Perdagangan Awal Indeks Bisnis-27 Dibuka Melemah di Tengah Aksi Beli pada Saham Tertentu
Perdagangan awal pada hari Rabu, 4 Maret 2026, menunjukkan tren pelemahan untuk Indeks Bisnis-27. Indeks yang merupakan hasil kolaborasi antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Harian Bisnis Indonesia ini, tercatat dibuka terkoreksi sebesar 0,92% ke posisi 523,80. Dari total 27 saham konstituen indeks, hanya 4 saham yang berhasil mencatatkan penguatan, sementara mayoritas, yaitu 21 saham, mengalami pelemahan, dan 2 saham lainnya stagnan.
Meskipun secara keseluruhan indeks menunjukkan sentimen negatif, beberapa saham unggulan tetap menunjukkan pergerakan positif. PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) memimpin daftar saham yang menguat dengan kenaikan mencapai 1,05%, diperdagangkan pada level Rp1.920. Diikuti oleh PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) yang menguat 0,47% ke Rp2.150, serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang mencatatkan penguatan 0,31% dan ditutup pada harga Rp1.605. PT United Tractors Tbk. (UNTR) juga turut berkontribusi pada penguatan, dengan harga sahamnya naik 0,25% menjadi Rp29.525.
Saham-Saham Unggulan yang Mengalami Koreksi
Di sisi lain, beberapa saham yang sebelumnya menjadi motor penggerak pasar kini justru mengalami tekanan signifikan. PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan koreksi harga saham mencapai 5,21% ke level Rp6.825. Pelemahan juga dialami oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) yang terkoreksi 4,03% ke Rp1.310. Sektor pulp dan kertas juga tidak luput dari sentimen negatif, tercermin dari koreksi harga saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) sebesar 3,93% ke Rp10.400. Sementara itu, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) juga mencatatkan pelemahan 3,29% pada harga Rp2.060.
Kinerja negatif juga terlihat pada saham-saham lain yang memiliki kapitalisasi pasar besar. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) mengalami pelemahan 2,95% dan diperdagangkan pada Rp4.280. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) terkoreksi 2,53% ke Rp1.735. Sektor energi terbarukan juga terpengaruh, dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) melemah 1,83% ke Rp1.070. PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) juga menunjukkan pelemahan 1,82% pada harga Rp1.350.
Lebih lanjut, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) juga menunjukkan performa yang kurang bertenaga, dengan koreksi 1,65% ke Rp2.390. Sektor perbankan yang biasanya menjadi andalan pasar, kali ini juga mengalami tekanan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 1,47% ke Rp5.025. PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) juga tidak luput dari pelemahan, tercatat terkoreksi 1,23% ke Rp1.200. Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) melemah 1,21% pada harga Rp2.440.
Saham Stagnan dan Proyeksi Pasar
Dalam dinamika perdagangan awal ini, terdapat dua saham yang bergerak stagnan, tidak menunjukkan perubahan harga. Keduanya adalah PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) dan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF). Stagnasi ini bisa diartikan sebagai periode konsolidasi atau menunggu katalis baru untuk pergerakan selanjutnya.
Sebelumnya, analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, telah memberikan pandangannya mengenai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini. Beliau memprediksi bahwa IHSG cenderung akan berada di bawah tekanan. Sentimen negatif ini dinilai masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas global, yang secara langsung berdampak pada pasar keuangan.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada penutupan perdagangan sebelumnya tercatat mengalami koreksi sebesar 0,96%, mengakhiri sesi di level 7.939,7. Pelemahan ini diduga kuat masih dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran, yang telah memasuki hari keempat dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih lanjut.
Reza menambahkan, “Saat ini, IHSG diproyeksi masih cenderung tertekan dengan target support terdekat pada level 7885 – 7715, dengan resistance pada level 8000 – 8060. Arah pergerakan pasar dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik antara AS dan Iran, terutama jika eskalasi konflik semakin meluas dan berdampak pada stabilitas pasar energi global.” Pernyataan ini menekankan betapa krusialnya perkembangan situasi geopolitik bagi pergerakan pasar saham di masa mendatang. Investor dihimbau untuk mencermati setiap perkembangan terbaru guna mengambil keputusan investasi yang bijak.





