Gempa Lumajang: Magnitudo & Koordinat BMKG Hari Ini

Gempa Magnitudo 2,6 Guncang Tenggara Lumajang, Jawa Timur

Pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, sekitar pukul 07:08 WIB, wilayah tenggara Lumajang, Jawa Timur, diguncang oleh gempa bumi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa ini memiliki magnitudo 2,6.

Pusat gempa tercatat berada pada koordinat 8.88 Lintang Selatan (LS) dan 113.24 Bujur Timur (BT). Lokasi spesifik gempa ini adalah 83 kilometer di tenggara Lumajang, dengan kedalaman pusat gempa mencapai 77 kilometer di bawah permukaan bumi. BMKG menekankan bahwa informasi awal mengenai gempa ini bersifat sementara dan dapat mengalami perubahan seiring dengan pemrosesan data yang lebih lengkap.

Lumajang sendiri merupakan sebuah kabupaten yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur. Jarak antara Lumajang dengan Surabaya, ibu kota Jawa Timur, diperkirakan berkisar antara 147 hingga 153 kilometer.

Memahami Magnitudo Gempa

Magnitudo gempa merupakan ukuran kuantitatif dari besarnya energi yang dilepaskan oleh sumber gempa di dalam bumi. Pengukuran ini dilakukan secara ilmiah menggunakan instrumen yang disebut seismograf, yang mampu mencatat gelombang seismik yang dihasilkan oleh pergerakan lempeng tektonik. Semakin tinggi nilai magnitudo, semakin besar pula energi yang dilepaskan dan potensi kerusakan yang ditimbulkan.

Detail Kejadian Gempa

  • Waktu Kejadian: Minggu, 18 Januari 2026, pukul 07:08:57 WIB.
  • Lokasi: 83 km Tenggara Lumajang, Jawa Timur.
  • Koordinat: 8.88 LS – 113.24 BT.
  • Magnitudo: 2,6.
  • Kedalaman: 77 km.

BMKG secara rutin merilis informasi gempa terkini melalui berbagai kanal, termasuk media sosial mereka. Informasi ini penting untuk memberikan peringatan dini dan pembaruan kepada masyarakat mengenai aktivitas seismik yang terjadi.

Skala MMI: Mengukur Dampak Gempa

BMKG juga menggunakan Skala Intensitas Mercali yang Dimodifikasi (MMI) untuk menggambarkan tingkat getaran gempa yang dirasakan oleh manusia dan dampak yang ditimbulkannya di permukaan bumi. Skala ini didasarkan pada laporan pengamatan dampak gempa, bukan pada pengukuran langsung dari seismograf.

Berikut adalah penjelasan mengenai tingkat intensitas MMI:

  • I MMI: Getaran gempa tidak dapat dirasakan oleh manusia, kecuali dalam kondisi yang sangat luar biasa oleh beberapa orang.
  • II MMI: Getaran gempa dirasakan oleh segelintir orang. Benda-benda ringan yang digantung, seperti lampu, mungkin terlihat bergoyang.
  • III MMI: Getaran gempa dirasakan dengan jelas di dalam rumah. Rasanya seperti berada di dalam truk yang sedang berjalan.
  • IV MMI: Pada siang hari, gempa dapat dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan oleh beberapa orang di luar rumah. Gerabah bisa pecah, jendela dan pintu mungkin bergoyang hingga berderik, dan dinding bisa mengeluarkan bunyi.
  • V MMI: Getaran gempa dirasakan oleh hampir semua orang. Orang-orang mungkin panik dan berlarian. Gerabah pecah, barang-barang terlempar, tiang dan benda besar tampak bergoyang, dan bandul lonceng bisa berhenti berayun.
  • VI MMI: Getaran gempa dirasakan oleh semua orang. Kebanyakan orang akan terkejut dan berlarian keluar rumah. Plester dinding bisa jatuh, dan cerobong asap pabrik mungkin mengalami kerusakan ringan.
  • VII MMI: Semua orang di dalam rumah akan keluar. Kerusakan ringan dapat terjadi pada bangunan yang kokoh, sementara bangunan dengan konstruksi yang kurang baik bisa mengalami keretakan bahkan kehancuran. Cerobong asap bisa pecah.
  • VIII MMI: Bangunan dengan konstruksi kuat mengalami kerusakan ringan. Bangunan dengan konstruksi kurang baik akan retak, dinding bisa terlepas dari rangkanya, cerobong asap pabrik dan monumen bisa roboh, serta air di sumbernya bisa berubah menjadi keruh.
  • IX MMI: Bangunan dengan konstruksi kuat mengalami kerusakan serius, rangka rumah bisa menjadi tidak lurus, dan banyak terjadi keretakan. Rumah bisa terlihat bergeser dari pondasinya, dan pipa-pipa di dalam rumah bisa putus.
  • X MMI: Bangunan kayu yang kuat mengalami kerusakan. Rangka rumah bisa lepas dari pondasinya, rel kereta api bisa melengkung, dan tanah longsor bisa terjadi di sepanjang sungai atau di lereng yang curam.
  • XI MMI: Hanya sedikit bangunan yang masih berdiri. Jembatan mengalami kerusakan parah, dan lembah bisa terbentuk. Pipa-pipa di bawah tanah tidak dapat digunakan, tanah bisa terbelah, dan rel kereta api sangat melengkung.
  • XII MMI: Kerusakan total terjadi. Gelombang bisa terlihat di permukaan tanah. Pemandangan bisa menjadi gelap, dan benda-benda bisa terlempar ke udara.

Meskipun gempa yang terjadi di Lumajang kali ini memiliki magnitudo yang relatif kecil (2,6 MMI), pemahaman mengenai skala MMI sangat penting untuk mengantisipasi dan memahami potensi dampak dari gempa dengan magnitudo yang lebih besar di masa mendatang. BMKG terus berupaya memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu untuk keselamatan masyarakat.

Pos terkait