Geliat Partai Baru Gema Bangsa dan Gerakan Rakyat: Harapan Efek Coattail Prabowo dan Anies

Munculnya Partai Baru di Tengah Dinamika Politik

Di tengah geliat politik yang mulai terlihat sejak awal tahun, muncul dua partai baru yang menarik perhatian publik. Kedua partai tersebut adalah Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat. Meskipun keduanya memiliki latar belakang dan corak yang berbeda, mereka sama-sama mencoba membangun fondasi politik untuk masa depan.

Partai Gema Bangsa dideklarasikan di Jakarta Convention Center (JCC) pada Sabtu, 17 Januari 2026. Dalam acara tersebut, Ahmad Rofiq ditunjuk sebagai ketua umum, sedangkan Muhammad Sopiyan menjadi Sekretaris Jenderal. Hadir juga eks Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, serta beberapa perwakilan dari partai pemerintah seperti Nasdem, Demokrat, dan PKS. Partai ini secara terbuka menyatakan dukungan penuh kepada Presiden Prabowo Subianto.

Sehari setelahnya, Partai Gerakan Rakyat mendeklarasikan diri di Hotel Aryaduta, Jakarta, pada Minggu, 18 Januari 2026. Partai ini mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden untuk pemilu 2029. Namun, Anies tidak masuk dalam struktur kepengurusan partai. Ia hanya menjadi anggota kehormatan dengan dominasi warna oranye sebagai identitas partai. Sahrin Hamid ditunjuk sebagai Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat. Menurut Sahrin, deklarasi ini adalah bagian dari upaya membentuk alat perjuangan politik yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Mencari Efek Ekor Jas

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Djayadi Hanan, menjelaskan bahwa partai baru ini ingin memanfaatkan efek ekor jas dari tokoh yang mereka usung. Contohnya, Partai Gerakan Rakyat yang secara terang-terangan mengusung Anies sebagai capres 2029. Djayadi menilai, kemungkinan besar partai ini bisa masuk parlemen dengan modal nama Anies.

Contoh yang disampaikan Djayadi adalah Partai Nasdem, yang sempat kesulitan bertahan di parlemen pada pemilu 2024. Namun, karena mengusung Anies, suara partai tersebut meningkat di beberapa daerah. Ini membuktikan bahwa Anies bisa menjadi faktor peningkat suara partai pendukungnya.

Sementara itu, Partai Gema Bangsa juga berharap bisa memanfaatkan nama Prabowo untuk masuk parlemen. Meskipun Prabowo sudah memiliki partai sendiri, partai baru ini tetap mengusungnya sebagai capres 2029.

Berselancar dalam Putusan MK

Selain mencari efek ekor jas, Djayadi menilai partai-partai baru ini juga mencoba berselancar dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang meminta adanya rasionalisasi ambang batas parlemen. Dalam putusan MK Nomor 116/PUU-XXII/2023, MK menilai tidak ada dasar rasionalitas penetapan ambang batas empat persen. Sehingga, pembentuk undang-undang diminta untuk memperhitungkan kembali ambang batas dengan dasar penghitungan yang jelas dan rasional.

Djayadi mengatakan, putusan MK ini bisa memberikan peluang bagi partai-partai baru untuk masuk ke Senayan. Ambang batas parlemen bisa turun menjadi 3-3,5 persen. Hal ini akan memudahkan partai non-parlemen yang ikut dalam gerbong koalisi Merah Putih Presiden Prabowo Subianto, seperti PSI, Partai Gelora, dan Prima.

Perahu Capres Tokoh

Kemunculan partai baru juga bisa mengindikasikan pembuatan kendaraan politik untuk tokoh-tokoh yang tidak tergabung dalam partai existing sebelumnya. Seperti Partai Gerakan Rakyat yang diinisiasi oleh relawan Anies, motif utamanya adalah sebagai kendaraan politik Anies untuk maju sebagai capres 2029.

Hal ini sejalan dengan putusan MK Nomor 62/PUU-XXII/2024 yang menghapus rezim ambang batas pencalonan presiden lewat jumlah kursi parlemen. Pengamat Politik Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin, menilai bahwa putusan MK ini menjadi peluang bagi beberapa tokoh, termasuk Anies, untuk membentuk partai politik. Ini bisa menghidupkan asa pencalonan diri dalam kontestasi pemilihan presiden 2029 mendatang.

Kesimpulan

Kemunculan partai baru ini menunjukkan dinamika politik yang semakin kompleks. Dengan berbagai strategi seperti efek ekor jas dan memanfaatkan putusan MK, partai-partai ini berusaha membangun fondasi politik yang kuat. Di sisi lain, mereka juga menjadi wadah bagi tokoh-tokoh yang ingin maju sebagai capres. Semua ini menunjukkan bahwa politik Indonesia terus berkembang, dan partai-partai baru akan terus muncul untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pos terkait