Empat Pengurus KONI Makassar Mengundurkan Diri karena Tidak Sepaham dengan Ketua

KONI Kota Makassar Mengalami Perubahan Struktur

Empat pengurus inti Komite Olahraga Indonesia (KONI) Kota Makassar, Sulawesi Selatan, memutuskan untuk mundur secara bersamaan. Keputusan ini dianggap sebagai tanda adanya ketidakcocokan dengan kepemimpinan ketua mereka, Ismail. Selain itu, muncul dugaan bahwa pengelolaan anggaran hibah dari Pemerintah Kota Makassar tidak sesuai dengan peruntukannya.

Sekretaris KONI Kota Makassar, Iqbal Djalil, menyatakan bahwa ia mengundurkan diri karena ingin fokus pada bisnis dan pekerjaan sebelumnya. Ia mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah pernyataan yang disampaikan kepada media setempat.

Selain Iqbal Djalil, tiga pengurus inti lainnya juga turut mundur. Mereka adalah Wakil Sekretaris KONI Makassar, Queensyah Azahrah Kirana Siliwangi, Ketua Bidang Pendidikan dan Penataran, Andi Yasin Iskandar, serta Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi, Arianto Najib.

Dari informasi yang beredar, keempat pengurus ini tidak cocok dengan gaya kepemimpinan Ketua KONI Makassar, Ismail. Hal ini memicu spekulasi tentang dinamika internal organisasi yang mengurusi berbagai cabang olahraga di kota tersebut.

Selain masalah kepemimpinan, ada dugaan kuat bahwa pengelolaan keuangan KONI Makassar bermasalah. Dana hibah yang diterima dari Pemkot Makassar diduga sudah digunakan tanpa adanya pelaporan pengelolaan keuangan secara transparan. Namun, sampai saat ini belum ada validasi terkait isu tersebut.

Salah satu pengurus yang mengundurkan diri menjelaskan bahwa alasan utamanya adalah ketidaksejajaran visi dengan kepemimpinan Ismail. Ia menegaskan bahwa gaya kepemimpinan ketua saat ini sudah tidak cocok lagi, dan pengelolaan anggaran dianggap sangat rusak. Menurutnya, lebih baik mundur daripada terus-menerus berada dalam situasi yang tidak sehat.

Sebelumnya, Pemkot Makassar telah mengalokasikan anggaran dana hibah sebesar Rp 15 miliar yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2025. Dugaannya, anggaran tersebut sudah digunakan tanpa adanya laporan pengelolaan keuangan yang jelas.

Pengunduran diri empat pengurus inti ini dipengaruhi oleh dinamika internal KONI Makassar yang memiliki beberapa persoalan yang berlarut-larut tanpa solusi. Selain itu, sejumlah saran yang diajukan oleh para pengurus diduga diabaikan oleh ketua, sehingga mereka memilih untuk mundur.

Sementara itu, Ketua KONI Makassar, Ismail, belum memberikan respons terkait mundurnya empat pengurus intinya. Ia belum merespon baik melalui telepon maupun pesan singkat di media sosial WhatsApp (WA). Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan terkait kebijakan dan arah organisasi yang akan diambil selanjutnya.

Tantangan yang Dihadapi KONI Makassar

KONI Makassar kini menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas organisasi dan menjalankan fungsi utamanya sebagai lembaga pengelola olahraga. Dengan mundurnya empat pengurus inti, diperlukan langkah-langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal dan meningkatkan transparansi pengelolaan keuangan.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • Membentuk tim audit internal untuk mengevaluasi pengelolaan keuangan.
  • Melakukan komunikasi terbuka dengan seluruh anggota dan pemangku kepentingan.
  • Menyusun rencana kerja jangka pendek dan panjang yang dapat diterima oleh semua pihak.

Dengan langkah-langkah tersebut, KONI Makassar dapat membangun kembali kepercayaan masyarakat dan menjalankan tugasnya dengan lebih baik.

Pos terkait