Mata uang Euro dilaporkan merosot di bawah tekanan akibat prediksi bahwa kawasan tersebut akan menanggung beban biaya energi yang sangat besar.
Di pasar komoditas, harga emas mengalami penurunan sekitar 4,5 persen, sementara dolar Australia melemah 0,8 persen. Fenomena ini terjadi karena para pelaku pasar memilih untuk mencairkan keuntungan guna menutupi kerugian di sektor lain di tengah volatilitas yang tinggi pekan ini. Pada awal sesi perdagangan Asia, emas mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, diperdagangkan di kisaran $5.128 per ounce atau setara dengan Rp2,67 juta per gram.
Sementara itu, bursa berjangka di AS dan Eropa menunjukkan upaya untuk bangkit. Futures S&P 500 bergerak datar, sementara futures Eropa tercatat naik 0,8 persen. Namun, bursa Wall Street sendiri juga merasakan tekanan, dengan indeks S&P 500 ditutup melemah 0,8 persen pada penutupan sesi sebelumnya. Ketidakpastian geopolitik dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global terus menjadi perhatian utama para pelaku pasar di seluruh dunia.





