Kenaikan Harga BBM Berdampak pada Anggaran Pengangkutan Sampah Kota Bandung
Harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang terus meningkat memberikan dampak signifikan terhadap anggaran pengangkutan sampah di Kota Bandung. Hal ini menyebabkan anggaran yang sebelumnya cukup untuk jangka waktu tertentu kini harus disesuaikan kembali akibat kenaikan biaya operasional.
Pada bulan April 2026 lalu, harga Pertamax Turbo mengalami kenaikan dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter, dan Dexlite meningkat dari Rp14.200 menjadi Rp24.150 per liter. Dengan perubahan harga tersebut, biaya operasional pengangkutan sampah mulai terasa.
Per 4 Mei 2026, harga BBM kembali mengalami kenaikan. Pertamax Turbo kini berada di kisaran Rp19.900 per liter, Dexlite mencapai Rp26.000 per liter, dan Pertamina Dex meningkat menjadi Rp27.900 per liter. Kenaikan harga BBM ini memengaruhi anggaran pengangkutan sampah yang digunakan oleh pihak DLH Kota Bandung.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, menjelaskan bahwa armada pengangkut sampah tidak menggunakan BBM bersubsidi, melainkan menggunakan BBM non subsidi jenis Dexlite. Ia menyatakan bahwa kenaikan harga BBM ini berdampak langsung terhadap anggaran pengangkutan sampah.
“Dengan situasi global seperti ini, tentu ada kontraksi. Kenaikan awal membuat anggaran yang sebelumnya cukup untuk 12 bulan hanya mampu bertahan selama 10 bulan,” ujarnya.
Saat ini, dengan kenaikan harga BBM non subsidi yang kedua, anggaran pengangkutan sampah hanya cukup untuk sembilan bulan atau hingga September 2026 mendatang. Darto belum dapat memastikan besaran anggaran khusus untuk biaya BBM tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa anggaran akan kembali ditambahkan dalam APBD perubahan.
Secara keseluruhan, total anggaran untuk penanganan sampah di Kota Bandung mencapai sekitar Rp90 miliar. Dengan kondisi ini, pihaknya akan melakukan penyesuaian anggaran agar pengangkutan sampah tetap berjalan normal.
“Pengangkutan tidak boleh terganggu. Jika ada kontraksi terhadap pengurangan bulan, hal ini bisa diatasi melalui APBD perubahan,” kata Darto.
Selain menambah anggaran, pihak DLH juga berupaya untuk memperpendek jarak pengangkutan sampah atau bahkan tidak perlu mengangkut sama sekali. Solusi ini dilakukan dengan cara mengolah sampah di tempat asalnya.
“Caranya adalah habiskan di tempat oleh petugas pemilah sampah. Penanganan sampah saat ini sudah mencapai lebih dari 62 ton, melebihi target 40 ton. Kami akan terus mendorong upaya ini,” tambahnya.
Strategi Pengurangan Sampah di Hulu
Beberapa strategi telah diterapkan untuk mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut. Salah satu caranya adalah dengan mempercepat proses pemilahan sampah di lokasi sumber. Dengan demikian, sampah yang dapat diolah dihancurkan atau didaur ulang sebelum dibawa ke TPA Sarimukti.
Dalam beberapa bulan terakhir, kapasitas pengolahan sampah di Kota Bandung terus meningkat. Pihak DLH berkomitmen untuk terus meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan sampah agar tidak terlalu bergantung pada pengangkutan.
Perkembangan Teknologi Pengolahan Sampah
Penggunaan teknologi dalam pengolahan sampah juga mulai dikembangkan. Dengan adanya alat-alat modern, proses daur ulang dan pengolahan sampah menjadi lebih efektif dan cepat. Hal ini juga membantu mengurangi beban anggaran pengangkutan.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah secara mandiri juga terus dilakukan. Melalui program-program sosialisasi, warga diajarkan cara memilah sampah dan mengurangi produksi limbah.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Meski ada tantangan dalam pengelolaan sampah akibat kenaikan harga BBM, pihak DLH tetap optimis bahwa solusi-solusi inovatif akan terus dikembangkan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, diharapkan pengelolaan sampah di Kota Bandung menjadi lebih berkelanjutan.
Dengan langkah-langkah yang telah diambil, diharapkan anggaran pengangkutan sampah dapat tetap stabil, sehingga layanan lingkungan tetap optimal bagi masyarakat.




